Yamaha

Jangan Jadikan Generasi Penerus Bangsa Sebagai Tikus

  Selasa, 05 November 2019   Redaksi AyoBandung.Com   Netizen
Ilustrasi antikorupsi

Tikus identik dengan binatang yang pekerjaannya mencuri makanan bahkan merusak barang. Begitupula dengan koruptor. Ia diibaratkan sebagai tikus yang mencuri sesuatu. Ia sangat merugikan berbagai pihak.

Betapa maraknya kasus korupsi di Indonesia yang kita saksikan di berbagai media, mulai dari kalangan bawah, menengah, bahkan pejabat negara sekalipun. Kini, orang kaya semakin kaya, orang miskin semakin terpuruk dan terjelembab di bawah garis kemiskinan. Bagaimana nasib bangsa ini jika terus menerus seperti ini?           

Ahli Sosiologi Korupsi, Syed Husein Alatas mendefinisikan bahwa korupsi pada intinya adalah penyalahgunaan kepercayaan untuk kepentingan pribadi. Korupsi merupakan kebohongan yang besar.

Adapun penyebab korupsi pada intinya adalah sifat egois manusia. Bahkan, Koordinator Divisi Investigasi Indonesia Corruption Watch (ICW), Agam Fatchurrochman, membuat rumus penyebab korupsi, yaitu: C=N+K atau Korupsi = Niat + Kesempatan. Artinya, apabila ada niat tetapi tidak ada kesempatan, korupsi tidak akan terjadi. Sebaliknya, apabila ada kesempatan tetapi tidak ada niat, korupsi tidak akan terjadi pula.

Pada dasarnya korupsi terbagi ke dalam lima bagian, yaitu:

Pertama, korupsi waktu. Korupsi waktu berkaitan dengan penyalahgunaan waktu atau lebih dikenal dengan istilah ‘jam karet’. Contohnya, seorang pegawai yang selalu datang terlambat. Hal itu akan merugikan intansi yang terkait. Untuk itu, ia dapat dikatakan memakan ‘gaji buta’.

Kedua, korupsi ilmu pengetahuan. Korupsi ilmu pengetahuan terjadi jika seseorang meminta supaya penemuan atau pendapatnya dibenarkan dari sudut pandang suatu ilmu pengetahuan tertentu. Contohnya, dengan doktrin hukum, mengenai asas diskresi, pejabat administrasi meminta pembenaran atas tindakannya yang sewenang-wenang.

Ketiga, korupsi politik. Korupsi politik merupakan korupsi di bidang politik. Contohnya, money politic dalam kerangka Pemilu.

Keempat, korupsi materiil. Korupsi materiil berkaitan dengan materi atau keuangan. Kasus ini sangat sering terjadi di negara kita. Korupsi ini sangat merugikan negara kita. Krisis ekonomi pun, salah satunya terjadi akibat korupsi ini. Korupsi ini menjadi trend di kalangan pejabat. Contohnya, penggelapan dana proyek bangunan dan kasus-kasus penyuapan.

Kelima, korupsi hati nurani. Korupsi hati nurani terjadi saat seseorang tidak berani mengatakan yang benar itu benar dan yang salah itu salah. Bahkan, ia membohongi hatinya sendiri dengan berdalih ‘berbohong demi kebaikan’. Contohnya, siswa mencontek saat ulangan demi mendapatkan nilai yang baik.

Lantas, apa yang dapat kita lakukan agar korupsi di negara kita perlahan dapat teratasi?

Beberapa langkah yang dapat kita lakukan di antaranya sebagai berikut:

Pertama, pendidikan antikorupsi sejak dini. Pendidikan adalah modal utama. Penanaman nilai-nilai religius atau keagamaan dan kejujuran sangatlah penting. Agama merupakan pegangan hidup setiap manusia.

Pendidikan tersebut perlu ditanamkan sejak dini. Peranan orang tua sangatlah penting. Mereka perlu memberi contoh atau suri tauladan kepada anak-anaknya. Jngan sampai orang tua menyuruh anaknya tidak berbohong tetapi dia sendiri berbohong. Contoh kecil, seorang penagih hutang datang ke rumah.

Seorang ibu berkata pada anaknya, “Nak, bilang saja ibu sedang tidak ada di rumah”. Padahal, ia sendiri ada di rumah. Selain itu, di sekolah pun perlu ditanamkan nilai-nilai religius dan kejujuran. Tentunya, seorang guru harus terlebih menjadi contoh terhadap muridnya. Saat ini, pemerintah telah memasukan Pendidikan Karakter dan Budaya Bangsa (PKBB) dalam kurikulum yang mana di dalamnya terdapat nilai-nilai religius dan kejujuran.

Kedua, jadilah suri tauladan bagi diri sendiri dan orang lain. Seorang pemimpin akan dihormati apabila ia memberikan contoh yang baik.

Ketiga, kuatkan niat untuk tidak melakukan korupsi. Katakan TIDAK untuk korupsi!

Keempat, tanamkan sikap mendahulukan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadi atau kelompok.

Kelima, Tegakkan hukum bersama-sama. Di negara kita telah terjadi beberapa kali pengubahan Undang-undang Anti Korupsi. Semua itu hanya akan menjadi hiasan belaka apabila bangsa kita tidak menghiraukannya. Dalam penegakkan hukum, pemerintah dan rakyat perlu bekerja sama.

Lalu, bagaimana peran pendidik untuk memberantas korupsi? Jawabannya adalah dengan menjadi suri tauladan yang baik dan terus mendidik siswa untuk tidak melakukan korupsi dari mulai hal terkecil. Jangan sampai generasi bangsa ini menjadi tikus-tikus yang berkeliaran.

Lina Amalina

Guru SMPN 3 Jatinunggal Sumedang

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar