Yamaha

Panas Musim Pancaroba Bukan Cuaca Ekstrem

  Minggu, 27 Oktober 2019   Republika.co.id
Warga menghindari panas sinar matahari saat beraktivitas di Kota Bandung, Kamis (24/10/2019). (Ayobandung.com/Kavin Faza)

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM -- Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) menegaskan panas yang terasa menyengat di sejumlah wilayah di Indonesia bukan disebabkan gelombang panas atau cuaca ekstrem. Kepala Lapan, Thomas Djamaluddin mengatakan suhu panas yang terjadi adalah hal yang normal pada musim kemarau.

AYO BACA : Suhu Panas, BMKG Imbau Masyarakat Batasi Aktivitas di Luar Ruangan

"Suhu panas pada musim pancaroba sekitar Oktober dan April-Mei, bukan gelombang panas atau cuaca ekstrem. Itu adalah fenomena tahunan yang normal. Suhu panas di banyak kota di Indonesia disebabkan tiga faktor utama," kata Thomas, Minggu (27/10/2019).

AYO BACA : Panas Ekstrem, Warga Bekasi Rebus Telur dan Goreng Kerupuk

Faktor utama tersebut yaitu posisi matahari berada tepat di atas bagian selatan Indonesia. Oleh sebab itu, wilayah yang berada di selatan khatulistiwa merasakan panas yang tidak biasanya. Selain itu, Thomas mengatakan faktor selanjutnya adalah liputan awan yang masih minim.

Ia menambahkan, panas semakin terasa menyengat karena efek pendinginan dari angin yang berasal dari daerah yang mengalami musim dingin sudah berhenti. "Faktor lain yang menambah efek pemanasan adalah urban heat island (pulau panas perkotaan)," kata Thomas.

Pulau panas perkotaan tersebut terjadi akibat peningkatan emisi karbon dioksida dan transportasi. Aktivitas industri dan rumah tangga juga menyebabkan pulau panas perkotaan. "Karbondioksida menahan pelepasan panas ke antariksa," kata dia.

AYO BACA : Suhu Tembus 39,5 C, Ini 3 Penyebab Cuaca Panas Menurut BMKG

Berita ini merupakan hasil kerja sama antara Ayo Media Network dan Republika.

Isi tulisan di luar tanggung jawab Ayo Media Network.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar