Yamaha Lexi

T. Bachtiar Jelaskan Nama Tempat Cerminkan Geografi dan Kehidupan Masyarakat

  Jumat, 08 November 2019   Nur Khansa Ranawati
Anggota Masyarakat Geografi Nasional Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung, T. Bachtiar. (Ayobandung.com/Nur Khansa Ranawati)

COBLONG, AYOBANDUNG.COM -- Anggota Masyarakat Geografi Nasional Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung, T. Bachtiar memaparkan asal-usul sejumlah nama daerah di Jawa Barat dan Kota Bandung. Hal tersebut termaktub dalam buku terbarunya yang bertajuk Toponimi: Susur Galur Nama Tempat di Jawa Barat.

Dirinya mengatakan, nama sebuah tempat dapat menggambarkan kondisi geografis wilayah yang bersangkutan. Bahkan, nama juga sedikit banyak akan mencerminkan karakter budaya dan kehidupan sosial masyarakat sekitar.

Beberapa nama tempat di Kota Bandung, menurutnya, berasal dari berbagai hal yang muncul di sekitarnya. Mulai dari tumbuhan, hewan, ataupun kondisi administratif daerah tersebut di awal kemunculannya.

AYO BACA : Bandung Pisan: Kecamatan Coblong Rancang Wisata Nuklir

"Di Bandung ada tempat namanya Ciharegem dan Cimaung. Di Ciharegem warga sering medengar geraman harimau yang bersuara seperti 'haregem'. Sementara di Cimaung, warganya kerap melihat maung atau harimau yang ada di sekitar kampung," ungkapnya ketika memberi pemaparan dalam peluncuran buku Toponimi: Susur Galur Nama Tempat di Jawa Barat, di Galeri Soemardja Bandung, Rabu (6/11/2019).

Dirinya juga mencontohkan beberapa nama tempat di Kota Bandung yang berasal dari buah-buahan yang kerap dijumpai di daerah yang bersangkutan. Beberapa di antaranya meliputi Ciganitri, Cikopo, Cijawura, Kosambi, dan Cikapundung.

Namun, saat ini kecenderungan masyarakat hingga pemerintah menamai sebuah tempat tanpa mempertimbangkan asal-usul kawasannya jamak terjadi. Salah satu yang dikenal adalah Walini di Kabupaten Bandung Barat yang namanya berubah setelah terdapat plang salah satu perusahaan teh yang menjadi patokan warga dan pemerintah dalam menamai tempat tersebut.

AYO BACA : Bandung Pisan: Kecamatan Kiaracondong Luncurkan Kampung Wisata Alquran

Dirinya mengatakan, nama kawasan tersebut sesungguhnya adalah Panglejar.

"Sekali negara mencantumkan Walini, ya keliru semua. Padahal secara karakter alam enggak mungkin di sana tumbuh walini (tanaman), karena walini hanya tumbuh di lahan basah," jelasnya.

Padahal, dia mengatakan, penamaan suatu wilayah juga dapat berpengaruh pada pengetahuan mitigasi bencana warga sekitar.

"Kalau namanya sesuai orang tidak akan mengulangi kekeliruan yang sama di kemudian hari. Kalau tadinya rawa, mungkin orang enggak akan sembarangan bikin bangunan di situ, akan ada penanganan khusus. Termasuk untuk mitigasi bencana," jelasnya.

Dirinya berharap, kekeliruan semacam itu dapat diantisipasi dengan kebijakan pemerintah yang mulai membawa kembali ciri khas kawasan sesuai dengan namanya. Sehingga, masyarakat dapat lebih mengenal karakter tempat tinggal masing-masing.

"Misalnya di Keluarahan Batununggal, tanam lah pohon pinang. Di Buahbatu dan Cijambe juga sama," ungkapnya.

AYO BACA : Bandung Pisan: Usung 5 Program Unggulan, Kiaracondong Siap Jadi Kecamatan Terbaik

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar