Yamaha NMax

Glenn Fredly Gelar Konferensi Musik di Bandung, Catat Tanggal Mainnya!

  Rabu, 20 November 2019   Aprilia Rahapit
Nadia Yustina (Direktur Amity Asia Agency, anggota Koalisi Seni), Glenn Fredly (penggagas Kami Musik Indonesia, anggota Koalisi Seni), dan Judhi M. Basoeki (Project Manager KAMI Dyandra Promosindo)/Public Relation KAMI. (Ayojakarta.com/Aprilia Rahapit)

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM -- Setelah sukses diadakan untuk pertama kalinya di Ambon pada tahun lalu, Konferensi Musik Indonesia kini kembali digelar. Kali ini, konferensi akan diselenggarakan di Gedung Budaya Sabilulungan, Kabupaten Bandung, pada Minggu (23/11/2019). 

Selain menyelenggarakan konferensi musik, ada juga penampil pada festival musik yang datang dari beragam genre, yakni Petra Sihombing, Parkdrive, Marcello Tahitoe, The Hydrant, Tuan Tiga Belas, Yura Yunita, Karinding Attack, Institut Musik Jalanan, dan Kafin Sulthan. 

Menariknya, berkat dukungan para sponsor, rangkaian konferensi dan festival ini tidak memungut bayaran alias gratis. Peserta hanya perlu mendaftar via loket.com/event/kami2019 selambatnya 22 November 2019. 

Penggagas Kami Musik Indonesia (KAMI) Glenn Fredly mengatakan, penyelenggaraan konferensi Musik Indonesia digelar untuk tata kelola industri musik yang lebih adil dan berkelanjutan. 

“Musik berjasa besar karena menemani kita dalam beragam momen. Sayangnya, belum semua pegiat musik di negeri ini mendapatkan perlakuan adil dan bisa berkarya secara berkelanjutan,” ujar Glenn Fredly, saat jumpa pers di M Bloc Space, Jakarta Selatan, Selasa (19/11). 

Pada konferensi pers tahun lalu, yang mempertemukan sejumlah aktor penting industri musik telah mengidentifikasi berbagai tantangan, antara lain lemahnya mekanisme pengumpulan royalti karena belum ada basis data andal untuk mengklaim hak musisi. 

AYO BACA : Glenn Fredly Menikah, Edo Kondologit Bersyukur

Adapun kontrak kerja antara para pegiat musik – label, musisi, manajemen musisi, dan music publishing belum didasari relasi kuasa berimbang, sehingga rentan merugikan pihak yang ada di posisi lemah. Masih ada pula diskriminasi gender dalam penentuan honor musisi dan pemilihan musisi, serta kekerasan dan pelecehan seksual di ruang-ruang bermusik.

Pendiri booking agency Amity Asia Agency sekaligus anggota Koalisi Seni Nadia Yustina menambahkan, industri musik di Indonesia relatif masih terpusat di Jakarta. 

"Musisi menganggap harus ke Jakarta untuk jadi sukses. Padahal banyak kota lain yang punya potensi besar, tapi ekosistem musik lokalnya belum memadai karena tidak ada label, promotor, distributor, dan aktor pendukung lainnya. Misalnya, Jogja punya ciri khas lirik yang kuat dan Garut ada skena musik metal yang hidup,” paparnya.

Oleh karena itu, para pemangku kepentingan sektor musik perlu kembali bertemu, mengerahkan aset masing-masing, dan bekerja sama mengatasi tantangan-tantangan tersebut.

Seperti diketahui, pada 2018, konferensi ini diselenggarakan KAMI bersama Yayasan Ruma Beta, Koalisi Seni, dan Dyandra Promosindo. yang diharapkan konferensi kali ini mampu menciptakan industri musik semakin adil dan berkelanjutan. Sebagai bagian dari ekosistem musik.

"Dyandra juga ingin berperan dalam upaya bersama memperbaiki tata kelola industri ini,” ujar Judhi M. Basoeki selaku Project Manager KAMI Dyandra Promosindo.

Untuk diketahui, ada tiga sesi diskusi dalam konferensi ini, yakni Pekerja Musik Berserikat, Panen Royalti dan Peran Undang-Undang Ekonomi Kreatif, serta Membangun Kota Musik. Dalam ketiga sesi itu, para pegiat musik akan dipertemukan dengan pemerintah, pengusaha, dan penikmat musik.

AYO BACA : Glenn Fredly Bahagia Sang Istri Dukung Pekerjaannya

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar