Yamaha

17 Tahun Mengajar Tanpa Gaji, Asep Marwan Ingin Bentuk Pesantren Mandiri

  Selasa, 03 Desember 2019   Nur Khansa Ranawati
Asep Marwan. (ayobandung.com/Nur Khansa)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM--Selepas sang ayah meninggal dunia, Asep Marwan, warga Kampung Bojongtangkal, Desa Sindangkerta, Kecamatan Sindangkerta, Kabupaten Bandung Barat, harus mengepalai pesantren yang didirikan ayahnya di daerah yang sama. Pesantren yang dinamani Ash-Sholahuddin tersebut beroperasi sejak 1956, dan memiliki visi yang hingga saat ini masih terus diperjuangkan.

"Cita-cita almarhum adalah ingin menghidupi pesantren dengan mandiri dan tidak meminta-minta. Kebutuhan makan dan operasional harus dapat dipenuhi sendiri," ungkapnya ketika ditemui selepas peluncuran program Sahabat Guru Indonesia di kantor Aksi Cepat Tanggap (ACT) Jawa Barat, Jalan Lodaya, Bandung, Selasa (3/12/2019). Untuk itu, dirinya bersama para santri saat ini rutin berjualan produk yang seluruhnya diolah di dalam pesantren.

Produk tersebut adalah  kerupuk lele. Adapun lele-nya dibudidayakan dan diolah di lingkungan pesantren oleh para siswanya. Seluruh siswa memiliki peran menjual produk tersebut untuk memperoleh uang jajan sehari-hari.

"Seluruh santri kami adalah kaum yatim dan dhuafa dari berbagai daerah. Ada yang dari Bogor, Bekasi, ada juga warga sekitar," ungkapnya.

Meski membutuhkan dana, dirinya menanamkan sikap entrepreneurship pada setiap santri agar senantiasa dapat berusaha sebelum memetik hasil. Dana dari hasil tersebut juga digunakan untuk dana operasional pesantren sehari-hari.

"Tapi tetap tidak mencukupi sebenarnya," ungkapnya.

Oleh karenanya, selama 17 tahun mengajar dan mengepalai pesantren tersebut, Asep tidak pernah mendapatkan sepeserpun penghasilan. Begitu pula kesembilan pengajar lainnya yang sama-sama menekuni profesi lain mulai dari pedagang hingga kuli bangunan.

"Jangankan berpikir gaji, justru kita berpikir bagaimana santri bisa makan karena memang seluruhnya kaum dhuafa," ungkapnya.

"Jadi mereka yang mengajar itu murni sebagai relawan saja," tambahnya.

Meski berat, Asep mengatakan, hal yang membuat dirinya terus mempertahankan pesantren tersebut adalah rasa tanggungjawabnya kepada masyarakat terutama masyarakat tidak mampu. Dirinya merasa harus senantiasa mendampingi dan mendidik anak-anak yang tidak memiliki keluarga dan membutuhkan nafkah.

Hal tersebut tak mudah dijalani, mengingat tujuh tahun lalu pun dirinya kehilangan sang anak kedua yang meninggal dunia karena sebuah kecelakaan. Perasaan lebih sibuk mengurus anak orang lain ketimbang anak sendiri sempat menghantuinya.

"Meskipun sempat merasa lelah, tapi ya tidak boleh menyerah. Dengan semangat seperti itu ya alhamdulillah diberi keberkahan dengan para santri yang sholeh," ungkapnya.

Saat ini, dia mengatakan, dana operasional pesantren beberapa kali mendapat donasi dari relawan yang memberikan zakatnya ke pesantren. Untuk bantuan resmi yang difasilitasi pemerintah, dia mengatakan, masih sulit didapatkan karena status pesantren yang dinilai perlu waktu untuk diurus legalitasnya.

"Bantuan pun ya tidak seluruhnya kami terima. Untuk yang memang membantu dengan lillahi ta'ala saja," jelasnya. Prinsip pesantren mandiri yang dijunjung pun menjadikan pihaknya tidak mengandalkan bantuan sebagai sumber pemasukan.

Saat ini, dirinya bersama para santri tengah membangun gedung untuk asrama putri. Seluruhnya dilakukan secara swadaya.

"Mulai dari nge-cor dan nyemen semua dilakukan para santri. Sekarang pembangunannya sudah 40%," ungkapnya. 

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar