Yamaha Lexi

Ruhanna K, Wartawati Pertama Indonesia yang Jadi Pahlawan Nasional

  Kamis, 07 November 2019   M. Naufal Hafizh
Ruhanna Kuddus di pencarian Google. (ANTARA/Miko Elfisha)

PADANG, AYOBANDUNG.COM – Wartawati, Ruhanna Kuddus, ditetapkan sebagai pahlawan nasional tahun ini, setelah sebelumnya dua kali gagal saat diusulkan.

"Kami sudah dapatkan surat undangan untuk penganugerahan gelar di Istana Negara, Jumat (8/11/2019). Suratnya sudah disampaikan ke gubernur dan ahli waris," kata Kepala Dinas Sosial Sumbar, Jumaidi di Padang, Kamis (7/11/2019).

Dia mengatakan, penetapan gelar pahlawan nasional itu diputuskan dalam pertemuan antara Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan dengan Presiden Joko Widodo, Rabu (6/11/2019).

AYO BACA : Inohong Sunda: Perintis Pers Indonesia Bakrie Soeraatmadja (1)

Ruhanna Kuddus yang berasal dari Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, pernah dua kali diusulkan Pemprov Sumbar sebagai pahlawan nasional dari provinsi tersebut. Terakhir diusulkan pada 2018. Meski sudah memenuhi syarat namun belum beruntung ditetapkan sebagai pahlawan nasional.

Ruhanna Kuddus lahir di Koto Gadang, Kecamatan Ampekkoto, pada 20 Desember 1884 dan meninggal di Jakarta pada 17 Agustus 1972 pada usia 87 tahun.

Dia hidup pada zaman yang sama dengan Kartini, ketika akses perempuan untuk mendapat pendidikan yang baik sangat dibatasi.

AYO BACA : Rekam Jejak Dunia Jurnalistik di Museum Pers Nasional

Dia diketahui sebagai pendiri surat kabar perempuan pertama di Indonesia.

Saat Belanda meningkatkan tekanan dan serangannya terhadap kaum pribumi, Ruhanna turut membantu pergerakan politik dengan tulisannya yang membakar semangat juang para pemuda.

Kiprahnya di dunia jurnalistik dimulai dari surat kabar Poetri Hindia pada 1908 di Batavia yang dianggap sebagai koran perempuan pertama di Indonesia.

Ruhanna pun memelopori berdirinya dapur umum dan badan sosial untuk membantu para gerilyawan.

Dia juga mencetuskan ide bernas dalam penyelundupan senjata dari Kotogadang ke Bukittinggi melalui Ngarai Sianok dengan cara menyembunyikannya dalam sayuran dan buah-buahan yang kemudian dibawa ke Payakumbuh dengan kereta api.

Hingga ajalnya menjemput, dia masih terus berjuang. Termasuk ketika merantau ke Lubuk Pakam dan Medan. Di sana dia mengajar dan memimpin surat kabar Perempuan Bergerak. Kembali ke Padang, dia menjadi redaktur surat kabar Radio yang diterbitkan Tionghoa-Melayu di Padang dan surat kabar Cahaya Sumatera.

AYO BACA : Inohong Sunda: Perintis Pers Indonesia Bakrie Soeraatmadja (5)

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar