Yamaha

Rentan Terjadi Kecelakaan, Ini Pentingnya K3 di Laboratorium

  Selasa, 19 November 2019   Netizen Yustria Zilfa Dhia Rahma, Mahasiswa Universitas Padjadjaran
[Ilustrasi] Laboratorium. (Pixabay/Michal Jarmoluk)

Laboratorium merupakan tempat untuk melangsungkan kegiatan penelitian ilmiah. Sebagai tempat penelitian tentunya tidak jauh-jauh dari berbagai bahan kimia dan peralatan penelitian berbahan dasar kaca seperti labu ukur, tabung reaksi, plat tetes, mortar, alu, serta perlengkapan khusus lain yang dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan kerja apabila penggunaannya kurang cermat.

Kecelakaan kerja juga dapat terjadi akibat perilaku sembrono pada saat bekerja yang dapat menyiderai laboran serta orang disekitarnya.

Adapun data dari OSHA (Occupational Safety and Health Administration) membuktikan jika hampir sepuluh ribu kasus kecelakaan (accident) terjadi di laboratorium penelitian, yang melukai 2 dari 100 ilmuan.

Oleh karena itu, sangatlah pantas untuk kita memerhatikan keselamatan bekerja pada laboratorium sebagai upaya pencegahan terjadinya kecelakaan kerja.

Upaya tersebut dilakukan dengan cara memupuk dan menumbuhkan kesadaran akan pentingnya Keselamatan dan Kesehatan Kerja di laboratorium. Risiko kecelakaan kerja dan terjaminnya keselamatan laboran pada laboratorium dapat dikurangi dengan penerapan Kesehatan dan Keselamatan kerja.

Dalam kegiatan penelitian ilmiah di laboratorium, semua pihak harus menyadari bahwa setiap kegiatan tersebut mempunyai potensi bahaya yang menimbulkan dampak lingkungan.

Sehingga atas bahaya tersebut, aspek Kesehatan dan Keselamatan Kerja di laboratorium penting untuk dipelajari dan diterapkan (Jerussalem, Khayati 2010). Keamanan kerja di laboratorium perlu diinformasikan dengan baik kepada para laboran untuk mengenali sumber bahaya, akibat yang ditimbulkan dan cara pengendalian atas sumber bahaya tersebut. Keamanan kerja di laboratorium diatur dalam Undang–undang No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, Undang–undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan Undang-undang nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan.

Sebelum melaksanakan penelitian, laboran harus memerhatikan prosedur keselamatan kerja di laboratorium dengan baik. Prosedur keselamatan kerja di laboratorium diawali dengan memahami aturan keselamatan kerja.

Aturan keselamatan kerja yang pertama adalah tidak memperbolehkan pihak yang tak berkepentingan untuk memasuki ruangan laboratorium dengan tujuan mencegah hal yang tidak diinginkan.

Kemudian, sebelum melakukan uji ilmiah, laboran harus paham dan kenal tentang bahaya bahan kimia, alat-alat dan cara pemakaiannya.

Selanjutnya, laboran harus mengenali cara penggunaan alat emergensi seperti alat apar, eye shower, respirator dan alat keselamatan lainnya sehingga dapat memudahkan melakukan pertolongan saat terjadi kecelakaan kerja di laboratorium.

Terakhir, laboran dilarang makan, minum, merokok, dan terlalu banyak bicara ketika sedang melakukan uji ilmiah serta dianjurkan untuk menjauhkan alat-alat yang tak dibutuhkan dari meja kerja seperti tas, telepon genggam dan benda lain yang berpotensi menimbulkan risiko kecelakaan.

Setelah memahami aturan keselamatan kerja, pada tahap selanjutnya laboran dituntut untuk menaati ketentuan berpakaian di laboratorium. Laboran harus menggunakan kelengkapan kerja seperti kacamata pengaman, sarung tangan, jas laboratorium, sepatu safety tertutup, dilarang memakai perhiasan yang bisa rusak bila terkena bahan kimia, dilarang memakai sandal dan/atau sepatu berhak tinggi, serta diharuskan untuk mengikat rambut baik wanita maupun pria yang berambut panjang.

Prosedur keselamatan kerja selanjutnya adalah cara bekerja yang aman dengan bahan kimia. Adapun cara pertama yang harus diperhatikan adalah hindari kontak langsung dan menghirup uap bahan kimia.

Kedua, mampu mengenali bahan kimia jenis B3 yakni berbau, berbahaya, beracun. Ketiga, dilarang mencoba atau mengindra bahan kimia kecuali ada perintah khusus atau cukup dengan mengkibaskan kearah hidung.

Terakhir, perlu kehati-hatian lebih dalam memindahkan atau memanaskan bahan kimia karena dapat bereaksi langsung pada kulit yang dapat  menimbulkan iritasi, pedih dan gatal.

Selain bahan kimia, peralatan laboratorium pun dapat berpotensi atas terjadinya kecelakaan kerja bila cara penggunaannya tidak tepat. Oleh karena itu, penting bagi laboran untuk memerhatikan cara kerja yang aman seperti harus memegang botol reagen dengan cara bagian label tepat berada di telapak tangan.

Selanjutnya, manakala hendak memasang gelas pada prop-karet harus memakai sarung tangan dan ketika hendak menggunakan pembakar spritus, laboran harus hati-hati agar spirtus yang telah dipanaskan tidak tumpah ke meja. Terakhir, bilamana akan melakukan pengenceran asam sulfat pekat, maka asam sulfatlah yang harus dituang sedikit demi sedikit dalam air dan bukan sebaliknya.

Prosedur terakhir dalam keselamatan kerja di laboratorium adalah cara pembuangan limbah. Selepas melaksanakan uji ilmiah atau eksperimen, limbah bahan kimia yang digunakan harus dibuang pada tempat yang sudah disediakan.

Tidak dianjurkan untuk membuang limbah secara langsung ke pembuangan air kotor karena dapat mencemari lingkungan. Limbah zat organik akan didaur ulang, oleh karenanya harus dibuang secara terpisah pada tempat yang disediakan. Limbah padat wajib dibuang secara terpisah karena dapat mengakibatkan penyumbatan, sedangkan limbah cair yang tidak berbahaya boleh langsung dibuang ke pembuangan air kotor setelah diencerkan menggunakan air terlebih dahulu. 

Akan hal terjadinya sebuah kecelakaan kerja seperti terkena bahan kimia atau kebakaran, maka laboran harus mampu melakukan penanggulangan keadaan darurat.

Penanggulangan darurat jika terkena bahan kimia dilakukan dengan cara mencuci bagian yang terpapar langsung dengan bahan kimia menggunakan air, tidak diperbolehkan menggaruk bagian kulit yang terpapar bahan kimia, bawa laboran atau pekerja ke ruangan yang cukup  oksigen, dan segera hubungi paramedik. Sedangkan penanggulangan darurat jika terjadi kebakaran dilakukan dengan cara segera mengambil tabung gas CO2 sekiranya api masih mungkin untuk dipadamkan, tidak dianjurkan untuk mengirup asap secara langsung, segera menutup pintu untuk menahan api semakin besar, evakuasikan diri menggunakan tangga darurat dan segera hubungi pemadam kebakaran.

Berdasarkan pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan penelitian di laboratorium harus memerhatikan Keselematan dan Kesehatan Kerja agar dapat mengurangi risiko terjadinya kecelakaan kerja.

Upaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja tersebut harus didukung oleh prosedur kerja baik dan diikuti oleh seluruh laboran. Prosedur kerja di laboratorium dimulai dari pemahaman akan peraturan keselamatan kerja, menaati ketentuan berpakaian, menjalankan prosedur cara bekerja aman dengan bahan kimia dan peralatan laboratorium, serta ketentuan cara pembuangan limbah yang baik. Selain prosedur keselamatan kerja, laboran atau pekerja juga dihimbau untuk bisa melakukan penanggulangan keadaan darurat jika sewaktu-waktu terjadi kecelakaan kerja.

Melalui pemahaman akan Keselamatan dan Kesehatan Kerja tersebut akan sangat bermanfaat bagi setiap individu khususnya bagi para laboran agar dapat mengurangi risiko kecelakaan kerja sehingga dapat menciptakan keselamatan, keamanan dan kenyamanan kerja di laboratorium yang pada akhirnya dapat mendukung tercapainya kualitas kerja yang produktif.

Yustria Zilfa Dhia Rahma, Mahasiswa Universitas Padjadjaran

 

Netizen :

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar