Yamaha

Pembobolan BRI, Ekonom Sebut Fraud Bisa dari Internal

  Kamis, 14 November 2019   Faqih Rohman Syafei
Logo Bank BRI. (istimewa)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM--Kasus pembobolan dana nasabah oleh oknum pejabat internal di sektor perbankan belakangan ini menyita perhatian publik, seperti di Bank BRI KCP Tambun Bekasi.

Kasus pembobolan sebesar Rp13,8 miliar itu diduga dilakukan Asisten Manajer Operasional dan Layanan (Amol) Ermansyah Putra. Sebagian dana tersebut sebesar Rp1,7 miliar telah dikembalikan Ermansyah.

Atas perbuatannya, Ermansyah didakwa Majelis Hakim Pengadilan Tipikor PN Bandung dengan pasal berlapis dan diancam dengan hukuman 20 tahun kurungan penjara.

Menanggapi hal tersebut, Ekonom muda Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Bandung Koordinator Jawa Barat, Aditia Febriansyah menilai bank manapun memiliki potensi dirugikan pihak internal.

"Tidak bisa dipungkiri, di perbankan itu ada namanya aksi fraud yang merugikan perbankan itu sendiri, yang bersumber dari dalam," ujarnya saat dihubungi Ayobandung.com, Kamis (14/11/2019).

AYO BACA : Pembobolan Kas BRI Bekasi, Diduga Ada Keterlibatan Internal

Kendati demikian, kata dia, fungsi pengawasan di setiap bank sudah berjalan. Bahkan pengawasannya dilakukan secara berlapis dengan melibatkan pihak internal maupun eksternal.

Terbukti dari beberapa kasus belakangan ini, hanya memerlukan waktu singkat untuk mengungkapnya. Namun ke depannya pengawasan industri jasa keuangan perlu diperkuat kembali agar kasus serupa dapat berkurang.

"Ini (pengawasan) sudah berjalan cukup baik, ke depannya harus didorong agar jasa keuangan bisa memperkuat fungsi pengawasan supervisinya dan bisa terus bersinergi supervisi di internal dan ekternal," katanya.

"Banyak ketahuan ini, bukan berarti banyak juga malingnya tapi langkah cepat perbankan untuk menjaga dana nasabah yang ada di pihak mereka," tutur Aditia.

Menurutnya, kasus-kasus semacam ini tidak menimbulkan presenden negatif terhadap citra bank tersebut. Namun sebaliknya, jika dilakukan secara masif dan melibatkan ribuan akun rekening nasabah akan berdampak buruk.

AYO BACA : Bobol Kas Bank BRI Rp13,8 Miliar, Ermansyah Putra Terancam 20 Tahun Penjara

"Dana nasabahnya itu aman tidak ada masalah jika ada pembobolan yang dilakukan internal. Nasabah bisa buktikan dengan catatan yang mereka punya dan langsung diselesaikan saat itu juga," ucapnya.

Terkait adanya dugaan pihak internal BRI KCP Tambun Bekasi lainnya ikut terlibat, Aditia menilai harus ada pembuktian berdasarkan bukti-bukti di persidangan. Sehingga benang merahnya dapat terungkap secara gamblang.

"Kalau tidak sendiri cari saja siapa yang terlibat pasti ada, karena setiap tindakan di perbankan ada spesimen ada pengesahan atau pengawas atasnya. Kalau memang di bobol dari atas ke bawah tinggal dibuktikan saja," katanya.

Menurutnya, jika aksi tersebut dilakukan sendiri oleh Amol akan langsung diketahui atasannya atau satu tingkat di atasnya. Pasalnya setiap langkah di perbankan membutuhkan pengesahan di setiap jenjangnya.

"Kalau atasannya tidak terlibat, bisa buktikan sendiri tidak terlibat. Walaupun bisa dikatakan, jika terjadi seperti itu atasanya harus ikut tanggung jawab di area ruang lingkup kerja mereka," katanya.

Aditia menambahkan BRI merupakan salah satu bank yang mendapatkan rapor baik, karena sudah mengikuti standar dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Bahkan, BRI menjadi contoh leading banking salah satu dari Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).

"Karena kita tahu, BRI sudah ikuti standar OJK. Saya pikir itu sudah lebih dari cukup karena di dalam perbankan kita ikuti ketentuan yang ada. Dengan niatan menjaga dana nasabah, selama prinsip itu dijalankan dan good governance jalan, fungsi pengawasan jalan, kepatutannya juga dilakukan baik," katanya.

AYO BACA : Kasus Pembobolan BNI 46 Bukti Manajemen Risiko Masih Minim

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar