Yamaha Aerox

Sejarah Sunda dan Bakti Santri untuk Negeri

  Senin, 14 Oktober 2019   Redaksi AyoBandung.Com   Netizen
Ilustrasi: Dua santri perempuan sedang mengaji Alquran.(Djasepudin)

Santri, kiai, dan pesantren adalah satu kesatuan dalam perjalanan negeri ini. Mereka ada dan bermakna dari danuntuk masyarakat. Tak sekadar mengaji kitab kuning dan ilmu keagamaan, santri pun memiliki peran penting dalam merebut kemerdekaan dan mengisi alam kemerdekaan dengan beragam bidang kehidupan.

Dengan demikian, sungguh beralasan keberadaan santri dijadikan salah satu hari penting di Indonesia guna mengingat dan meneladani santri dari masa ke masa. Maka, sejak 22 Oktober 2015 pemerintah mencetuskan hari santri nasional.

 Tanggal 22 Oktober dipilih karena pada hari itu dianggap salah satu titik penting perjuangan kaum santri dalam menerapkan gagasan, kemerdekaan, dan bentuk cinta tanah air. Kaum santri, terutama, santri salafiyah meyakini, cintah tanah air adalah sebagian dari iman. Salah satu bentuk keimanan itu terangkum dalam peristiwa yang bernama Resolusi Jihad.

Menurut Ketua Umum Pengurus Besar Nahdatul Ulama (NU), KH Said Agil Siraj, yang melatarbelakangi dikeluarkannya Resolusi Jihad NU adalah adanya upaya pasukan Netherlands Indies Civil Administration (NICA) atau pasukan sekutu yang dipimpin Brigjen Mallaby. 

Namun, kata Said, Presiden Soekarno bersama Wapres Moh Hatta serta Panglima Besar Jenderal Soedirman menyadari agresi militer NICA itu tak mungkin dihadapi hanya dengan mengandalkan pasukan tentara, sehingga dibutuhkan bantuan rakyat.

Presiden Soekarno kemudian mengirim utusan ke KH Hasyim Asyári meminta fatwa untuk menyikapi agresi militer NICA. Karena diyakini fatwanya bakal mampu menggerakkan rakyat Indonesia khususnya dari kalangan santri, ungkapnya.

Setelah mengumpulkan ulama dan kiai NU se Jawa, Madura, dan Nusa Tenggara Timur untuk bermusyawarah selama 2 hari (20-22 Oktober 1945), maka diputuskanlah Resolusi Jihad NU. Isi Resolusi Jihad NU menegaskan bahwa membela Tanah Air hukumnya fardlu ain.

Isi Resolusi Jihad NU itu kemudian disebarluaskan ke seluruh pondok pesantren dan masyarakat. Bahkan oleh Bung Tomo disebarkan melalui radio RRI. Sehingga kaum santri berbondong-bondong berjihad melawan pasukan NICA pada perang 10 November 1945 di Surabaya.

Walaupun 20 ribu syuhada menjadi korban saat melawan sekutu. Namun perang mempertahankan kemerdekaan RI berhasil dimenangkan oleh rakyat Indonesia. Bahkan Brigjen Mallaby pimpinan pasukan NICA juga tewas, jelas Said Agil Siraj, seperti yang diungkap kepada sejumlah wartawan dan beredar di media daring.

Kontribusi Santri

Itulah salah satu contoh nyata peran santri dalam perjalanan bangsa dan negara. Selama ini kita mungkin lupa, atau melupakan, yang menganggap santri hanya berkaitan dengan mengaji kitab kuning. Padahal, dari baheula hingga ayeuna santri dan dunia pesantren memiliki kontribusi dalam berbagai lini kehidupan.

Sebelum sedikit merinci pengaruh atau kontribusi santri marilah kita buka dulu lembar sejarah. Menurut Eddi S. Ekadjati, pesantren pertama yang didirikan di Tatar Sunda sudah adaalah pesantren yang dibuka Sunan Gunung Jati. Pesantren yang berdiri di gunung (bukit) sekitar 5 km dari Kota Cirebon itu berdiri pada abad ke-15. Dua abad setelah itu, di Priangan, tepatnya di kawasan Pamijahan, berdiri pesantren yang didirikan Syeh Abdul Muchyi.

Meski begitu, sejatinya kehadiran pesantren merupakan lanjutan dari islamisasi di tatar Sunda. Sebab, pada masa kerajaan Sunda sekitar abad 13 para saudagar dari Persi, India, Malaka sudah bersentuhan dengan urang Sunda.

 Tentu saja mereka tidak semata berurusan ihwal jual-beli barang dagangan. Salah satu jalan mereka bertandang ke sekitar Cirebon, Karawang, Sundakalapa, Bogor, dan Banten adalah dalam rangka berdakwah, membumikan Islam di Nusantara. Pesantrenlah salah satu jejak langkahnya.

Jejak langkah pesantren yang paling kentara adalah mencerdaskan anak bangsa. Baik pesantren tradisional maupun modern sama-sama mengembangkan pendidikan dan kebudayaan. Pesantren tak hanya mengajarkan tata cara wudu atau zakat. Di pesantren pun diajarkan keilmuan tentang logika (mantiq), perbintangan/angkasa luar (falaq), serta ilmu ketatabahasaan (nahwu, sharaf, maani, bayan).

Nah, dari cabang-cabang keilmuan itu tentu saja bersinggungan dengan sumber ilmu, guru, dan penerapan yang berdasarkan kearifan lokal. Maka dari itu di Tatar Sunda sungguh banyak pengarang dan penyadur kitab klasik yang berkembang di tanah air dan luar negeri. Untuk menyebut nama kita tentu mengenal Syeh Nawawi yang mengembangkan kepesantrenan di tanah Banten.

Adapun kiai dari Bumi Pasundan yang banyak menafsir-menyadur kitab dari bahasa Arab ke bahasa Sunda adalah Kiai Ahmad Makki dari Sukabumi. Kiai yang sempat mendapat Hadiah Sastera Rancage ini sudah menafsirkan 168 jenis kitab ke dalam bahasa Sunda dan bahasa Melayu. Dan, peredaran tafsir tersebut sudah sampai ke luar negeri, yakni sampai ke Timur Tengah.

Masih dari Sukabumi kita pun mengenal nama Kiai Ahmad Sanusi. Dari Bogor ada KH Abdullah Bin Nuh yang banyak menafsirkan kitab-kitab Imam Ghazali. Di antara karya Ajengan Nuh yang terkenal adalah : (1) Kamus Indonesia-Inggris-Arab (bahasa Indonesia), (2) Cinta dan Bahagia (bahasa Indonesia), (3) Zakat dan Dunia Modern (bahasa Indonesia), (4) Ukhuwah Islamiyah (bahasa Indonesia), (5) Tafsir al Quran (bahasa Indonesia), (6) Studi Islam dan Sejarah Islam di Jawa Barat hingga Zaman Keemasan Banten (bahasa Indonesia).

Selanjutnya, (7) Diwan ibn Nuh(syiir terdiri dari 118 kasidah, 2731 bait), (8) Ringkasan Minhajul Abidin (bahasa Sunda), (9) Al Alam al Islami (bahasa Arab), (10) Fi Zhilalil Kabah al Bait al Haram (bahasa Arab), (11) Ana Muslimun Sunniyun Syafiiyyun (bahasa Arab), (12) Muallimul Arabiyyah (bahasa Arab), (13) Al Islam wa al Syubhat al Ashriyah (bahasa Arab), (14) Minhajul Abidin (terjemah ke bahasa Indonesia), (15) Al Munqidz min adl-Dlalal (terjemah ke bahasa Indonesia), (16) Panutan Agung(terjemah ke bahasa Sunda).

Sastra Sunda

Lazim di tatar Sunda dan dunia pesantren menyampaikan keilmuan itu bisa dengan cara dilagukan atau dinyanyikan. Salah satu ragam ilmu tersebut terangkum dalam bentuk solawatan dan nadoman.

 Pengembangan keilmuan yang turut memekarkan bahasa adalah metode ngalogat. Ngalogat adalah tradisi di pesantren yang mengartikan/menafsirkan bahasa Arab ke dalam bahasa Sunda tepat di bawah atau atas tulisan Arab. Biasanya arah tulisannya berbentuk miring ke atas.

Tradisi ngalogat, nadoman, solawatan terus berkembang. Hal itu menjadi ilhambagi para pengarang Sunda. Adapun urang Sunda abad 21 yang menafsirkan seluruh kandungan al-quran ke dalam karya sastra jenis pupuh dan nadoman adalah Hidayat Suryalaga. Islam dalam kehidupan pesantren pun mengilhami para pengarang Sunda dalam membuat cerita pendek, novel, dan sajak.

Kita mengenal Usep Romli yang mengeluarkan karya Ceurik Santri dan Tanah Satapak Peucang yang dimuat dalam Ceurik Santri (1985). Usep Romli juga mempunyai Jiad Ajengan (1991) dan Dulag Nalaktak yang tulis tahun 2006.

Sebelum itu Ki Umbara dan SA Hikmat menilis cerita Pahlawan-Pahlawan ti Pasantrén (1966). Sebelumnya tahun 1961 Rahmatullah Ading Affandi (RAF) mengeluarkan karya Dongeng Enteng ti Pasantren.

Jauh sebelum itu, pada tahun 1881 Raden Muhamad Musa membuat carita pendek berjduul “Santri Gagal yang terlacak di Soendanesch Bloemlezing (1881) yasana G. J. Grashuis.

Akan tetapi menurut kritikus sastra Mikihiro Moriyama mah (2005), cerita prosa tersebut ditulis Musa sebelum tahun 1869, sebab K.F. Holle sudah membuat ringkasannya dalam suratnya untuk pengurus Bataviaasche Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (BGKW).

Selain nama-nama di atas sejumlah pengarang  Sunda seperti maestro sastra Sunda Haji Hasan Mustapa yang merekam renik-renik kesundaan dalam kacamata Islam dan Sunda dalam bentuk dangding dan anekdot, Ahmad Bakri maestro carita pondok, Ki Umbara yang mengembangkan cerita misteri, hingga angkatan Acep Zamzam Noor yang mahir mengukir puisi mutakhir menjadikan pesantren dan kehidupan santri sebagai salah satu sumber inspirasi yang terus digali.

Jelas sudah, kaum santri, pesantren, dan kehidupan di masyarakat berjalin berkelindan dan saling menguntungkan. Momen peringatan Hari Santri Nasional hanyalah salah satu penanda bahwa, negara hadir paling tidak ingat pada kontribusi kaum santri. Lebih dari itu, semoga santri di tanah air tetap memeluk teguh kesantriannya dan terus memberi peran kepada dunia, terutama bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

(Djasepudin, guru SMA Negeri 1 Cibinong, Bogor)

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar