Yamaha

UMKM Cimahi: Manfaatkan Ayam Filet Jadi Abon dan Gepuk

  Rabu, 16 Oktober 2019   Andres Fatubun
Abon Gepuk Suhantika.

CIMAHI, AYOBANDUNG.COM -- Menjadi seorang pebisnis memang harus mampu mencari solusi dari setiap permasalahan yang dialami. Kemudian bagaimana cara mengimplementasikan solusi itu menjadi produk yang baru.

ayobandung-dukung-umkm

Hal yang sama dialami oleh Umi Suharti sebagai pemilik UMKM Abon dan Gepuk asal Cimahi. Bisnisnya ini dimulai dari usaha yang suami yang menjual ayam potong di Pasar Ciroyom.

"Namanya usaha itu naik turun yah, nah awalnya memang khusus ayam filet pesenan buat hajatan terus baso. Karena penjualan menurun banyak tuh stock filet yang sisa dan dibawa kerumah. Selain bobotnya yang menyusut dan mengurangi nilai ekonomis ya jadinya dibikin abon sama gepuk aja,” ungkapnya pada ayobandung.

Pertama kali memulai, Umi membuat percobaan yaitu dengan daging filet sebanyak 1 kg. Setelah dicoba di keluarganya sendiri, ternyata memang enak dan akhirnya memutuskan untuk memulai bisnis tersebut pada bulan Ramadan tahun 2016.

Mengapa Umi memulai bisnisnya selama bulan Ramadhan ternyata memang dirinya mampu melihat peluang pada bulan tersebut.

“Karena kalau bulan puasa itu makanan itu suka lumayan laris yah. Ya sudah saat bulan puasa mulai. Alhamdulillah ternyata responnya memang bagus, sampai saat itu memperkerjakan dua orang” jelasnya.

Jaringan pembeli suaminya di pasar membuat permintaan melonjak saat itu. Namun karena jumlah SDM yang belum mumpuni membuat hasil abon dan gepuk tidak maksimal.

“Saat itu kita terlalu memaksakan bagaimana agar permintaan pasar terpenuhi. Dengan SDM yang seadanya kita terlalu grasak-grusuk membuatnya. Yang kami kira akan untung malah buntung,” tambahnya.

Semua abon yang sudah dipasarkan dikembalikan kepada pemilik karena baru genap dua minggu barang sudah berjamur. Sehingga saat itu pemilik rugi sampai puluhan juta. Namun Umi tidak langsung menyerah. Akhirnya pemilik mengikhlaskan dan mengambil pelajaran dari kejadian tersebut.

Setelah kejadian tersebut Umi kemudian memulai kembali merintis. Namun pada awalnya tidak berjalan lancar. Nama produk Indrawati yang sudah tersemat dalam produknya tidak lagi dipercaya di masyarakat. Akhirnya dirinya mencoba untuk memikirkan hal lain yaitu dengan merubah nama produknya.

“Akhirnya kita buat brand baru dengan nama Abon Gepuk Suhantika. Nah nama ini adalah nama gabungan dari kedua putri kami yaitu Suhanti dengan Hantika” jelasnya.

Bisnis yang sebentar lagi akan genap tiga tahun ini bermodal Rp30-40 juta. Modal yang cukup besar ini sudah mencangkup bahan dan peralatan yang mendukung. Saat ini omzetnya sudah mencapai kisaran Rp100 juta.

Untuk produk sendiri ada kemasan yang membedakan antara yang dijual di pasar tradisional dan ke toko-toko. Misalnya saja untuk pasar tradisional ada kemasan mika dan toples karena memang segmen konsumennya tidak terlalu melihat dari kemasan tapi lebih memandang harga. Sedangkan pada toko ritel dibuat kemasan pouch untuk menarik pembeli dengan segmen konsumen yang menengah ke atas.

Produk Abon Gepuk Suhantika dijual dalam berbagai kemasan. Untuk gepuk mini Rp5000, gepuk toples Rp12000, abon mini Rp6000, dan abon toples Rp13000.

Untuk pemasarannya ia membuat dua strategis online dan offline

“Kalau pasar kan kita banyak saingannya, memang secara orderan ada terus tiap harinya ya cuman itu kita harus berani di harga aja. Sedangkan online mau jual berapa aja selalu ada yang mau,” paparnya.

Sejauh ini produk Abon Gepuk Suhantika sudah dipasarkan hingga Tasik. Rencana selanjutnya akan dipasarkan ke daerah Kuningan dan Garut.

Bagi yang penasaran dengan profil bisnis Abon Gepuk Suhantika ini bisa langsung kepoin di instagramnya di @jualabongepuksuhantika atau bisa hubungi di nomor 0813-2668-4080. (Dias Ashari/magang)

 

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar