Yamaha

Sosialisasi Sesar Lembang Belum Masif

  Senin, 02 Desember 2019   Tri Junari
Sesar Lembang. (istimewa)

LEMBANG, AYOBANDUNG.COM -- Beberapa hasil penelitian para pakar memprakirakan kemungkinan terjadinya gempa besar mengancam masyarakat yang dipicu dari aktivitas Sesar Lembang yang kini sudah memasuki fase pelepasan energi.

Salah satu peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Mudrik R Daryono bahkan pernah menyatakan, jika Sesar Lembang yang membentang sepanjang 29 kilometer dari Lembang hingga Padalarang bisa menghasilkan gempa bumi 6,5-7 magnitudo

Menanggapi hasil penelitian tersebut, pemerintah serta instansi terkait diharapkan merespon dengan lebih aktif lagi memberikan pemahaman tentang potensi gempa besar dari Sesar Lembang, masih banyak masyarakat yang tidak tahu bahaya yang akan ditimbulkan dari bencana tersebut.

"Saya rasa warga Lembang pun masih banyak yang tidak tahu ya soal Sesar Lembang. Sudah ada bukti empiris kalau sesar ini bergerak, lalu LIPI juga kan sudah punya data," kata Ketua DPRD Kabupaten Bandung Barat, Rismanto, Senin (2/12/2019).

Diakui Rismanto, pemerintah daerah sudah melakukan langkah tepat dalam mewaspadai potensi gempa Sesar Lembang seperti dengan penguatan kurikulum bencana, membentuk desa siaga bencana, pemasangan rambu-rambu hingga simulasi gempa ke sekolah-sekolah.

AYO BACA : Antisipasi Sesar Lembang, BPBD KBB Pasang Alat Deteksi Gempa

Tetapi, lanjut dia, sejauh ini upaya tersebut kurang masif sehingga masih banyak masyarakat yang belum paham dan mengerti apa itu Sesar Lembang.

"Antara ancaman atau potensi bahaya dengan ikhtiar kita masih agak jauh, tetapi sudah ada. Kedua, saya rasa baiknya sosialisasi jangan hanya melibatkan pemerintah atau secara struktural saja dari RT, RW, desa, tapi juga melibatkan media massa, LSM, perguruan tinggi, peneliti," ucapnya.

Menurutnya, sosialisasi harus segera dilakukan dan tidak ditunda-tunda karena ancaman gempa Sesar Lembang tidak bisa diramalkan kapan akan terjadi.

"Tidak boleh boleh berlarut-larut, karena bencana ini bisa kapan pun terjadi, sangat tidak terduga. Isu-isu lingkungan itu harus diangkat karena banyak ancaman disitu, ini yang saya lihat di Bandung Barat, masih serba terbatas," tuturnya.

Merespon ancaman gempa Sesar Lembang, Badan Penaggulangan Bencana Daerah (BPDB) Bandung Barat telah menyusun dokumen Rencana dan Konsep (Renkon) yang difasilitasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

AYO BACA : Potensi Gempa Sesar Lembang Capai 7 Skala Richter? Ini Penjelasan PVMBG

"Dokumen Renkon ini berisi skenario yang harus dilakukan ketika gempa akibat Sesar Lembang terjadi, nanti semuanya akan tergambarkan dalam dokumen Renkon," ungkap Kepala Pelakasana BPBD Bandung Barat, Duddy Prabowo.

Selain itu, BPBD juga sudah menganjurkan kepada masyarakat yang tinggal di sekitar Sesar Lembang agar membangun rumah yang struktur bangunannya kuat atau tahan gempa.

Berdasarkan pemetaan, diperkirakan ada lima kecamatan yang paling terdampak gempa Sesar Lembang, mulai dari Kecamatan Lembang, Parongpong, Cisarua, Ngamprah dan Padalarang.

"Masyarakat sekitar Sesar Lembang harus memperhatikan kondisi struktur bangunan yang sesuai dan layak atau yang tahan gempa," ujar Kepala Seksi Kesiapsiagaan BPBD Jabar, Adwin Singarimbun.

Dia mengatakan, rumah yang sesuai standar dan tahan gempa itu adalah di dalam tembok rumah harus dipasang besi beton agar strukturnya kuat dan tidak bisa runtuh ketika terjadi gempa akibat Sesar Lembang.

"Sebetulnya hal ini yang paling berat, makanya harus mengetahui dan tanyakan ke ahli, bagaimana dampaknya kalau ada pemukiman yang berada persis di jalur Sesar Lembang," jelasnya.

AYO BACA : LIPKHAS GEMPA: Mitigasi Gempa Minim di Daerah Terdekat Sesar Lembang

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar