Yamaha Mio S

Mengungkap Pentingnya Brand dan Keunikan Diri dalam Membangun Bisnis

  Kamis, 10 Oktober 2019   Nur Khansa Ranawati
Talkshow How Creative Mind Enhance Your Bussiness di Auditorium School of Bussiness and Management Institut Teknologi Bandung (SBM ITB), Rabu (9/10/2019) malam.(ayobandung.com/Khansa)

COBLONG, AYOBANDUNG.COM -- Dalam membangun bisnis, nilai kebermanfaatan produk atau jasa yang ditawarkan bukanlah faktor tunggal yang akan menentukan kesuksesan. 

Sekali pun dapat menghadirkan hal yang berguna bagi masyarakat, apabila produk atau jasa tersebut kurang dikenal, maka potensi keberhasilannya boleh jadi tersendat.

Hal tersebut menjadi salah satu poin yang dibahas dalam talkshow How Creative Mind Enhance Your Bussiness di Auditorium School of Bussiness and Management Institut Teknologi Bandung (SBM ITB), Rabu (9/10/2019) malam.

Salah satu pembicara, Bayu Rengga Mauludi yang merupakan Co-Founder & Creative Director POT Branding House mengatakan, branding dapat membantu bisnis yang dijalankan untuk dapat lebih mudah dikenal oleh target pasar yang dituju.

"Sekarang sudah masuk era open information, pada akhirnya audiens kebingungan untuk percaya yang mana. Branding dipakai untuk mewakili karakteristik nilai yang ingin disampaikan (oleh bisnis), dan memberi percepatan pada bisnis kita untuk dikenal audiens," ungkapnya.

Branding, dia mengatakan merupakan sarana pebisnis mengkomunikasikan pesan dan menjangkau khalayak tanpa perlu banyak memberi penjelasan eksplisit. Bayu dan tim nya pernah melakukan eksperimen mengecat ulang sejumlah spanduk pedagang kaki lima agar lebih menarik termasuk bagi anak muda.

"Ini bisa membantu meningkatkan awareness audiens terhadap bisnis kita," ungkapnya.

Salah satu resep untuk memunculkan branding yang mudah dikenal, Bayu mengatakan, adalah dengan melakukan sesuatu yang tidak normatif dan memicu pro kontra atau perbincangan di kalangan khalayak.

"Pro kontra itu bakal selalu ada, justru itu bisa membantu memancing awareness audiens," jelasnya.

Hal serupa juga disampaikan seniman asal Kota Bandung, Pidi Baiq. Dia yang juga dikenal sebagai "Imam Besar The Panasdalam" tersebut mengatakan bahwa untuk dapat menjadi kreatif, seseorang harus dapat keluar dari "nilai kewajaran" di masyarakat.

"Dunia kreatif itu berbeda dengan dunia eksata. Kalau di dunia eksakta yang sama itu berarti benar, kalau di dunia kreatif, sama berarti nyontek," ungkapnya.

"Intinya harus berani keluar dari hal-hal yang sudah umum. Harus berani eksperimen," jelasnya.

Salah satu panitia acara, Bunga Mentari mengatakan, acara yang diselenggarakan oleh mahasiswa Creative Culture Enterpreneurship (CCE) Master of Bussiness Administration ITB tersebut bertujuan untuk menyebarkan pentingnya nilai seni, desain dan kebudayaan dalam berbisnis.

"Jadi mau bisnis dalam bentuk apapun, tiga hal itu saling bersinergi," ungkapnya ketika ditemui selepas acara.

Oleh karena itu, talkshow yang juga mengundang Creative Director MATOA, Yusuf Zulkibri sebagai pembicara tersebut menghadirkan para praktisi bisnis dan seniman yang masing-masing dapat mewakili poin yang ingin disebarluaskan.

Acara dihadiri oleh sekitar 200-an peserta yang mayoritas merupakan mahasiswa dari berbagai jurusan. Acara ini juga merupakan bagian dari rangakaian acara Bandung Design Bienalle yang digelar setiap 2 tahun sekali.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar