Yamaha

Warga Indramayu Ini Sembunyi di Kandang Babi Saat Kerusuhan Wamena

  Jumat, 11 Oktober 2019   Erika Lia
Lima warga Kabupaten Indramayu yang sebelumnya menetap di Wamena bertemu Bupati Indramayu Supendi, Kamis (10/10/2019). (Ayocirebon.com/Ist)

INDRAMAYU, AYOBANDUNG.COM -- Kerusuhan di Wamena, Papua, menyisakan trauma bagi enam warga Kabupaten Indramayu. Di antara mereka, demi menyelamatkan nyawa, kandang babi pun terpaksa jadi pilihan persembunyian.

Dimas Marseto (28), salah satu warga Dusun Karanganyar, Desa Sukra Wetan, Kecamatan Sukra, masih belum bisa melepaskan bayangan suasana Wamena kala kerusuhan terjadi. Bersama sang istri, Wasini (34) dan anak perempuan mereka, Sisil (2), Dimas masih enggan kembali ke Wamena.

"Saya trauma, belum kepikiran balik lagi ke sana (Wamena)," ungkap Dimas di tengah pertemuannya dengan Bupati Indramayu di Pendopo Kabupaten Indramayu, Kamis (10/10/2019).

Dimas telah tinggal di Wamena sejak 2013. Selain Dimas, keluarga lain asal Dusun Karanganyar yang sempat menetap di Wamena yakni Arif Wahyudin dan sang istri, Selawati.

Selain kedua keluarga tersebut, warga Kabupaten Indramayu lainnya yakni Tania Ida, asal Desa Bugel, Kecamatan Patrol. Namun, Tania Ida tak ikut pulang ke Indramayu karena langsung dibawa pihak keluarga sang suami ke Sukabumi.

Mereka telah menetap bertahun-tahun di Wamena. Berdagang barang kebutuhan sehari-hari menjadi salah satu upaya mereka bertahan hidup di kawasan timur Indonesia itu.

Dimas dan keluarganya tinggal di Wamena dengan mengontrak salah satu rumah. Sebelum kerusuhan pecah pada 23 September 2019, mereka hidup tenang dan rukun bersama warga asli Papua.

Sayang, suasana itu rusak ketika kerusuhan terjadi. Dimas masih mengingat ketika dirinya hendak membuka kios, seorang warga menginformasikan akan adanya kerusuhan.

"Saya enggak jadi buka kiosnya, langsung sembunyi dalam rumah sama istri dan anak," tuturnya.

Benar saja, selang berapa lama kerusuhan pun terjadi. Dimas yang sempat mengintip dari dalam rumah menyaksikan bagaimana para perusuh datang membawa beragam senjata, seperti panah dan gergaji kayu, maupun bensin.

Dia bahkan kemudian melihat tak sedikit warga yang dibakar dengan sadis. Seorang balita juga menjadi korban. Ketika itu, balita tersebut mencoba lari dari dalam rumah yang terbakar.

Namun, perusuh menangkap dan malah melemparkannya ke dalam rumah yang terbakar. Menurut Dimas, diketahui orang tua balita tersebut sudah dibakar lebih dulu di dalam rumah.

Mengamati situasi yang diramalkannya akan semakin mencemaskan, dia pun bersama istri dan anaknya keluar rumah. Sebuah kandang babi milik warga setempat di belakang rumahnya menjadi pilihan satu-satunya untuk berlindung.

Bersama sedikitnya sembilan keluarga lain, selama sekitar tiga jam mereka bersembunyi menyelamatkan nyawa dari amukan perusuh. "Kami sembunyi di antara kotoran babi. Ya di mana saja sembunyi asal bisa selamat," tuturnya.

Dimas dan yang lainnya baru bisa keluar dari kandang babi setelah diselamatkan anggota TNI yang datang ke lokasi. Mereka dievakuasi ke markas koramil setempat, sebelum akhirnya mengungsi ke Sentani.

Akibat kejadian itu, Dimas harus rela kehilangan seluruh harta bendanya yang dijarah perusuh. Saat ini, dirinya nyaris tak memiliki apapun.

Sebelum tiba di Indramayu, Dimas dan warga asal Jawa Barat lain yang sempat menetap di Wamena diterima oleh Gubernur Jabar, Ridwan Kamil, di Gedung Pakuan Bandung, Rabu (9/10/2019). Barulah kemudian mereka dipulangkan ke kampung halaman masing-masing.

Di Indramayu, kelima penyintas itu diterima Bupati Indramayu, Supendi bersama unsur Forkopimda di Pendopo Indramayu. Bupati Indramayu, Supendi sendiri menyerahkan bantuan senilai Rp7,5 juta kepada setiap keluarga.

"Kami harap bantuan ini bisa meringankan beban kedua keluarga," kata dia.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar