Yamaha

Hindari Perceraian, Pasutri Sering Bertengkar Diminta Konsultasi ke Psikolog

  Senin, 07 Oktober 2019   Fira Nursyabani
Ilustrasi pernikahan. (ANTARA FOTO/Adeng Bustomi)

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM -- Sekretaris Lembaga Kemasyarakatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKK NU) Alissa Wahid mengatakan usia perkawinan 4-7 tahun rentan pertengkaran.

"Sebetulnya itu kalau dari psikologi karena gak tahan aja. Jadi mulai dari usia perwakinan mulai dari empat sampai tujuh tahun pasti banyak berantemnya, itu berdasarkan riset," kata Alissa dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Senin (7/10/2019).

AYO BACA : Pemda Diminta Segera Revisi Perda Tentang Usia Minimal Perkawinan

Putri presiden ketiga Indonesia, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), itu mengatakan saat ini semakin banyak perkawinan yang umurnya di bawah lima tahun karena sangat mudah pasangan suami istri untuk bercerai. Bahkan, yang banyak menggugat cerai justru adalah istrinya.

Dia mengatakan pada masa usia perkawinan tersebut akan mulai banyak terjadi perbedaan-perbedaan pendapat suami istri sehingga perlu berkonsultasi kepada psikolog. Jika setelah konsultasi masih terus bertengkar maka harus bersabar selama 6,5 tahun.

AYO BACA : Sah, Batas Usia Perkawinan Jadi 19 Tahun

"Kalau sudah konsultasi masih terus saja berantrem. Saya biasanya bilang begini, sabar, jalani hari demi hari, tawakkal, berusaha terus, ditahan sampai 6,5 tahun, karena kalau sudah 6,5 tahun nanti meredah. Kenapa? karena perjalanannya nanti sudah berubah lagi tantangannya," kata Alissa.

Menurut dia, LKK NU sudah memiliki konsep sendiri tentang keluarga maslahah sehingga konsep itu diluncurkan untuk menjadi sebuah gerakan bersama ke depannya. "Konsep keluarga maslahah itu sudah jadi dan kita luncurkan sekarang untuk menjadi sebuah gerakan keluarga maslahah," kata dia.

Ketua LKK NU, Ida Fauziyah, mengatakan konsep keluarga maslahah itu tidak cukup hanya menjadi keluarga sakinah mawaddah warahmah tapi juga harus memberikan kebaikan kepada lingkungannya.

"Keluarga maslahah itu dalam bahasa yang sederhananya kita mengatakan, tidak cukup hanya sakinah mawaddah warahmah tapi harus memberikan maslahah atau kebaikan bagi keluarganya ataupun lingkungannya," ungkap dia.

AYO BACA : Perubahan UU Perkawinan Dinilai untuk Ciptakan Keluarga Bahagia

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar