Yamaha Mio S

Hope for Indonesia, Refleksi Pentingnya Kesehatan Mental

  Minggu, 13 Oktober 2019   Eneng Reni Nuraisyah Jamil
Kegiatan Hope for Indonesia di Bandung, Minggu (13/10/2019). (Ayobandung.com/Eneng Reni)

PASTEUR, AYOBANDUNG.COM -- Banyak orang berpikir bahwa orang yang sehat adalah yang jarang sakit secara fisik. Namun ibarat pepatah latin "Mens Sana In Corpore Sano" yang berarti di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat, bahwa sehat jasmani dan rohani sama-sama penting.

Kesehatan mental yang baik adalah kondisi ketika batin berada dalam keadaan tenteram dan tenang, sehingga memungkinkan untuk menikmati kehidupan sehari-hari dan menghargai orang lain di sekitar. Apabila kesehatan mental seseorang terganggu, ia akan mengalami gangguan suasana hati, kemampuan berpikir, serta kendali emosi yang dapat mengarah pada perilaku buruk.

Ada berbagai contoh gangguan kesehatan mental seperti stress, depresi, gangguan kecemasan, bipolar, ADHD (Attention Deficit and Hyperactivity Disorder), dan masih banyak lagi. Kesadaran untuk menjaga kesehatan mental menjadi sebuah kebutuhan yang harus diperhatikan oleh masyarakat.

Pendiri Tim Hope for Indonesia Diah Mahmuda menyampaikan, menurut survei yang dilakukan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), setiap detik terdapat satu orang yang melakukan bunuh diri di seluruh dunia.

Angka orang yang kehilangan nyawa akibat bunuh diri bahkan lebih parah dibanding jumlah orang yang terbunuh dalam perang. Total terdapat 800.000 orang yang tercatat melakukan bunuh diri tiap tahunnya. Bahkan Bunuh diri sendiri menjadi penyebab terbesar ke-2 kematian yang terjadi pada usia 15-29 tahun.

Karenanya, Diah menyampaikan, masalah depresi tidak dianggap enteng. Jika pernah memikirkan atau merasakan tendensi bunuh diri, mengalami krisis emosional, atau mengenal orang-orang dalam kondisi itu, disarankan menghubungi pihak yang bisa membantu.

Namun di sisi lain, nahasnya masyarakat saat ini masih cenderung kurang atau bahkan tidak peduli dengan yang namanya mental illness atau mental health. Banyak orang takut harus menanggung hukuman sosial atau stigma yang diberikan masyarakat Indonesia kepada penderita gangguan mental karena beberapa orang menganggap pembicaraan tentang kesehatan mental sungguh memalukan atau tabu untuk dibicarakan.

Sehingga kebanyakan penderita memilih tidak membeberkan masalah kejiwaan kepada keluarga terdekat. Karenanya, untuk menjawab keresahan tersebut, Diah menginisiasi program 'Hope for Indinesia'. Kegiatan ini berbentuk workshop untuk membangun rasa kepedulian dan kesadaran terhadap kesehatan mental.

"Kegiatan ini bentuk keprihatinan kami setelah melihat dan akhirnya juga menerima berbagai macam aduan dan konsultasi psikologi. Dari sini kami sangat prihatin dengan berbagai kejadian yang ada. Misal saya sebagai psikolog sering menangani masalah Baby Blues/Post Partum Depression (PPD) pada ibu muda. Kami juga menemukan dari beberapa klien dari kalangan mahasiswa termasuk pelajar SMA tentang aduan meraka yang mengalami stress berat sampai depresi yang sudah tertumpuk lama," ungkap Diah saat berbicang dengan ayobandung.com, Minggu (13/10/2019).

Di sisi lain, Diah menegaskan mental health itu sangat penting. Mengapa? Karena untuk menjalani aktivitas sehari-hari, dibutuhkan kesehatan baik dari fisik dan mental yang bagus. Di zaman sekarang ini, masyarakat harus lebih peka terhadap mental health. Pasalnya Diah mencatat, banyak penyebab kesehatan mental yang rentan, baik dari faktor internal maupun eksternal.

Contoh, penyebab eksternal yang bisa mempengaruhi adalah lingkungan rumah maupun dalam lingkungan pertemanan. Kerap kali, gejala gangguan mental muncul tanpa disadari oleh penderita maupun lingkungan sekitarnya. Gejala gangguan kesehatan mental tak hanya cukup diamati secara kasat mata. Jika tidak segera mendapat penanganan yang tepat, maka akan berakibat fatal pada kondisi psikologis seseorang.

"Kami memgamati di titik puncaknya ada fenomena yang tragis, bukan miris lagi. Di mana sampai ada mahasiswa dari beberapa universitas di Bandung yang menyelesaikan maslaah mentalnya dengan bunuh diri. Bahkan ada yang baru ditemukan setelah beberapa hari meninggal di indekostnya. Makanya ini jadi PR bersama, dan tidak bisa dikerjakan oleh kami saja, butuh banyak pihak yang sama konsen terhadap hal ini. Karena untuk membangun mental Health awareness butuh sinergi untuk membangun kesehatan mental yang lebih baik," lanjutnya.

Oleh karenanya, dalam workshop 'Hope for Indonesia' ini para peserta diberikan pembekalan untuk mampu menjaga kesehatan mental baik diri sendiri maupun orang lain di lingkungan terdekat. Diah juga menyebut, workshop ini salah satu langkah untuk semakin memahami, menghargai, dan peduli terhadap orang lain dengan segala kekurangan dan masalah di dalam dirinya.

Karena masih banyak orang yang masih menganggap remeh sebuah masalah yang mengganggu pikiran dan bahkan mental seseorang. Adapun, rangkaian kegiatan, Hope for Indonesia ini pun digelar di tiga kota besar, yakni Yogyakarta (12/10/2019), Bandung (13/10/2019), dan Jakarta (20/10/2019).

"Intinya, misinya adalah kami ingin memberikan kepedulian yang wujudnya nyata, gak cuman simpati saja tapi juga dengan mengulurkan tangan. Minimal kita bisa bergerak untuk mengurangi fenomena bunuh diri. Jadi sekarang intinya bagaimana menyadarkan dan membangun kepedulian masyarakat. Makanya memang peserta workshop ini selain generasi z dari kalangan mahasiswa dan pelajar, ada juga pasangan suami-istri," ujarnya.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar