Yamaha NMax

Kisah Bung Karno Diadili di Gedung Indonesia Menggugat Bandung

  Jumat, 22 November 2019   Nur Khansa Ranawati
Gedung Indonesia Menggugat. (Dok. Ayobandung.com)

SUMUR BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Gedung Indonesia Menggugat (GIM) Bandung yang terletak di Jalan Perintis Kemerdekaan Nomor 5, Kota Bandung, menyimpan banyak sejarah di dalamnya.

Bukan hanya bentuk bangunannya yang 'jadul' dan kental dengan nuansa arsitektur kolonial Belanda, namun juga cerita yang terjadi di dalamnya punya ruang besar dalam catatan sejarah Indonesia.

Awalnya, gedung yang saat ini dominan bercat putih dan cokelat tua tersebut merupakan tempat tinggal warga negara Belanda di era 1907-an. Satu dasawarsa kemudian, bangunan rumah tinggal ini beralih fungsi menjadi gedung pengadilan pemerintahan kolonial Belanda yang disebut "Landaard".

Di sinilah Soekarno dan ketiga rekannya di Partai Nasional Indonesia (PNI) diadili.

Pengadilan yang menyeret nama Bung Karno dan Gatot Mangkupradja, Maskun Sumadireja dan Supriadinata tersebut terjadi pada pertengahan hingga akhir tahun 1930. Berdasarkan keterangan yang ditulis Her Suganda dalam bukunya Jejak Soekarno di Bandung, keempatnya didakwa telah melanggar pasal 153 bis, 169, dan pasal 171 Kitab Undang-undang Hukum Pidana Hindia Belanda.

AYO BACA : Taman Renungan Bung Karno Akan Direnovasi, Ini Alasannya

Hal tersebut secara umum berkenaan dengan aksi dan perbuatan dalam berbicara atau menulis yang menganjurkan anggotanya untuk menyerang pemerintahan kolonial Belanda dan berpotensi "membuat kekacauan di masyarakat".

Persidangan berlangsung selama kurang lebih 20 kali setiap Senin-Kamis sejak 18 Agustus hingga 22 Desember 1930. Keempatnya setelah itu sempat ditahan sebelum akhirnya menyampaikan pembelaan.

Jalannya seluruh rangkaian persidangan tersebut dilangsungkan di sebuah kamar kecil berukuran sekitar 3x5 meter. Hingga saat ini, pengunjung GIM masih dapat melihat tata ruang sidang tersebut dengan meja hakim, jaksa dan kursi para peserta sidang sesuai dengan yang digunakan kala itu.

Sidang pembacaan nota pembelaan (pledoi) Bung Karno dan ketiga rekannya mengundang banyak simpati dari masyarakat yang berduyun-duyun menghadiri Landraad sejak pukul 8 pagi. Bung Karno telah menghabiskan banyak waktu dan pikiran untuk menuliskan draft pembelaan tersebut dengan fasilitas alakadarnya di dalam sel nomor 5 penjara Banceuy.

Bahkan, Bung Karno juga pernah menuturkan kepedihannya selama menulis pledoi tersebut kepada Cindy Adams, penulis biografi Soekarno bertitel Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

AYO BACA : Tanggal Wafat Empat Presiden Indonesia

Dia mengatakan terpaksa harus menulis di atas kaleng tempat membuang hajat kecil dan besar yang dialasi karton sebagai pengganti meja.

Dari sanalah kemudian lahir pidato pembelaannya yang terkenal, yang diberi judul Indonesia Menggugat (Indonesie klaagt aan). Nama ini pulalah yang menjadi latar belakang penamaan gedung Landraad kemudian menjadi GIM.

Pagi saat Bung Karno membacakan pledoi tersebut dikatakan penuh ketegangan. Meski demikian, Bung Karno disebut mampu "menguasai panggung" dengan tiap kalimat yang dibacakannya dengan lantang.

Tuduhan 'akan menjatuhkan pemerintahan Hindia Belanda' ditampik dengan sebab 'melawan kapitalisme dan imperialisme'. Bung Karno juga menyebut bagaimana penerapan kedua sistem tersebut oleh pemerintah Hindia Belanda terhadap penduduk pribumi berdampak pada kekayaan alam yang habis tereksploitasi juga para warga yang melarat. Sehingga, pemberontakan di banyak tempat menjadi tak terhindarkan.

Pada bagian akhir, Bung Karno juga menyatakan bahwa isi pembelaannya hari itu tidak tersekat ruang. Namun juga dapat didengar sampai ke seluruh Nusantara, karena apa yang disampaikannya dinilai sama dengan suara masyarakat pribumi.

Meski demikian, pledoinya yang fenomenal tersebut agaknya tidak menyurutkan keinginan majelis hakim untuk menjatuhkan hukuman. Para hakim kemudian menyusun vonis setebal 66 halaman.

Isinya menyatakan bahwa Bung Karno mendapat hukuman penjara 4 tahun, Gatot Mangkupradja 2 tahun, Maskun Sumadiredja 1 tahun 8 bulan dan Supriadinata 1 tahun 3 bulan dipotong masa tahanan. Mereka, kecuali Supriadinata yang langsung bebas, pada akhirnya harus menyecap lantai dingin penjara Sukamiskin. 

AYO BACA : Ciri Khas "Wuwungan" dan Pewayangan dalam Desain Arsitektur Soekarno

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar