Yamaha Lexi

6 Faktor Penyebab Autoimun

  Senin, 21 Oktober 2019   Republika.co.id
Ilustrasi (Pixabay)

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM--Ashanty didiagnosa menderita autoimun. Kondisi ini terdeteksi ketika ia menemani suaminya, Anang Hermansyah, melakukan check-up ke RSPAD Gatot Subroto Jakarta, belum lama ini. Hasil diagnosa tersebut ia kabarkan melalui akun Instagramnya.

Ashanty mengatakan, ia sering merasakan sakit kepala, sulit tidur, belakangan suka menjadi pelupa, cemas, mudah stres, dan terlalu banyak pikiran. Ashanty mengaku dirinya sempat merasa takut setelah mencari tahu soal penyakit autoimun. 

Dikutip dari Medical News Today, autoimun adalah beberapa penyakit terkait sistem kekebalan yang paling kompleks dan sulit diobati. Autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang sel-sel sehat dalam tubuh. 

Sistem kekebalan adalah jaringan-jaringan, organ, dan sel. Perannya untuk melindungi tubuh dari 'penjajah', melindungi dari infeksi dan penyakit.

Penyakit autoimun hasil dari kesalahan yang dibuat oleh sistem kekebalan tubuh. Penelitian menunjukkan, autoimun cenderung memiliki komponen genetik, ras, dan gender yang mendasarinya.

Gangguan autoimun sulit didiagnosis dan sering diikuti berbagai gejala. Menurut National Institutes of Health (NIH), sekitar 24 juta orang Amerika memiliki setidaknya satu autoimun.

Penyakit ini biasanya diawali dengan beberapa gejala seperti kelelahan, otot pegal, bengkak dan kemerahan, demam ringan, kesulitan berkonsentrasi, mati rasa dan kesemutan di tangan dan kaki, rambut rontok hingga ruam kulit.  

Ada beberapa faktor tertentu yang meningkatkan risiko mengidap penyakit autoimun. 

1. Kelebihan berat badan

Kelebihan berat badan atau obesitas juga dapat meningkatkan risiko autoimun, yaitu rheumatoid arthritis atau radang sendi psoriatik. Ini terjadi karena berat badan yang lebih banyak, dapat memberi tekanan yang lebih besar pada persendian atau jaringan lemak yang membuat zat yang mendukung peradangan.

2. Rokok

Tidak hanya menyebabkan penyakit jantung dan paru-paru, merokok juga dapat berisiko lebih tinggi terhadap sejumlah penyakit autoimun. Penyakit autoimun yang dimaksud antara lain, lupus, rheumatoid arthritis, dan hipertiroidisme. 

3. Infeksi

Jika seseorang memiliki kecenderungan genetik atau turunan yang sensitif terhadap infeksi virus atau bakteri tertentu, memiliki risiko lebih besar terhadap penyakit autoimun. Meskipun alasan di balik risiko ini belum jelas, namun para peneliti terus meneliti peran infeksi yang dapat memengaruhi sistem kekebalan atau menjadi penyebab autoimun.

4. Jenis kelamin

Jenis kelamin seseorang juga disebutkan menjadi faktor yang berperan aktif terhadap penyakit autoimun. Kaum hawa cenderung memiliki risiko yang lebih besar terkena autoimun dibandingkan laki-laki. Menurut studi tahun 2014, wanita 6,4 persen lebih berisiko terkena ini.

5. Usia

Tidak hanya jenis kelamin, usia juga dapat meningkatkan risiko seseorang terserang penyakit autoimun. Sebagian besar gangguan autoimun didiagnosis pada orang yang lebih muda dan setengah baya. Meskipun demikian, penyakit berbeda dan kelainan autoimun lainnya seperti rheumatoid arthritis lebih sering terjadi seiring bertambahnya usia seseorang.

6. Genetik

Salah satu faktor risiko yang dapat menyebabkan seseorang mengidap penyakit autoimun karena faktor genetik. Penelitian menunjukkan, riwayat keluarga merupakan faktor pendukung terkuat untuk penyakit ini. Jika di antara keluarga ada yang mengidapnya, dengan mudah orang tersebut dapat mengidap penyakit itu juga.

Berita ini merupakan hasil kerja sama antara Ayo Media Network dan Republika.

Isi tulisan di luar tanggung jawab Ayo Media Network.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar