Yamaha

KAMI 2019 Cetuskan Sejumlah Rekomendasi untuk Dunia Musik Tanah Air

  Minggu, 24 November 2019   Faqih Rohman Syafei
Konferensi Musik Indonesia (KAMI) 2019 yang digelar di Gedong Budaya Sabilulungan, Soreang, Kabupaten Bandung, Sabtu (23/11/2019). (Ayobandung.com/Istimewa)

SOREANG, AYOBANDUNG.COM -- Konferensi Musik Indonesia (KAMI) 2019 yang digelar di Gedong Budaya Sabilulungan, Soreang, Kabupaten Bandung, Sabtu (23/11/2019) menghasilkan sejumlah poin kesimpulan untuk diberikan kepada tuan rumah guna ditindaklanjuti.

Penggagas KAMI sekaligus musisi ternama tanah air, Glenn Fredly mengatakan, penyerahan hasil konferensi ini sebagai tindak lanjut dari janji Bupati Bandung dan Gubernur Jabar untuk menyebarkan hasil konferensi kepada para koleganya di kabupaten/kota maupun provinsi lain.

Glenn mengharapkan melalui konferensi ini, semua elemen yang berkecimpung dalam industri musik dapat terus bekerja bersama untuk memajukan ekosistem musik sehingga tujuan dari strategi kebudayaan yakni Indonesia bahagia bisa tercapai.

AYO BACA : Fest to Fest 2019, Penyalur Kebebasan Berekspresi dalam Seni

"Semoga yang kita hasilkan hari ini dapat mendorong perbaikan ekosistem industri musik di tingkat Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat, hingga Indonesia," ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima Ayobandung.com, Minggu (24/11/2019).

Menurutnya, gelaran konferensi yang kedua belum cukup membahas semua tantangan serta masa depan industri musik. Namun konferensi ini adalah pemantik untuk rangkaian diskusi bulanan yang akan KAMI adakan mulai Januari 2020.

"KAMI memfasilitasi kolaborasi para pegiat musik untuk mengevaluasi dan mewujudkan poin-poin yang tertuang dalam 12 rencana aksi yang terumus tahun lalu," katanya.

AYO BACA : KAMI Sinergikan Pelaku Industri Musik dengan Pemerintah, Swasta, dan Masyarakat

Dalam konferensi ini, terdapat tiga sesi diskusi. Sesi pertama, membahas tentang urgensi pembentukan serikat pekerja musik dan peranannya.

Kemudian, pada sesi kedua mendiskusikan terkait royalti bagi musisi, serta sosialisasi dan peran Undang-undang Ekonomi Kreatif tentang royalti. Dan, sesi ketiga akan membahas soal membangun kota musik.

Hasil dari ketiga sesi diskusi tersebut, menghasilkan sejumlah poin-poin bahasan di antaranya :

1. Sesi Pekerja Musik Berserikat.
a. Perlu dibentuk Serikat Pekerja Musik yang bisa memperjuangkan nasib musisi, terutama dari sisi ketenagakerjaan, standar imbalan finansial bagi pekerja musik, dan mengatasi masalah diskriminasi gender maupun kekerasan seksual di skena musik.
b. Serikat Pekerja Musik juga bisa jadi mitra pemerintah dalam memberi masukan bagi kebijakan terkait musik.
c. Ada banyak jenis musisi, seperti musisi industri, independen, tradisional, kafe, dan jalanan. Mereka bisa membentuk serikat pekerja musik masing-masing dengan isu advokasi masing-masing, lalu ada konfederasinya untuk advokasi ke tingkat pusat.
d. Serikat Pekerja Musik harus transparan dan mudah diakses, dengan aturan jelas dan mengikuti regulasi yang berlaku. Serikat juga harus sensitif gender dan punya kebijakan afirmatif untuk mendorong perempuan ikut terlibat aktif di dalamnya.

2. Sesi Panen Royalti dan Sosialisasi UU Ekonomi Kreatif.
a. Portamento, sistem informasi terpadu untuk hak cipta lagu, akan memasuki tahap development tahun depan. Karena melibatkan banyak kementerian dan juga harus bernegosiasi dengan pihak luar negeri, pembangunan sistem ini akan perlu waktu beberapa tahun. KAMI akan terus memantaunya.
b. Musisi perlu menjadi anggota Lembaga Manajemen Kolektif (LMK) agar bisa mendapatkan hak royaltinya dengan lebih sistematis.
c. Perlu lebih banyak terobosan dalam penyaluran apresiasi dan royalti kepada musisi.
d. Ada empat Peraturan Pemerintah turunan Undang-undang Ekonomi Kreatif yang perlu dikawal agar sesuai dengan kebutuhan industri musik. Empat PP ini mengatur skema pembiayaan dan pemasaran berbasis kekayaan intelektual, juga rencana induk dan kelembagaan ekonomi kreatif.
e. Musisi harus bisa mengikuti kemajuan teknologi informasi, misal punya metadata, juga mendokumentasikan karyanya di LMK, music publisher, dan agregator.

3. Sesi Membangun Kota Musik.
a. Konsekuensi bagi kota musik adalah memastikan musik betul-betul jadi nafas pembangunan di kotanya.
b. Sebagai Kota Musik, Ambon harus memiliki peta jalan dan leadership dalam menghidupkan dirinya sebagai kota musik serta memberi manfaat bagi warganya.
c. Perlu ada pemetaan dan pendataan ekosistem musik di kota-kota musik secara komprehensif.
d. Perlu ada infrastruktur ruang publik untuk bermusik.
e. Dalam daftar UNESCO Creative Cities, ada Bandung sebagai Kota Desain dan Ambon sebagai Kota Musik. Kedua kota ini perlu menjalin kerja sama, misal jadi sister cities, untuk saling memajukan dan bertukar kreativitas.

AYO BACA : Fiersa Besari Vakum Manggung Tahun Depan

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar