Yamaha Mio S

Kesaksian Warga Rancaekek 2 Jam Terjebak Kerusuhan di Wamena

  Kamis, 10 Oktober 2019   Mildan Abdalloh
Deni Permana, warga Rancaekek, Kabupaten Bandung yang berhasil dipulangkan ke kampung halamannya dari Wamena, Papua. (Ayobandung.com/Mildan Abdalloh)

SOREANG, AYOBANDUNG.COM -- Perasaan lega terlihat di wajah Deni Permana, korban konflik sosial Wamena asal Kabupaten Bandung. Pria kelahiran 1985 warga Kampung Lembang Gede, Desa Sangiang, Kecamatan Rancaekek, tersebut mengaku senang bisa pulang ke kampung halamannya di Bandung.

Selama lebih dari dua pekan ia harus tinggal di tempat penampungan setelah terkena imbas kerusuhan di Wamena, 23 September lalu. Deni merupakan salah satu korban kerusuhan Wamena yang dipulangkan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat (Jabar) pada Rabu (9/10/2019) kemarin.

Deni bercerita, pada 23 september pagi, seperti hari biasanya dia bersiap-siap untuk mengais rejeki di tanah Papua. Barang jualan sedang dibereskannya di rumah kontrakan yang terletak sekitaran Jalan Homhom, Wamena.

"Kira-kira pukul 09.30 WITA saat sedang membereskan barang, tiba-tiba terdengar letusan tembakan," tutur Deni di Rumah Dinas Bupati Bandung, Kamis (10/10/2019).

Deni kemudian keluar rumah untuk mencari tahu asal dari suara tembakan itu. Karena rumah kontrakannya tepat berada di sekitar Kantor Bupati Jayawijaya, tempat kerusuhan terjadi, Deni mengaku menyaksikan langsung kerusuhan yang terjadi.

"Ternyata ada kerusuhan antara aparat dengan warga mahasiswa dan orang-orang berseragam SMA," ujarnya.

Tidak lama berselang, kata dia, kerusuhan makin membesar. Deni lantas kembali ke rumah kontrakannya untuk menjauh dari konflik. Orang-orang sesama perantau turut ikut bersembunyi di rumah Deni.

Pukul 10.00 WITA, kerusuhan semakin menjadi. Sejumlah api mulai terlihat di Jalan Homhom. Deni dan beberapa temannya menyaksikan kerusuhan dari rumah kontrakan.

Perasaan waswas menyelimutinya selama bersembunyi di dalam rumah. "Para perusuh memang menargetkan orang dari luar. Kalau saya lari dari rumah, busur dan molotov sudah siap menanti. Suasananya sangat mencekam," ucapnya.

Tidak keluar rumah pun berisiko ada sweeping dari perusuh. Waktu dirasakan Deni berjalan lambat. Terlebih koneksi internet dan jaringan seluler mendadak hilang yang membuatnya tidak bisa berkomunikasi dengan pihak luar.

Bantuan akhirnya datang pada pukul 11.30 WITA. Petugas kepolisian melakukan evakuasi setelah situasi sedikit bisa terkendali.

"Pada saat evakuasi, massa sudah agak terkendali. Tapi pembakaran masih terjadi. Saat evakuasi bahkan kantor Bupati dibakar massa," ungkapnya.

Deni bersama puluhan orang lainnya kemudian dievakuasi ke markas polisi. Selama 4 hari dia bersama para korban tinggal di Mapolres Wamena yang dijadikan tempat pengungsian.

Setelah itu, dia kemudian dibawa ke Markas TNI AU Jayapura dan dipulangkan kemarin. Dua jam terjebak dalam konflik membuat Deni merasa trauma, terlebih ada rekan kerjanya yang menjadi korban kekerasan.

"Ada rekan kerja yang biasa ngambil pakaian dari saya kena bacok di badan saat kerusuhan. Untungnya tidak sampai meninggal, sekarang dia sudah di Majalengka dalam proses penyembuhan," ungkap pria yang sudah 4 tahun berjualan baju di Wamena tersebut.

Saat evakuasi, Deni harus merelakan harta miliknya. Barang jualan bernilai ratusan juta ditinggalkan begitu saja. "Ke depan saya masih pikir-pikir mau balik lagi ke sana atau tidak. Sekarang jualan juga sepi, mental juga sudah kena," tutupnya

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar