Yamaha Aerox

Mengenal Sintren dari Cirebon

  Selasa, 08 Oktober 2019   Rizma Riyandi
Sintren (republika)

Ada banyak seni dan budaya di Jawa Barat. Termasuk seni dari kawasan Cirebon. Di kota yang terkenal dengan batik trusminya itu ada yang disebut dengan sintren. Apa itu sintren? Bagaimana awal kemunculannya? Sekilas pintas mari kita bahas.

Dalam situasi perang melawan penjajah Belanda dan sangat minim dalam bekal persenjataan masyarakat Cirebon-Indramayu dan sekitarnya tidak berpangku tangan apalagi menyerah pada keadaan yang berat dan menyakitkan. Beragam pikiran, lakuan, dan gerakan terus dicetuskan dan dilaksanakan dengan penuh kesadaran.

Untuk menyiasiati perlengkapan hebat Belanda serta menguatkan semangat juang para pemuda Cirebon mengadakan latihan perang dan cara melumpuhkan lawan. Para pemuda itu melatih kekebalan badan seperti kesenian debus Banten. Ditampilkan pula taktik memerdaya lawan dengan memberdayakan kelembutan dan kekuatan gadis pilihan untuk melumpuhkan lawan.

Ketika para pemuda Cirebon melakukan startegi perang tersebut terlihat oleh para sinyo Belanda. Malah, sebagian sinyo Belanda itu ada yang larut dan terpedaya karena adegan yang dipertontonkan para pejuang Cirebon. Tanpa disengaja atraksi strategi perang tersebut dinamai sintren, yang merupakan akronimn dari sinyo (pemuda/tentara Belanda) dan trenen (latihan).

Cerita lain mengabarkan, seperti yang termuat di pelbagai kepustakaan cetak dan elektronik, kesenian sintren bermula dari kisah Sulandono sebagai putra Ki Baurekso hasil perkawinannya dengan Dewi Rantamsari. Raden Sulandono memadu kasih dengan Sulasih seorang gadis dari desa Kalisalak, namun hubungan asmara tersebut tidak mendapat restu dari Ki Baurekso, akhirnya R. Sulandono pergi bertapa dan Sulasih memilih menjadi penari. Meskipun demikian pertemuan di antara keduanya masih terus berlangsung melalui alam gaib.

Pertemuan tersebut diatur oleh Dewi Rantamsari yang memasukkan roh bidadari ke tubuh Sulasih, pada saat itu pula R. Sulandono yang sedang bertapa dipanggil oleh roh ibunya untuk menemui Sulasih dan terjadilah pertemuan di antara Sulasih dan R. Sulandono. Sejak saat itulah setiap diadakan pertunjukan sintren sang penari pasti dimasuki roh bidadari oleh pawangnya, dengan catatan bahwa hal tersebut dilakukan apabila sang penari masih dalam keadaan suci (perawan).

Atas kisah cinta R. Sulandono dengan Sulasih maka kesenian sintren juga dikenal sebagai akronim dari She in trance, yang berarti penari perempuan yang sedang kerasukan. Dalam tataran ini, buana panca tengah melakukan kontak batin dengan buana nyungcung. Maka, bukan hal yang asing religiositas sangat berasa kala kesenian sintren berlangsung.

Orang Indonesia, khususnya Sunda dan Jawa, memang termasuk mahir dalam menyingkat kata. Bahkan kesenian sintren juga dikiratakeun sebagai sesantrian. Sebab sebagian pelaku kesenian sintren menggunakan pakaian dan lakuan seperti santri.

Meski sangat berasa unsur religiositas, bahkan beraroma bau magis dan mistis, kesenian ini hingga kini masih hidup dan berkembang di pelbagai wilayah di Cirebon, Indramayu, Kuningan, bahkan hingga Brebes dan Banyumas.

Busana yang digunakan penari sintren pada saat datang hanya kebaya dan kain. Kemudian ketika keluar dari kurungan penari mengenakan busana yang biasa mereka sebut dengan busana golek. Baju Golek, yaitu pakaian yang biasa dipakai oleh penari golek berupa kebaya tanpa lengan.

Kain atau jarik batik, yang dipakai sebagaimana biasa perempuan jawa memakainya. Sabuk, tempat untuk menggantungkan sampur atau selendang. Sampur atau selendang yang dililitkan di pinggang sebagai alat untuk menari. Jamang, yaitu perhiasan kepala semacam topi yang dihiasi untaian melati di kiri kanan telinga sebagai koncer. Kaos kaki dan kacamata hitam yang berfungsi sebagai penutup mata pada saattrance.

Lazim kesenian masyarakat pesesisir, kesenian sintren kerap dilakukan di ruang terbuka. Tak ada batas pemain dan penonton sintren. Bahkan, sebisa dapat pemain dan penonton sintren larut dalam pagelaran.

Pagelaran macam itu menandaskan masyaraat Cirebon amat menghargai kebersamaan. Tidak ada jurang pembeda atas nama jabatan, kekayaan, jenis kelamin, dan pelbagai status sosial.
Demi NKRI dan keragaman budaya yang banyak mengandung nilai-nilai luhur, mari kita lestarikan dan kembangkan kesenian sintren dari Cirebon.

Neneng Ratna Suminar

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar