Yamaha Lexi

Bandung Macet, Ridwan Kamil Minta Pusat Segera Memaksimalkan Anggaran

  Rabu, 09 Oktober 2019   Republika.co.id
Kendaraan memadati ruas Jalan Jakarta, Kota Bandung, Selasa (3/9/2019). (Kavin Faza/Ayobandung.com)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Upaya Pemerintah Kota Bandung mengatasi persoalan kemacetan sulit dilakukan. Salah satu penyebabnya adalah keterbatasan dana sehingga pembangunan moda transportasi massal seperti kereta api masih belum optimal.

Menurut Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dengan adanya survei yang menyebut Bandung menjadi kota termacet di Indonesia memperlihatkan transportasi publik memang harus disegerakan.

Menurut Ridwan Kamil, sebagai salah satu kota metropolitan, Bandung sudah semestinya memiliki moda transportasi massal. Dengan adanya penambahan penduduk yang tinggal dan bekerja di kota ini, jangan sampai penggunaan kendaraan terus meningkat sehingga berdampak pada kemacetan.

AYO BACA : Bila Terus Bangun Fly Over, Pengamat: 5 Tahun Lagi Bandung Kolaps

"Transportasi publik itu tidak bisa menggunakan APBD (anggaran penerimaan dan belanja daerah), itu problemnya," ujar Ridwan Kamil, di Gedung Sate, Rabu (9/10/2019).

Emil mengatakan, perkembangan kota besar saat ini tidak hanya terjadi di Jakarta. kota lainnya seperti Bandung, Depok, Surabaya, hingga Makassar membutuhkan perhatian yang sama dalam transportasi publik. Ketika perhatiannya terpusat di Jakarta, kota lain sudah pasti tertinggal dalam memecahkan persoalan kemacetan.

"kalau gini-gini terus memakan waktu. Maka saya imbau kepada pemerintah pusat segera memaksimalkan anggarannya untuk menghadirkan transportasi publik yang massal di daerah-daerah metropolitan," paparnya.

AYO BACA : Pembangunan Fly Over Sebabkan Macet, Polisi Rekayasa Lalin Situasional

Saat ini, menurut Emil, moda transportasi publik yang paling pas memang kendaraan berbasis rel. Jenisnya bisa kereta seperti KRL, LRT, atau MRT.

Namun, kata Emil, anggaran untuk membangun transportasi berbasis rel memang tidak mudah. Di Jakarta misalnya, LRT yang ada sekarang anggaranya sekitar Rp5 miliar per kilometer. Kemudian untuk MRT menghabiskan sekitar Rp 1 triliun per km.

"Makanya kalau berharap pemerintah daerah yang memberikan solusi tranportasi publik tidak bisa. Di seluruh dunia juga mayoritas transportasi publik memakai federal money," kata Emil.

Sebelumnya, Pemkot Bandung mewacanakan pembangunan moda transportasi kereta tanpa rel untuk mengatasi kemacetan di Kota Bandung. Keinginan mengatasi kemacetan semakin memuncak setelah Asian Development Bank (ADB) merilis Kota Bandung menjadi kota termacet ke-14 di Asia dan urutan 1 di Indonesia.

AYO BACA : Bandung Jadi Kota Termacet, Kadishub Akui Terlalu Banyak Kendaraan Pribadi

Berita ini merupakan hasil kerja sama antara Ayo Media Network dan Republika.

Isi tulisan di luar tanggung jawab Ayo Media Network.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar