Yamaha Lexi

Mahasiswa Indonesia dan Mimbar Demokrasi

  Kamis, 07 November 2019   Redaksi AyoBandung.Com   Netizen
Mahasiswa Indonesia N0. 43, Th II, April 1967. (Atep Kurnia)

Dua tahun yang lalu, saya pernah mengobrol agak panjang dengan wartawan senior Karno Kartadibrata. Isi obrolannya berkisar di sekitar perkembangan penerbitan media cetak di Bandung pada tahun 1960-an hingga 1970-an.

Dalam obrolan santai tersebut, ia mendedahkan pengalamannya selama berkecimpung di dunia jurnalistik, terutama yang ada di Bandung.

Paling tidak, wartawan senior kelahiran Garut, 10 Februari 1945, dari pasangan Jumrah Kartadibrata dan Siti Kuraesin ini pernah menjadi wartawan di Harapan Rakyat (1966-69), terbitan Kodam III Siliwangi, antara 1966-1969.

Selepas itu, Karno pindah ke mingguan Mimbar Demokrasi, antara tahun 1970-1971. Setelah Mimbar Demokrasi bubar, ia pernah bekerja untuk koran mingguan kecil yang terbit di Bandung, yakni di Berita Tunggal (1971-72) dan Kala (1972-73).

Dari Kala, Karno menjadi koresponden harian Kami (1973-74), terbitan Jakarta. Lepas dari Kami, Karno pindah ke majalah Prima (1974-76), milik pengusaha buku Oejeng Soewargana. Terakhir, Karno pindah ke majalah berbahasa Sunda, Mangle antara tahun 1977 hingga 2010.

Dari obrolan bulan Agustus 2017 dengan wartawan kawakan itu, saya sendiri jadi beranggapan bahwa pada masa  tahun 1960-an hingga 1970-an di Bandung, ternyata banyak sekali media cetak yang terbit.

Dari pengalaman Karno Kartadibrata saja paling tidak ada Harapan Rakyat, Mimbar Demokrasi, Berita Tunggal, Kala, Prima, dan Mangle. Bila ditambah dengan yang lainnya seperti Harian Umum Pikiran Rakyat dan media-media Sunda seperti Sipatahunan, Handjuang, Gondewa, Pelet, Sari, Langensari, barangkali media yang terbit di Bandung antara waktu tersebut niscaya sangat banyak.

Yang juga menarik perhatian dari penuturan Karno Kartadibrata adalah Mimbar Demokrasi. Karena media ini bersama-sama dengan Mahasiswa Indonesia termasuk corong suara mahasiswa terutama yang ada di Bandung pada awal kebangkitan Orde Baru. Mengenai kedua media pers mahasiswa ini sudah banyak yang membahasnya.

Bila saya mengabsen buku-bukunya antara lain dapat dibaca pada Pers Mahasiswa Indonesia, Patah Tumbuh Hilang Berganti (1983) oleh Amir Effendi Siregar; Politik dan Ideologi Mahasiswa Indonesia: Pembentukan dan Konsolidasi Orde Baru, 1966-1974 (1989) karya Francois Raillon; 1966-1974, Kisah Pers Indonesia (1995) oleh Ahmad Zaini Abar; Mereka dari Bandung: Pergerakan Mahasiswa Bandung, 1960-1967 (1998) karya Hasyrul Moeghtar; dan Menyilang Jalan Kekuasaan Militer Otoriter: Gerakan Kritis Mahasiswa Bandung di Panggung Politik Indonesia, 1970-1974 (2004) oleh Rumy Aly.

Dan salah seorang yang mempertautkan sepak terjang Mahasiswa Indonesia dan Mimbar Demokrasi dengan gerakan pemuda Islam adalah M. Dawam Rahardjo dalam kata pengantarnya untuk buku Nurcholish Madjid, Islam Kemodernan dan Keindonesiaan (edisi baru, 2005). Dawam antara lain menyatakan demikian:

“Sejak 1968 atau 1967, kalangan muda dalam gerakan Islam cukup sibuk membahas masalah modernisasi. Ini kentara dari tulisan-tulisan yang dimuat di koran-koran mahasiswa seperti Mahasiswa Indonesia, Mimbar Demokrasi, Gema Mahasiswa (terbitan Dewan Mahasiswa UGM), Harian Kami, harian Masa Kini yang terbit di Yogya dan berbagai majalah kampus yang cukup banyak jumlahnya.

Banyak diskusi diselenggarakan, baik terbuka maupun terbatas. Di lingkungan HMI, masalah modernisasi merupakan topik pembahasan di latihan-latihan kader, bahkan di konferensi-konferensi cabang di berbagai kota yang ada universitasnya.

Di Yogya dan Jawa Tengah, Ahmad Wahib, Djohan Effendi, dan Mansyur Hamid sangat dikenal sebagai agen gagasan modernisasi yang gigih. Saya sendiri juga ikut menulis di kolom harian Masa Kini pada setiap Selasa, juga di mingguan Mahasiswa Indonesia dan Mimbar Demokrasi yang terbit di Bandung”.

AYO BACA : Sejarah Berdirinya Perdi, Organisasi Kewartawanan Cikal-bakal PWI

Memang kedua media mahasiswa yang disebutkan Dawam terakhir tersebut sangat menarik. Untuk mendapatkan gambaran yang bersifat ensiklopedis, saya yang punya kesempatan untuk membuka-buka Mahasiswa Indonesia dan Mimbar Demokrasi koleksi  M. Ryzki Wiryawan, Dede Tjimanoek, dan Indra Prayana. Oleh karena itu, dalam tulisan ini saya akan membagikan pengalaman hasil penelusurannya.

Mahasiswa Indonesia

Mahasiswa Indonesia merupakan mingguan yang diterbitkan antara 1966-1974. Mingguan ini didirikan oleh tiga orang, yaitu Rahman Tolleng, Ryandi S., Awan Karmawan Burhan.

Rahman yang mula-mula mengajukan gagasan untuk menerbitkannya pada Juni 1966, bahkan yang memilih nama Mahasiswa Indonesia setelah meminta izin menggunakan namanya dari media pusatnya di Jakarta. Mingguan ini berkantor di Jalan Tamblong Dalam, Bandung. Sementara modal awal penerbitannya berkat usaha Ryandi S.

Ketiga pendiri Mahasiswa Indonesia sekaligus yang mengurusi penerbitannya. Mereka menjadi Pemimpin Umum, kecuali Rahman Tolleng yang merangkap sebagai Penanggung Jawab/Pemimpin Redaksi. Di luar mereka, ada Eppy RS sebagai wakil Pemimpin Redaksi, ditambah Bonar Siagian, Alex Rumondor, Kusnaka Adimiharja, Soe Hok Gie, Yozar Anwar, Yahya Wullur, MT Zen, Sujoko, serta Mochtar Lubis. Penasihatnya Kepala Pusat Penerangan HANKAM Brigjen Sugandhi Kartosubroto R.H. dan Dekan Fakultas Publisistik Unpad Prof. Umi Abdurrachman.

Edisi pertamanya terbit pada 19 Juni 1966. Bentuknya tabloid (30 x 45 cm). Tebalnya 8 halaman, termasuk 2 halaman iklan. Mottonya “Pembina Insan Pancasila”.

Pada nomor pertama, Mahasiswa Indonesia menyajikan lima artikel, cerita bersambung dan editorial tentang Sidang MPRS. Terbitnya mingguan ini didukung oleh tokoh-tokoh utama Orde Baru, yaitu Jenderal A.H. Nasution, Deputi Menteri Perguruan Tinggi Mashuri, Gubernur Jawa Barat Brigjen Mashudi, Kasdam Siliwangi Mayjen H.R. Dharsono, dan Ketua periodik KAMI Bandung Rohali Sani.

Sejak nomor 2, mingguan ini memberi pengumuman tentang penerimaan sumbangan tulisan dari luar redaksi, berupa artikel, essei, novel, dan sebagainya. Selanjutnya, materi yang disajikan Mahasiswa Indonesia biasanya terdiri dari informasi pokok dan bagian awal artikel utama pada halaman pertama, disusul editorial pada halaman kedua.

Kemudian berbagai rubrik, yaitu ”Hati nurani rakyat”, “Percakapan minggu ini”, “Indonesiana”, “Berita Ekonomi Keuangan”, “Warta Sejagat”, “Kronik Sepekan”, “Apa dan Siapa”, ’’Universitaria”, dan “Pembaca Angkat Pena”. Juga berbagai sumbangan tulisan dari penulis luar. Pada halaman terakhir sering memuat cerita pendek.

Para penulis yang berkontribusi pada mingguan ini antara lain Emil Salim, Sujatmoko, Rosihan Anwar, Wiratmo Sukito, Mochtar Lubis, Ajip Rosidi, Arief Budiman, Nono Anwar Makarim, Mochtar Kusumaatmadja, Slamet Iman Santoso, Fuad Hasan, Harsya W. Bachtiar, Alfian, dan lain-lain.

Pada awal penerbitannya, 1966, mingguan ini dicetak 10.000 eksemplar. Kemudian pada 1968 menjadi 15.000 eksemplar, lalu pada 1972 dicetak sebanyak 19.000 eksemplar. Sementara harga jualnya mula-mula Rp 0,50 per eksemplar, kemudian naik menjadi Rp 10.

Pada Desember 1970, ada kenaikan lagi menjadi Rp 15 dengan peningkatan halaman 8 menjadi 12 halaman. Pada Juni 1973 dinaikkan menjadi Rp 20. Selang sebulan, karena harga kertas koran meningkat lebih dari 100%, Juli 1973, mingguan ini naik menjadi Rp 25 dan akhir 1973 menjadi Rp 30.

Pada 10 November 1968, Mahasiswa Indonesia mendirikan Studi Grup Mahasiswa Indonesia (SGMI). Saat itu, ada manifesto yang ditandatangani para pendukung mingguan tersebut. Inilah yang kemudian disebut sebagai “Kelompok Tamblong” atau “Kelompok Bandung”, yang berperan besar pada Pemilu 1971.

AYO BACA : Inohong Sunda: Perintis Pers Indonesia Bakrie Soeraatmadja

No. 394, Januari 1974 yang merupakan terbitan akhir Mahasiswa Indonesia. Mingguan ini dicabut SIT-nya pada 15 Januari 1974 oleh keputusan dari Kopkamtib, dengan alasan, ’’mingguan itu terus melakukan provokasi-provokasi yang mengganggu ketertiban dan keamanan”.

Sebabnya, pada nomor tersebut ada bahasan seluruh Peristiwa Malari (15 Januari 1974) sejak awal. Padahal edisi tersebut bertitimangsa 20 Januari 1974, sementara larangan terbit pada 15 Januari 1974. Nomor itu bahkan dicetak dua kali, dengan jumlah keseluruhan 45.000 eksemplar.

Mimbar Demokrasi

Foto-02-2

Mimbar Demokrasi No. 12, Th I, 17 Desember 1967. (Atep Kurnia)

Mingguan Mimbar Demokrasi diterbitkan oleh Yayasan Sapta Karya, Bandung, antara 1967-1974. Alamat redaksinya di Jalan Braga No. 40 A. Mimbar Demokrasi mendapatkan SIT dengan No. 48/BPPR/KOPKAMTIB/SLW/9/67 bertanggal Bandung 7 September 1967. Percetakannya adalah P.N. Karya Tjotas, Bandung.

Nama lengkap mingguan ini adalah Mingguan Umum Mimbar Demokrasi, dengan motto “Penyalur Suara Kebebasan”. Pendiri mingguan ini antara lain Adi Sasono dan Sugeng Saryadi. Menurut Francois Raillon (1989), mingguan ini merupakan saingan mingguan Mahasiswa Indonesia, yang sekuler dan anti-Islam. Orientasi tersebut menyebabkan anggota redaksinya terpecah. Lukman Isa dan Alex Rumondor keluar dan bersama dengan Sugeng Saryadi dan Adi Sasono mendirikan Mimbar Demokrasi, yang dekat dengan Islam. Apalagi Adi pernah menjabat sebagai Ketua Umum Dema ITB (1965-1966) dan Ketua HMI Cabang Bandung.

Edisi pertama Mimbar Demokrasi terbit pada Minggu ke-4, September 1967 (Tahun I, No. 1).  Pada tahun pertamanya, susunan redaksi mingguan ini terdiri dari Pimpinan umum Iwan Syarif dan Lukman Isa, Penata Usaha Syahrul A. Alif dan Muh. Ganjar, Pimpinan Redaksi/penanggung jawab Adi Sasono, Wakil Pimpinan Redaksi Alex Rumondor, dan Dewan Redaksi yang terdiri dari Sugeng Saryadi, Purwoto Handoko, Aldy Anwar, Ahmad Saelan, Saini K.M., Lukman Isa, Iwan Syarif, Alex Rumondor, dan Adi Sasono.

Isi pada setiap edisi Mimbar Demokrasi berkaitan dengan berita umum, politik, ekonomi, kebudayaan, sastra, etika, perempuan, dan Islam. Pada edisi No. 13, Tahun I, 24 Desember 1967, misalnya, dimuat antara lain kepala berita “Renungan Perayaan Natal”, disusul tulisan “Sekitar Heboh: Missi Pembaharuan KAMI Bandung (Bagian III)”, "P.M. Australia Harold E. Holt Ditelan Gelombang", rubrik pojok “Teropong”, “Editorial”, “Pilihan Pendengar”, “Kepartaian, DPR-GR, dan Pemilu” oleh Aldy Anwar, “Masjid Salman di Kampus ITB: Laboratorium Penggemblengan Kader & Teknisi Muslim”, “Seandainya Aku Ketua Mahkamah Agung” (Demokrat), “Drama Tiga Babak dari Yunani” (Liani GPR), "Tanggapan Atas Tulisan: Larang Organisasi2 Extra-Universiter di dalam Kampus" (Entang Hadi), “Awas Penetrasi!” (Azral Mohammad), “Baju Manakah yang cocok untuk Anda?” (Ny. Nunu Nuraesih Edka), rubrik “Iseng-iseng Asah Otak”, sajak “Nocturno” (Agil Alathas), “Peranan Ibu Sebagai Pendidik” (Dayu), “Lari 1500 Meter” (Gyon SG), rubrik “berita-berita Siswa dan Mahasiswa", rubrik “Popular Science”, dan pojok “Numpang Tanya” (Ajow).

Satu lagi, misalnya, dari No. 89, tahun III, Minggu ke IV, Juni 1969. Pada edisi tersebut antara lain dimuat kepala berita "Sekali Lagi: Kecurangan di P.N. Postel Bdg", "Sanggahan Senat Ekonomi Unpad", pojok “Spektator”, “Masalah Pembukuan dalam Penetapan Laba Kena Pajak”, rubrik "Warta Ekonomi Singkat", rubrik “Mimbar Bebas”, “Gubernur Mashudi ‘Diam’ terhadap Kritik yang lebih Berbahaya” (Ajip Rosidi), rubrik “editorial”, “Dari Redaksi”, “Dapatkah Manusia Menaklukkan Ruang Interplaneter? (I)” (Alex Rumondor), rubrik “Ilmu & Teknologi”, rubrik “Penghuni Negeri Ini”, "Rekreasi dan Aspeknya" (Azral Mohammad), “Gelombang Demonstran Kiri di Amerika Latin” (Liani GPR), rubrik “Bandrek Bandung”, "Makassar Dewasa Ini" (Maman Setiawan), “Menjelang PON VII SBY” (P. Reksopranoto), “Buat Pencetus Ide Hansip Wanita” (S. Anwar Effendie).

Mimbar Demokrasi juga menjadi salah satu titik berangkat bagi Nurcholish Madjid untuk mendedahkan pemikirannya di sekitar pembaruan Islam. Di sini antara lain, ia menulis mengenai “Modernisasi adalah Rasionalisasi Bukan Westernisasi” (1968) dan “Keharusan Pembaharuan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Ummat” (1970). Tulisan mengenai modernisasi membuatnya lebih terkenal terutama di luar golongan Islam. Khusus mengenai tulisan yang kedua, E. Saifuddin Anshari menulis balasannya dengan judul Kritik atas faham dan gerakan pembaharuan Drs. Nurcholish Madjid (1973).

Sayangnya, setelah terjadinya Peristiwa Malari 1974, banyak pers mahasiswa yang dibreidel. Dalam kelompok media yang dibeslah pada waktu termasuk banyak. Selain Mahasiswa Indonesia dan Mimbar Demokrasi, media-media yang juga dibreidel akibat Peristiwa Malari itu adalah Nusantara (15 Januari 1974), Harian KAMI, Indonesia Raya, Abadi dan Jakarta Times (21 Januari 1974), Pedoman dan Ekspres (23 Januari 1974).

Demikianlah informasi yang saya himpun dari beragam edisi Mahasiswa Indonesia dan Mimbar Demokrasi milik kolektor-kolektor pustaka yang baik hati telah mengizinkan saya untuk mengaksesnya. Tentu untuk hal tersebut, saya sangat berutang budi. Demikian pula dengan Kang Karno Kartadibrata yang berkenan meluangkan waktunya untuk dapat diwawancarai.

Atep Kurnia

Peminat literasi dan budaya Sunda

AYO BACA : Surat Kabar Kaoem Moeda

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar