Yamaha

Pengamat: Rekayasa Jalan Sukajadi Gagal Atasi Kemacetan

  Jumat, 11 Oktober 2019   Faqih Rohman Syafei
Pengamat Tata Kota, Frans Ari Prasetyo. (Faqih Rohman SYafei/Ayobandung.com)

CIBEUNYING KALER, AYOBANDUNG.COM--Pengamat Tata Kota, Frans Ari Prasetyo menilai rekayasa Jalan Sukajadi gagal mengurangi kemacetan. Sebaliknya menimbulkan titik kemacetan baru di beberapa ruas jalan. 

"Rekayasa kemarin itu gagal, karena itu tidak secara signifikan merubah," ujarnya saat ditemui ayobandung.com di PPSDAL-LPPM Unpad Jalan Sekeloa Selatan, Jumat (11/10/2019).

Dia mengatakan sejak awal dirinya sudah memprediksi rekayasa Jalan Sukajadi tidak akan menyelesaikan masalah kemacaten. Pasalnya publik sudah terbiasa dengan sistem lalu lintas terdahulu.

AYO BACA : Hari Pertama Rekayasa Lalin Sukajadi, Kendaraan Mengular Hingga Pasteur

"Kenapa jadi polemik karena tidak mengurangi kemacetan sama sekali, malah menciptakan konsentrasi kemacetan baru di titik-titik tertentu," katanya.

Semestinya, kata dia pemerintah mengoptimalkan sistem lalu lintas yang telah ada dengan menyediakan angkutan massal yang dapat digunakan oleh masyarakat. Tanpa perlu merubah sistem atau merekayasa lalu lintas.

"Contoh masyarakat yang biasa naik Angkot di jalur itu, tiba-tiba skenarionya berubah. Angkotnya pusing, kedua orang yang sudah naik Angkot disana dimana harus balik kembali," katanya.

AYO BACA : Netizen Keluhkan Rekayasa Lalin di Jalan Sukajadi-Setiabudi-Cipaganti

Frans menjelaskan sebelum melakukan rekayasa lalu lintas, pemerintah Kota Bandung harus mempertimbangkan dahulu tipe atau kriteria jalan.

"Pemerintah harus lihat dulu koridor jalan itu, sekunder, primer atau tersier. Kalau sekunder sudah diatur dalam perundang-undangan punya batasan maksimum kendaraan yang masuk kendaraan," ucapnya.

"Jika semua dikonsentrasikan kesana semua jadi overload akan terjadi deadlock. Harus bedakan periode waktu sibuk dan tidak sibuk, salah perhitungan akan ciptakan kemacetan baru," tambahnya.

Frans menambahkan gagalnya rekayasa lalu lintas menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat, baik dari segi waktu dan ongkos bahan bakar yang terbuang berdampak pada polusi.

"Pemerintah kadang-kadang lupa dari rekayasa ini, contoh munculnya kemacetan ini siapa yang harus bayar tetap saja warga yang bayar cost. Warga misalnya melalui jam, waktu mereka jadi terganggu, kedua kompensasi penggurangan bahan bakar apakah signifikan menjadikam kota ramah lingkungan enggak kan," pungkasnya.

AYO BACA : Polling dan Komentar, Rekayasa Lalin Sukajadi-Cipaganti Mengatasi Kemacetan?

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar