Yamaha

Benarkah Perang Hibrida Jatuhkan Presiden Bolivia Evo Morales?

  Senin, 18 November 2019   Netizen netizen
Bolivia

Setelah 14 tahun berkuasa, Presiden Bolivia Evo Morales, wakilnya Álvaro García Linera dan sejumlah rekannya, pergi ke Meksiko pada 11 November 2019, untuk mencari suaka politik. Kepergiannya itu pantas dikaji karena dia dituduh tidak demokratis serta menerapkan Kolusi, Korupsi dan Nepotisme (KKN). Sejumlah tuduhan yang juga pernah dipakai menjatuhkan para pemimpin di negara-negara lain.

Kesamaan itu sangat menarik. Presiden Soeharto jatuh antara lain karena tuduhan-tuduhan itu plus saran IMF agar pemerintah memperketat anggaran belanja dan menaikkan tingkat sukubunga. Saran yang malah mencekik rakyat dan melemahkan dunia bisnis.

Dipilih Kembali

Morales sebenarnya terpilih kembali menjadi presiden untuk keempat kalinya pada 20 Oktober 2019. Kemenangan terjadi menyusul keputusan Mahkamah Konstitusi menghapus peraturan yang melarang Presiden Morales memperpanjang masa jabatan.

Selain menentang keputusan MK, oposan, Carlos Mesa, mengklaim telah terjadi kecurangan dan tidak mengakui kemenangan Morales. Padahal suara yang diperoleh Morales melampaui perolehan suara Carlos Mesa dan calon lain, Chi Hyun Chung, sekalipun bila suara Mesa dan Chung digabung.

Tidak ada bukti kecurangan dalam Pilpres. Tampaknya isyu tersebut mirip dengan keberatan AS terhadap pengganti Hugo Chaves yakni Nicolas Maduro. Maduro bukan pilihan Washington.

Kerusuhan pecah di berbagai kota antara penentang dan pendukung Presiden Morales hingga mengganggu kestabilan politik, keamanan dan perekonomian. Militer dan polisi belakangan mendukung gerakan anti pemerintah.

Perang Hibrida

Kalangan analis menyatakan kerusuhan itu tidak lain dari perang hibrida yang merupakan campuran perang kovensional, perang iregular dan perang siber. Disebut perang hibrida karena berciri (1) menuduh pemerintah melakukan kesalahan, (2) adanya mobilisasi massa untuk menimbulkan kekacauan. (3) membentuk grup moderat yang ‘masuk’ ke dalam instansi-instansi pemerintah guna menciptakan perpecahan. Kemudian (4) meyakinkan angkatan bersenjata supaya tidak mematuhi kesetiaan kepada UUD serta melawan pemerintah dan rakyat. Yang menarik siapa yang ‘bermain’ dalam perang hibrida ini tidak diketahui.

Keempat poin itu seringkali berlangsung secara serentak. Tak jarang ditambah dengan penerapan sanksi untuk menciptakan kelangkaan dan pembatasan-pembatasan di bidang ekonomi. Hal tersebut menimbulkan kesulitan-kesulitan di kalangan penduduk dan akhirnya menggerogoti legitimasi presiden.

Selain Carlos Mesa, jutawan Luis Fernando Camacho, pemimpin sayap kanan, muncul dan mengaku mendapat dukungan dari gerakan oposisi Kolombia, Brasil dan Venezuela. Dia berasal dari kawasan Santa Cruz, di mana Amerika Serikat disebut mendukung gerakan separatis.

Camacho, yang memimpin gerakan Union Juvenil Crucenista, pernah tercantum sebagai salah satu investor Panama Papers. Keluarganya memperoleh keuntungan dari pengelolaan cadangan gas alam, tetapi diambil alih pemerintah Morales. Pemerintah memanfaatkannya untuk membiayai berbagai program sosial guna memberantas kemiskinan. Hasilnya kesejahteraan rakyat naik 42 hingga 60 persen.

Pihak militer dan kepolisian membiarkan para penentang pemerintah berdemo. Dalam konteks ini ada keyakinan militer dan kepolisian melakukan kudeta sebab mendorong Morales mengundurkan diri.
Apalagi sebelum 10 November, Panglima Angkatan Bersenjata Willian Kaiman menyatakan, kami menyarankan presiden supaya mengundurkan diri agar memungkinkan terciptanya perdamaian demi terpeliharanya stabilitas di Bolivia.

Penggulingan Morales dikecam Presiden Nicolas Maduro, Presiden Argentina Alberto Fernandez, dan bekas Presiden Brazil Luiz Inacio Lula da Silva. Menurut da Silva, sangat disayangkan Amerika Selatan memiliki elit keuangan yang tidak tahu bagaimana mematuhi demokrasi dan secara sosial membantu rakyat miskin.

Pribumi Asli

Evo Morales pertama kali terpilih pada Pilpres Desember 2005 dan menjadi Presiden sebulan kemudian. Ia adalah penduduk asli pertama yang memegang pucuk pimpinan tertinggi sejak sejak 470 tahun lalu. Sebelumnya posisi puncak selalu dikuasai kalangan menengah keturunan penjajah Spanyol.

Morales merupakan pribumi dari suku Indian Aymara. Kemenangannya merupakan bagian dari revolusi merah jambu yang melanda Amerika Selatan. Di Ekuador ada Rafael Vicente Correa Delgado, Cristina Nestor Kirchner dan Fernandez de Kirchner dari Argentina, da Silva (Brasil), Manuel Zelaya(Honduras) dan Daniel Ortega (Nikaragua), Fernando Lugo (Paraguay) dan Hugo Chaves. Semua menentang kebijaksanaan ekonomi neo liberal dan imperialisme Amerika Serikat.

Morales juga menentang intervensi Amerika Serikat ke Venezuela, berulangkali mengecam blokade AS atas Kuba, menentang kudeta militer yang didukung AS di Honduras dan membela klaim Argentina atas Kepulauan Malvina (Falkland).

Morales bergabung dengan kelompok La Alianza Bolivariana para los Pueblos de Nuestra América ( ALBA) yang diprakarsai almarhum Presiden Hugo Chaves dari Venezuela. Dia juga mendukung integrasi kawasan mengeluarkan AS dan menyebut Kemitraan Trans Pasifik (KTP) sebagai proyek neo liberal.

Keanggotaan ALBA tinggal Bolivia, Guyana, Suriname, Uruguay dan Venezuela. Tujuh anggota lainnya, Argentina, Brasil, Kolombia, Chili, Ekuador, Peru dan Paraguay, keluar dan membentuk Forum bagi Kemajuan Amerika Selatan (PROSUR) pada Maret 2019. Tujuannya mengikuti agenda Sayap Kanan seperti mendukung langkah-langkah penghematan dan hubungan yang lebih erat dengan Washington. Pergantian haluan itu menyusul serangkaian kudeta atau Pilpres yang dimenangkan sayap kanan.

Dalam kalimat perpisahannya, Morales menyatakan dosa saya adalah menjadi penduduk pribumi, ketua serikat buruh dan pendukung petani koka. Saya berharap pengunduran diri ini akan mengurangi ketegangan dan mewujudkan ketenangan.

Sebenarnya Morales melupakan pula, doktrin Thomas Woodrow Wilson, Presiden AS ke 28, bahwa Amerika Selatan adalah halaman belakang Amerika Serikat yang tidak boleh diganggu gugat.

Selama memerintah, Morales memberdayakan penduduk asli. Berhasil menurunkan angka kemiskinan. Perekonomian tumbuh berkat ekspor gas dari ladang yang dinasionalisasi pemerintah.

Namun dalam dua tahun terakhir pertumbuhan ekonomi merosot dan utang naik dari 38 menjadi 53% pada tahun ini. Cadangan devisa tinggal separuh akibat kurs matauang Bolivia, Boliviano, yang artifisial terhadap dolar AS.

Pelemahan ekonomi itu dan keinginannya untuk menjabat lebih lama menjadi bahan bakar bagi penentangnya. Kalau saja Evo Morales tak lagi mencalonkan diri, maka ceritanya akan lain.

Tetapi satu yang tidak berubah adalah kecintaan terhadap negara dan rakyatnya. Dari Meksiko ia berkata, "Saya tidak akan mengikuti Pemilu baru demi kestabilan dan ketenangan".

Farid Khalidi

Netizen :

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar