Yamaha Lexi

Melongok Batu Hiu di Citarum Lama

  Sabtu, 12 Oktober 2019   Adi Ginanjar Maulana   Netizen
Batu Hiu di Citarum Lama.(Djoko Subinarto)

Saat ini Sungai Citarum menjadi salah satu sungai yang kotor dan tercemar. Lingkungan di sepanjang sungai ini pun -- terutama yang berdekatan dengan kawasan permukiman dan industri -- tampak bertambah rusak.

Meskipun demikian, di beberapa titik di aliran Citarum lama masih menyisakan sejumlah kawasan yang relatif bersih dan masih terpelihara keasrian dan keeksotisannya.

Tidak percaya? Datanglah ke kawasan Batu Hiu yang berada di aliran Sungai Citarum lama di daerah Saguling, Rajamandala, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Di daerah ini, kita masih bisa menyaksikan beningnya air Citarum yang mengalir gemericik di sela-sela bebatuan raksasa di tengah-tengah hijaunya pepohonan dan vegetasi lainnya.

Terkait dengan nama Batu Hiu, boleh jadi nama tersebut diberikan lantaran persis di tengah aliran Citarum ini terdapat sebuah batu raksasa yang selintas -- jika dilihat dari arah depan -- mirip mulut ikan hiu.

Untuk dapat mencapai kawasan Batu Hiu sekaligus menikmati keeksotisan alam di kawasan ini, kita harus lebih dahulu menuju kompleks Indonesia Power Plant, PLTA Saguling, Rajamandala. Lokasi Batu Hiu berada di belakang kompleks Indonesia Power Plant, PLTA Saguling.

Jarak dari kompleks Indonesia Power Plant, PLTA Saguling, ke kawasan Batu Hiu sekitar tiga kilometer, yang harus ditempuh dengan berjalan kaki. Salah satu alternatif mudah untuk mencapai lokasi Batu Hiu adalah melalui Gua Sanghyang Poek, yang posisinya juga berada tak jauh dari kawasan kompleks Indonesia Power Plant, PLTA Saguling.

Satu hal penting yang perlu diperhatikan tatkala kita akan melalui Gua Sanghyang Poek adalah perlunya membawa alat penerangan yang memadai. Sesuai dengan namanya yaitu Sanghyang Poek yang berarti Dewa Gelap, kondisi gua ini gelap gulita. Sebagaimana diketahui, poek dalam bahasa Sunda berarti gelap. Tanpa membawa alat penerangan yang memadai, mustahil kita bisa melihat apa pun di dalam gua ini.

Lorong gua berkelok-kelok dengan panjang sekitar sepuluh meter. Stalagtit menghiasi sebagian dinding atas gua. Dasar gua basah, lembab serta tidak rata. Menyusuri lorong Gua Sanghyang Poek, kita harus ekstra hati-hati. Jika lengah sedikit, alamat kaki atau pun kepala kita bakal terantuk batu kapur.

Keluar dari Gua Sanghyang Poek, kita akan langsung berada di bibir Sungai Citarum. Suara gemericik air yang mengalir di sela-sela bebatuan ke arah barat memecah kesunyian yang ada di sekitar mulut Gua Sanghyang Poek, yang mungkin bagi sebagian orang terkesan geueuman.

Dari mulut Gua Sanghyang Poek ini, kita hanya perlu berjalan beberapa puluh meter ke arah timur sebelum nanti akhirnya kita bisa menemukan sebuah batu raksasa yang mirip dengan mulut ikan hiu.

Hanya, meski jaraknya tidak terlalu jauh, untuk mencapai kawasan Batu Hiu ini diperlukan stamina yang prima. Selain kita harus berjalan dan melompat-lompat di antara batu-batu, kita juga sekali-kali harus nyemplung ke dalam sungai dan ini akan sangat menguras tenaga. Batu-batu besar yang ada di sepanjang aliran Citarum lama ini bisa jadi bakal sangat menyulitkan mereka yang kurang terbiasa bertualang di alam bebas untuk bisa bergerak secara lebih cepat dan leluasa.

Namun, yakinlah segala kesulitan yang dialami saat menuju Batu Hiu akan terbayar dengan kepuasan tiada tara tatkala kita bisa menikmati panorama khas nan eksotis kawasan Batu Hiu yang notabene merupakan salah satu sisa peninggalan bobolnya Danau Bandung Purba.

Di sekitar Batu Hiu, kita bisa pula menyasikan fenomena alam yang disebut

jublegan (pothole). Ini terjadi oleh adanya batu kecil atau kerikil yang terjebak pada cekungan sebuah batu lain yang lebih besar di daerah aliran sungai dan menimbulkan gerusan yang akhirnya meninggalkan bekas berupa lubang menganga seperti jubleg (lesung).

Jika masih memiliki stamina yang cukup, dari kawasan Batu Hiu, kita bisa terus melanjutkan petualangan ke kawasan Leuwi Gobang dan Leuwi Malang.

 Leuwi Gobang merupakan salah satu kawasan aliran Citarum di mana lapisan batu pasir berselang-seling dengan batu lempung dalam posisi tegak seperti pedang (gobang). Karena itulah, kawasan ini dinamai Leuwi Gobang.

Kata leuwi sendiri berarti lubuk, yaitu bagian terdalam pada aliran sebuah sungai. Adapun Leuwi Malang merupakan daerah aliran Citarum dalam Patahan Rajamandala yang dipenuhi oleh lapisan-lapisan batuan yang sebarannya melintang (malang) pada aliran sungai.

Sama halnya dengan Batu Hiu, Leuwi Gobang dan Leuwi Malang pun nenawarkan panorama dan fenomena alam yang khas dan eksotis.

Sekiranya punya waktu luang, tidak ada salahnya sekali-kali menjajal stamina Anda untuk berpetualang ke kawasan ini.

Djoko Subinarto

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar