Yamaha Aerox

Kontekstualisasi Gerakan Mahasiswa Sekarang

  Senin, 07 Oktober 2019   Dadi Haryadi
Mahasiswa melakukan aksi unjuk rasa menolak RUU KUHP dan UU KPK. (Irfan Al-Faristis/Ayobandung.com)

Sejarah gerakan mahasiswa besar-besaran terjadi kembali terjadi di kota-kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta. Rencana pengesahan RUU KUHP serta ketok palu persetujuan berlakunya UU KPK merupakan alasan utama terjadinya gerakan mahasiswa yang masif. Tidak sedikit yang pada akhirnya bergabung dengan kelompok mahasiswa di Jakarta untuk sama-sama saling menumbuhkan solidaritas mengenai apa yang perlu diperjuangkan.

Gerakan mahasiswa di Indonesia jelas memiliki sejarah panjang hingga negara ini ada dan merdeka, ditambah gerakan-gerakan sejenis untuk menyampaikan aspirasi mahasiswa terhadap fenomena sosial yang dialami masyarakat. Gerakan-gerakan tersebut bahkan bisa menjadi sangat politis mengingat akan ada keterdukungan dari pihak yang berkepentingan dalam politik negara, akan tetapi dalam kehidupan demokrasi, ini merupakan hal wajar.

Sejumlah besar masyarakat tidak segan-segan mengkritik keras gerakan mahasiswa yang turun ke jalan-jalan. Mereka sempat menyesalkan mengapa mereka sampai harus turun ke jalan, sementara sebagai bagian dari civitas academica, mereka dianggap seharusnya mampu menyuarakan ketidaksetujuan melalui mekanisme lembaga-lembaga negara, di sini Mahkamah Konstitusi, jika ingin mengkritisi RUU KUHP dan UU KPK dengan cara yang lebih santun dan formal.

Terlepas dari kritikan masyarakat terhadap mereka, sadarkah kita bahwa negara ini ada karena kontribusi gerakan mahasiswa? Ingatkah masa-masa mempertahankan Pancasila serta gerakan anti korupsi telah dimulai dari jaman permulaan orde baru? Dan, semua ada karena gerakan mahasiswa yang turun ke jalan mewakili rakyat.


Aktivisme Gerakan Mahasiswa

Sejarah dunia pun bahkan tidak terlepas dari kontribusi gerakan mahasiswa demi memperjuangkan banyak isu, mulai dari hak asasi secara umum, kesetaraan, anti perang, hak perempuan dalam pemungutan suara, serta hal- hal yang bersifat kritik kepada pemerintah, seperti undang-undang dan korupsi. Janani Harish, seorang analis riset ilmu sosial di India, menggarisbawahi bahwa pendidik dan pelajar, termasuk mahasiswa, merupakan komponen penting dari lingkaran masayarakat. Kapasitas pengetahuan dan empati terhadap jeritan masyarakat yang merasa diwakili mereka memungkinkan mahasiswa, terutama, untuk melakukan gerakan-gerakan sosial untuk membantu mewakili suara masyarakat. Pun, yang dilakukan oleh mahasiswa di jalan menyuarakan kekhawatiran masyarakat akan pengesahan RUU KUHP dan UU KPK oleh pemerintah. 

Jika melihat ke masa lalu, 1960 an di California Utara, USA, Ezel Blair, David Richmond, Joseph Mc Neil, dan Franklin Mc Cain, melakukan aksi tak terduga, yaitu menolak pergi dari tempat makan Woolworth's Lunch Corner. Mereka melakukan gerakan anti pemisahan tempat makan terhadap kulit hitam yang dikuti oleh masyarakat lainnya. Gerakan ini populer dengan Greensboro Sit-Ins dan menjadi tonggak penyusunan Civil Right Acts pada tahun 1964. 

16 Juni 1976, ribuan pelajar di Johannesburg, Afrika Selatan melakukan aksi anti politik apartheid, namun aksi itu tercoreng ulah aparat yang memberondong mereka dengan peluru dan gas air mata. Lalu, Velvet Revolution 1989 beberapa waktu setelah kejatuhan tembok Berlin, 500.000 orang dengan dominasi mahasiswa berunjuk rasa menentang pemerintahan di bawah partai komunis Cekoslovakia karena adanya sentimen sosial dan kecemburuan akan etnisitas nasional. 

Indonesia juga tumbuh sebagai negara besar karena kontribusi gerakan mahasiswa. 1966, merupakan tonggak utama gerakan mahasiswa turun ke jalan untuk mendukung orde Baru dan menentang Partai Komunis Indonesia, lalu gerakan pada tahun 1971-1972 yaitu menyuarakan golput karena partai Golkar dianggap curang, lalu menentang pembanguan TMII karena banyak menggusur masyarakat kecil, serta memprotes status quo pemerintah orde Baru yang mengatur pemilu, partai politik, serta DPR/MPR/DPRD melalui UU pemilu sehingga mencetuskan Deklarasi Golongan Putih pada 28 Mei 1971. Jangan lupakan pula gerakan mahasiswa pada tahun 1998 yang berhasil berkontribusi terhadap turunnya rejim orde Baru selama 32 tahun berkuasa dan menduduki gedung DPR/MPR.

 

Kontekstualisasi Gerakan Mahasiswa

Berberapa pertanyaan signifikan terkait aksi demo mahasiswa saat ini dengan tujuan mengkritisi RUU KUHP dan UU KPK menyeruak ke permukaan, seperti siapa saja yang berada di balik gerakan tersebut dan apakah mereka sudah mengetahui konteks masalah yang akan dikritisi melalui pemahaman baca draft RUU dan UU terkait. Kontekstualisasi yang terus diragukan publik karena mereka menganggap mahasiswa seharusnya dapat menyalurkan aspirasi dengan cara yang lebih santun dan formal melalui lembaga-lembaga negara terkait. 

Aksi demo dimana pun akan membawa resiko, terutama jika melibatkan ribuan orang turun ke jalan. Kekerasan sulit untuk dihindari dan kondisi seperti ini yang menambah apatisme masyarakat terhadap gerakan mahasiswa yang semakin dinegasikan keberadaannya. 

Di satu sisi, sejarah membuktikan bahwa melek politiknya mahasiswa serta empati terhadap isu-isu sosial krusial membentuk mereka menjadi kelompok yang bisa diandalkan sebagai agen perubah sosial. Kematangan pola pikir dan membaca secara komprehensif literatur dan pemetaan kondisi di lapangan merupakan modal dasar mereka.

Rakyat masih mengandalkan mereka ketika semua jalur formal sudah dianggap mampu untuk mengakomodir aspirasi mereka. Tentunya diharapkan gerakan mahasiswa yang sifatnya damai dan jelas kontekstualisasi perjuangannya karena mahasiswa masih dianggap, selain agen perubahan sosial, dapat memberikan dampak nyata untuk mempengaruhi pemegang kekuasaan dan pembuat keputusan dalam bentuk undang-undang. Semoga publik dapat menghargai dan mengapresiasi gerakan mahasiswa yang turun ke jalan dengan positif dan sama-sama saling menyuarakan aspirasi dengan baik. 

Fanny S Alam 
Koordinator Kota Bhinneka Nusantara Foundation Region Bandung

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar