Yamaha Mio S

Disebut Rekayasa, Polisi Soal Penusukan Wiranto: Mestinya Empati

  Minggu, 13 Oktober 2019   Republika.co.id
Menko Polhukam Wiranto. (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)

SERANG, AYOBANDUNG.COM -- Insiden penusukan terhadap Menko Polhukam Wiranto dan aparat kepolisian pada Kamis (10/10/2019) di Pandeglang, Banten, sontak menghebohkan publik. Empat orang diserang oleh pasutri menggunakan belati secara membabibuta.

AYO BACA : Usus Wiranto Dipotong 47 Cm, Berapa Panjang Usus Manusia?

Namun, ada juga yang menilai insiden itu sebagai rekayasa seperti beragam pendapat yang muncul di media sosial. Menanggapi hal ini, Kabid Humas Polda Banten Komisaris Besar Polisi Edy Sumardi menyebut seharusnya masyarakat berempati atas sebuah musibah yang menimpa seseorang, bukan malah melontarkan hal-hal negatif.

AYO BACA : La Nyalla Mattalitti:

"Ya kita harusnya bijak bermedia sosial, santun mencernanya, kita mestinya empati terhadap musibah ini, memiliki nurani untuk belajar mengambil hikmah dari kejadian ini dan kita tidak mudah untuk mengatakan hal-hal negatif," kata Edy, Minggu (13/10/2019).

Dirinya mengimbau masyarakat untuk tidak mudah melontarkan tudingan tidak berdasar yang  menunjukkan ketidakpedulian terhadap musibah pada sesama warga Indonesia. "Mari kita sebagai bangsa, sebagai bangsa yang beradab, memiliki nurani dan belajar merasakan apa yg orang rasakan," jelasnya.

Seperti diketahui penyerangan yang dilakukan tersangka berinisial SA dan FA di Alun-alun Menes mengakibatkan empat korban luka-luka, yaitu Menko Polhukam Wiranto, ajudan Danrem 064 MY, Kapolsek Menes dan tokoh UNMA Banten.

Para tersangka berhasil menyelinap masuk penjagaan sekitar 200 personel gabungan Kepolisian dan TNI lalu melukai empat korban menggunakan belati.

AYO BACA : Zulkifli Hasan Sebut Wiranto Mulai Belajar Duduk

Berita ini merupakan hasil kerja sama antara Ayo Media Network dan Republika.

Isi tulisan di luar tanggung jawab Ayo Media Network.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar