Yamaha NMax

Ketum PBNU Sebut Jokowi-Ma'ruf Simbol Kemenangan Nasionalis-Santri

  Rabu, 09 Oktober 2019   Fira Nursyabani
Wapres terpilih Ma'ruf Amin (tengah) bersama Ketua PBNU KH Said Aqil Siroj (kiri) dan Rais Aam KH Miftahul Akhyar (kanan) memberi tanggapan tentang gejolak yang terjadi di Papua usai menghadiri Pembukaan Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tokoh Muda NU di Ponpes An-Nawawi Tanara, Serang, Banten, Selasa (3/9/2019). (ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman)

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM -- Menjelang pelantikan Presiden dan Wapres RI terpilih Jokowi-Ma'ruf, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj memberikan pandangannya mengenai kedua pasangan pemimpin itu. Menurut dia, Jokowi-Ma'ruf adalah simbol kemenangan nasionalis-santri.

"Kemenangan pak Jokowi dan Kiai Ma'ruf itu simbol kemenangan nasionalis-santri," kata Said Aqil Siradj disela acara silaturahmi PDI Perjuangan dengan santri yayasan binaannya di Ponpes Luhur Al Tsaqafah, Jakarta, Selasa (8/10/2019) malam.

Said mengatakan Presiden Jokowi merupakan sosok tokoh nasionalis dan juga sekaligus santri. Hal itu karena Presiden Jokowi melakukan rukun Islam dengan baik seperti salat lima waktu, puasa Senin-Kamis, umrah, menunaikan haji.

Sementara Kiai Ma'ruf menurutnya tokoh berlatar belakang santri yang juga nasionalis. Dia menekankan dengan bersatunya nasionalis dan santri, maka segala persoalan bangsa akan selesai.

Dia mengingatkan bahwa persatuan nasionalis dan santri pada era penjajahan terbukti dapat membawa bangsa ke dalam kemerdekaan. Lebih jauh Said Aqil menekankan PBNU bersyukur bahwa di bawah pemerintahan Jokowi, Undang-Undang Pesantren sudah disahkan.

Dia juga mengaku tahu betul bahwa PDI Perjuangan termasuk partai yang turut bekerja keras hingga undang-undang itu disahkan. Dengan UU Pesantren itu, kata Said Aqil, kini santri pun naik kelas dan setara dengan mahasiswa dan pelajar.

Selain itu, dia menekankan dengan UU Pesantren maka peningkatan kualitas pesantren akan lebih terjamin. Dia pun berharap akan ada menteri yang nantinya khusus mengurusi pesantren, serta ada alokasi anggaran di APBN untuk pesantren.

Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto yang hadir mewakili partainya dalam kegiatan silaturahmi tersebut mengatakan pada dasarnya nasionalis dan santri seluruh kalangan di tanah air merupakan saudara sebangsa yang tidak bisa dibeda-bedakan.

Hasto mengatakan kekuatan nasionalis dan Nahdilyin merupakan akar kekuatan bangsa. "Kekuatan Indonedia berakar dari kekuatan nasionalis dan Nahdilyin," terang Hasto.

Pada kesempatan tersebut Hasto pun turut membagikan buku tentang Bung Karno dan Islam kepada ribuan santri Ponpes Al Tsaqafah, agar memperkuat pemahaman santri atas kontribusi santri dan nasionalis dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar