Yamaha NMax

Bila Terus Bangun Fly Over, Pengamat: 5 Tahun Lagi Bandung Kolaps

  Selasa, 08 Oktober 2019   Nur Khansa Ranawati
Kendaraan memadati ruas Jalan Jakarta, Kota Bandung, Selasa (3/9/2019). (Kavin Faza/Ayobandung.com)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM—Hasil penelitian yang diiniasiasi oleh Asian Development Bank (ADB) mengenai kemacetan Kota Bandung belakangan ini ramai diperbincangkan. Pasalnya, isinya mengungkap bahwa Bandung memiliki tingkat kemacetan yang lebih parah dari Jakarta.

Di tingkat Asia, Bandung berada di urutan ke-14 kota termacet dari total 278 kota yang diteliti. Sementara itu, DKI Jakarta berada di urutan ke-17, dan Surabaya di urutan 20. Guna mengatasi kemacetan di ibu kota Jawa Barat ini, Pemerintah Kota Bandung bekerja sama dengan pihak lainnya, tengah getol membangun infrastruktur baru untuk menambah ruas jalan kota.

Beberapa yang tengah berlangsung antara lain pembangunan fly over Jalan Jakarta-Supratman dan Jalan Gatot Subroto-Laswi. Dua pembangunan tersebut rencananya segera disusul dengan pembangunan sejumlah fly over lagi selama lima tahun masa  pemerintahan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bandung Oded M. Danial dan Yana Mulyana.

ayobdg-kemacetan-jelang-ground-breaking-pembangunan-flyover-kavin-faza3

AYO BACA : Setahun Oded-Yana: Birokrasi dan Tata Kota, Pengamat Beri Nilai Empat

Menanggapi hal tersebut, Pakar Transportasi Publik ITB, Sony Sulaksono, mengatakan, bila upaya dalam mengurangi kemacetan terus dilakukan dengan paradigma membangun infrastruktur jalan baru, diperkirakan Kota Bandung akan 'kolaps' karena kemacetan dalam lima tahun ke depan.

"Lima tahun ke depan Bandung akan kolaps kalau orientasinya hanya membangun infrastruktur. Akan berantakan, acakadut," ungkapnya ketika dihubungi Ayobandung.com, Selasa (8/10/2019).

Dirinya menilai, Pemkot Bandung tidak belajar dari pembangunan fly over yang sebelumnya telah ada, seperti fly over Kiaracondong dan fly over Pelangi, Antapani. Menurutnya, kedua fly over tersebut hingga kini tidak berhasil mengurai kemacetan kota.

"Tidak menyelesaikan masalah, hanya menggeser macet. Di atas fly over Kircon (Kiaracondong) mungkin lancar, tapi di bawah jalannya mati karena pasar semua pindah ke jalan. Ini malah membuat masalah lebih kompleks," jelasnya.

AYO BACA : Oded Targetkan Bangun 7 Jembatan Layang di Bandung

"Saya kira mereka enggak belajar pada dampak buruk fly over. Terasanya ya tiga sampai empat tahun ke depan," tambahnya.

ayobdg-kemacetan-jelang-ground-breaking-pembangunan-flyover-kavin-faza4

Membangun fly over, Sony mengatakan, tidak menyelesaikan akar permasalahan karena hanya berupaya menambah lancar pergerakan kendaraan, tanpa menambah opsi memudahkan pergerakan manusia. Pada akhirnya, masyarakat akan berorientasi pada penggunaan kendaraan pribadi dalam melakukan mobilisasi sehari-hari.

"Fly over dan rekayasa lalin itu untuk mobil. Seharusnya bicara untuk pemindahan orang, bagaimana dapat memindahkan orang (mobilitas) tanpa membuat macet dan riweuh. Kalau 30 orang bergerak pakai mobil semua, jalan juga lama-kelamaan tidak akan cukup. Belum lagi keterbatasan lahan parkir. Seharusnya berpikir bagaimana menggerakkan 30 orang tanpa menambah kemacetan, dengan nyaman, aman, dan murah," paparnya.

Bila berorientasi pada mobilitas orang, dia mengatakan, pemerintah seharusnya berfokus pada penambahan variasi pilihan kendaraan untuk peripindahan warga dari satu tempat ke tempat lainnya. Pembenahan transportasi publik dalam konteks ini adalah hal yang harus menjadi perhitungan.

"Orang itu idealnya harus punya variasi pilihan untuk berpindah tempat, di mana masing-masing pilihan itu tetap aman dan nyaman, bisa naik sepeda, angkot, bus, motor, mobil, banyak alternatif. Jangan hanya tambah infrastruktur untuk mobil yang akhirnya menambah macet," jelasnya.

AYO BACA : Pembangunan Fly Over Sebabkan Macet, Polisi Rekayasa Lalin Situasional

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar