Yamaha

[Lipkhas] Tak Jadi Stadion Piala Dunia U-20, Apa yang Perlu Dibenahi GBLA?

  Selasa, 29 Oktober 2019   Eneng Reni Nuraisyah Jamil
Petugas membersihkan rumput liar di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Gedebage, Kota Bandung, Jumat (19/7/2019). (Ayobandung.com/Kavin Faza)

GEDEBAGE, AYOBANDUNG.COM -- Pengamat kebijakan publik, Yogi Suprayogi menilai, Pemkot Bandung tak bisa serta merta mengajukan Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) sebagai kandidat venue Piala Dunia U-20 Tahun 2021. Yogi menilai, Pemkot Bandung harus terlebih dulu melakukan pembenahan di kawasan tersebut.

Salah satunya, upaya untuk mengebut pengerjaan infrastruktur stadion dan fasilitas pendukung yang belum memenuhi standar Internasional untuk mengelar Piala Dunia U-20 2021.

"Kalau kita lihat venue itu harus siap dari segala halnya. Bukan hanya venue stadionnya doang. Walaupun sekarang ini memang agak sedikit rusak stadion GBLA ini tapi paling tidak itu bisa dibenerin," ungkap Yogi kepada Ayobandung.com, Senin (28/10/2019)

Yogi mencontohkan, stadion yang terletak di kecamatan Gedebage itu jika ingin menjadi venue Piala Dunia U20 harus bisa memenuhi sistem terintegrasi untuk akses transportasi yang memudahkan menuju stadion.

Hal itu diperlukan di samping regulasi FIFA yang secara spesifik mengatur syarat sebuah stadion yang bisa menjadi venue Piala Dunia. Syarat itu mulai dari jumlah stadion, kapasitas stadion, hingga berbagai aspek di sekitar venue juga menjadi sorotan FIFA. 

"Tapi ada faktor lain, misalnya transportasi dari dan menuju stadion itu, sarana pendukung lainnya juga kayak gimana. Karena sebetulnya kalau lihat kebijakan untuk stadion GBLA ini belum holistik. GBLA itu kan hanya parsial saja, padahal pendukung untuk mendukung jadi kawasan olahraga itu harus ada," katanya.

"Misalnya akomodasi lokasi hotel yang relatif dekat, lalu akses transportasi. Kan untuk masuk ke dalamnya gak mungkin atlet pakai ojek karena gak ada akses kendaran umum," katanya.

AYO BACA : Stadion GBLA yang 'Terlupakan' untuk Piala Dunia U-20

Di sisi lain, Yogi juga cukup mengkritisi masalah kebijakan yang dibuat Pemkot Bandung. Salah satunya menurut Yogi, tak ada kebijakan dan mengintegrasikan sistem sarana olahraga. Yogi menyebut, seharusnya GBLA bisa menjadi sebuah Sentra Pembinaan Olahraga Terpadu.

"Kemudian juga yang lebih ditekankan masalah kebijakan. Saya sebenarnya mengkritisi Pemkot Bandung yang tidak membuat kebijakan dan mengintegrasikan sistem sarana olahraga. Jadi jangan hanya stadion saja. Padahal untuk mendukung stadion itu ada banyak hal untuk mendukungnya," katanya.

Yogi pun menyebut, sengkarut pengalihan aset Stadion GBLA sedianya bukan hal krusial yang mempengaruhi presiden atau Kemenpora tak memilih Stadion GBLA sebagai kandidat venue Piala Dunia U-20.

"Soal masalah pengalihan aset kayaknya enggak ada korelasinya sih, yang penting kesiapan venuenya aja. Kalau masalah aset atau segala macamnya itu urusan internal Kota Bandung," katanya.

Oleh karena itu, Yogi menyarankan, Pemkot Bandung bisa membuat peraturan wali kota yang mengatur sistem terintegrasi di sekitaran Stadion GBLA. Selain itu, Yogi menyebut sistem integrasi itu harus bisa melibatkan pihak swasta untuk membuat kawasan Gedebage menjadi kawasan Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE) dan pusat olahraga terpadu.

"Misal membuat program yang fokus membangun pertumbuhan MICE di kawasan Gedebage. Itu seharusnya mulai diperkenalkan kepada pihak swasta, semua harus diintegrasikan, jadi jangan hanya sendiri Pemkota Bandung," kata dia.

"Apalagi mudah-mudahan bisa dipercepat dengan sistem kereta cepat. Karena transportasi ini kan bakal ngelewatin dan deket ke Stadion GBLA. Nanti kalau orang-orang luar dari Jakarta bisa langsung ke situ," katanya.

AYO BACA : Jokowi Bocorkan 10 Stadion untuk Piala Dunia U-20, Tak Ada GBLA

ayobdg-kerusakan-sejumlah-fasilitas-stadion-gbla-dzikri-12-640x440

Kondisi sejumlah fasilitas yang rusak di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Gedebage, Kota Bandung, Rabu (17/7/2019). (Ayobandung.com/Muhammad Dzikri/Magang)

Yogi menilai setelah Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 2021 terdapat keuntungan penting yang di dapat Tanah Air. Menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 2021 tak hanya memajukan industri sepak bola, tapi juga dapat meningkatkan popularitas suatu kawasan sebagai tujuan wisata internasional.

"Keuntungan pastinya banyak. Investasi kita, kepercayaan internasional kepada Indonesia, apalagi Bandung yang memang terkenal dengan kota jasa. Kalau misalnya ada event bergengsi ini pasti pertumbuhan ekonominya akan meningkat," tutur Yogi.

"Jadi jelas sangat berpengaruh. Kenapa beberapa negara ingin jadi ada venue olahraga internasional karena akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi masyarakatnya," ujarnya.

Diketahui, FIFA akhirnya menunjuk Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 2021 dalam council meeting di Shanghai, Kamis (24/10/2019). Dalam bidding tersebut, Indonesia berhasil mengalahkan Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, Myanmar, Thailand, Brasil, serta Peru.

Untuk menunjang perhelatan Piala Dunia U-20 2021, PSSI telah menyiapkan 10 stadion, yakni Stadion Utama Gelora Bung Karno (Jakarta), Stadion Pakansari (Kabupaten Bogor), Stadion Patriot Candrabhaga (Bekasi), Stadion Wibawa Mukti (Kabupaten Bekasi), Stadion Si Jalak Harupat (Kabupaten Bandung).

Selain itu, ada juga Stadion Mandala Krida (Yogyakarta), Stadion Manahan (Solo), Stadion Gelora Bung Tomo (Surabaya), Stadion Kapten I Wayan Dipta (Bali), dan Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring (Palembang).

Meski begitu, dari sederet nama, Stadion GBLA, Kota Bandung, tidak masuk menjadi salah satu kandidat tempat penyelenggaraan pertandingan Piala Dunia U20 tahun 2021.

AYO BACA : Yana Mulyana: GBLA Bisa Dipakai Asal Tanpa Penonton

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar