Yamaha Aerox

6 Fakta Hotel Savoy Homann Bandung yang Jarang Terungkap

  Senin, 11 November 2019   Nur Khansa Ranawati
Hotel Savoy Homann Bandung. (Nur Khansa Ranawati/Ayobandung.com)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM--Salah satu hotel bersejarah sekaligus hotel tertua di Kota Bandung, Savoy Homann ternyata juga menyimpan sejumlah fakta yang bisa jadi belum banyak diketahui orang. Siapa sangka, hotel bergaya art-deco yang terletak di Jalan Asia Afrika tersebut juga sempat diinapi aktor pantomim kenamaan dunia, Charlie Chaplin.

Ayobandung.com merangkum enam hal seputar Savoy Homann yang menarik untuk diketahui :

1. Milik keluarga Jerman

Nama "Homann" bukan sekedar nama, melainkan merupakan nama keluarga pendiri hotel tersebut  pada 1871-an. Kala itu, bangunan hotel ini bahkan masih berupa rumah tinggal yang terbuat dari bambu. Pada 1880, gedung yang seluruhnya terbuat dari bata dibangun. Di era kolonial Belanda tersebut, hotel ini masih dikenal dengan nama "Hotel Homann". Arsitektur yang dibangun bergaya gothic.

Barulah pada 1939, arsitek kenamaan berkebangsaan Belanda, A.F Aalbers mendesain hotel tersebut menjadi bangunn tiga lantai bertema hyper-modern Artdeco Streamline yang masih dipertahankan hingga saat ini. Gaya arsitektur tersebut terinspirasi dari bentuk kapal laut dan ombak. Nama hotel pun kemudian berubah menjadi "Savoy Homann".

"Savoy itu artinya megah, dan Homann diambil dari nama keluarga. Jadi Savoy Homann itu artinya hotel megah milik keluarga Homann," ungkap Public Relation Savoy Homann Bandung, Revina Tova Nugraha ketika ditemui Ayobandung.com, Senin (11/11/2019).

2. Punya Kembaran

AYO BACA : Savoy Homann, Tempat Menginap Orang Penting di Dunia

Ternyata, bentuk hotel ini memiliki 'kembaran' yang letaknya tak jauh dari Savoy Homann sendiri. Gedung 'kembaran' hotel ini tak lain adalah Bank Denis yang terletak di Jalan Braga, yang saat ini ditempati bank bjb dengan nuansa warna abu serupa.

Gedung tersebut juga dibangun oleh arsitek yang sama, yakni A.F Albers. Justru, dari gedung Bank Denis yang skalanya lebih kecil itulah Albers kemudian dipercaya kembali untuk membangun gedung serupa yang lebih besar untuk merombak Hotel Homann menjadi Savoy Homann.

3. Balada Charlie Chaplin

Pada 1927, Charlie Chaplin dan aktris asal Kanada, Mary Pickford hendak mengunjungi Garut untuk berlibur. Namun, mereka memilih untuk menginap di Hotel Homann, mengingat kala itu tak banyak hotel yang dapat diinapi. Sontak, konon kala itu masyarakat berbondong-bondong mendatangi Hotel Homann dan berkerumun di pelataran depan.

Agar bisa lolos dari kerumunan, Chaplin dan Pickford kemudian menyewa aktor lokal untuk berdandan menyerupai mereka dan tampil di muka khalayak sebagai pengecoh. Sementara para aktor berperan, mereka pergi meninggalkan hotel dengan mobil menuju Garut.

4. Punya 3 Kamar Spesial

Saat ini, Savoy Homann memiliki tiga kamar spesial yang terletak di setiap lantai. Kamar tersebut adalah kamar 144, 244, dan 344. Bukan saja karena kamar tersebut memang kamar dengan fasilitas tertinggi di hotel ini, tetapi karena ketiga kamar tersebut digunakan para petinggi negara untuk menginap pada saat penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika di Gedung Merdeka pada 1955.

AYO BACA : Begini Isi Kamar Petinggi Negara saat KAA di Savoy Homann Bandung

Kamar 144 ditempati Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru, kamar 244 ditempati Presiden RI, Ir. Soekarno, sementara kamar 344 ditempati Perdana Menteri Republik Rakyat Tiongkok Zhou Enlai. Desain interior dan fasilitas kamar ketiganya serupa, terdiri dari dua buah kamar, ruang tamu, ruang tengah, area makan, area kerja dan balkon spesial di lengkungan Savoy Homann yang langsung menghadap ke Gedung Merdeka.

Hal yang membedakan adalah aksen di masing-masing kamar, dimana setiap kamar dilengkapi pajangan alat musik khas negara masing-masing. Selain itu, di tiap kamar juga dipasang kolase foto masing-masing orang saat Konferensi Asia Afrika berlangsung.

"Sekarang kamar-nya disewakan untuk umum. Rate-nya seharga Rp5,5 juta per-malam," ungkap Revinna.

5. Menyimpan Serpihan Sejarah KAA

Selain mengabadikan tiga kamar tersebut yang tatanan interior-nya tidak diubah, di hotel ini juga terdapat pajangan Golden Book yang terpasang di lobi. Buku tersebut tak lain merupakan buku tamu yang memuat daftar hadir setiap tamu KAA yang ditulis tangan dan dibubuhi tanda tangan masing-masing orang.

"Kita juga memajang cutlery set yang dipakai para tamu KAA. Ada sendok, piring, dan cangkir yang kita abadikan," jelasnya.

6. Hidangan Serba Indonesia

Ternyata, meskipun hotel ini didirikan oleh warga berkebangsaan Jerman dan dibangun sejak zaman kolonial Belanda, menu makanan andalan Savoy Homann tetaplah menu-menu khas Nusantara. Termasuk makanan yang dihidangkan saat Konferensi Asia Afrika. Menu makanan tradisional Indonesia tetap jadi pilihan.

"Menu andalan kita dari dulu adalah Sop Buntut Merah," ungkapnya.

Meski serba Nusantara, cara penyajian hidangannya tetap dilakukan dengan cara Eropa. Makanan disajikan dengan cara riijstafel alias berurutan mulai dari hidangan pembuka hingga penutup, alih-alih dihidangkan secara prasmanan.

AYO BACA : Menelisik Kisah Savoy Homann, Hotel Pertama di Kota Bandung

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar