Yamaha

Galecho, dari Tugas Mata Kuliah Hingga Jadi Kuliner Ikon Kampus

  Jumat, 04 Oktober 2019   Andres Fatubun
Galecho alias perpaduan galendo & cokelat hitam kreasi mahasiswi Universitas Muhammadiyah Bandung.

CIBIRU, AYOBANDUNG.COM -- Galendo adalah makanan khas dari Jawa Barat khususnya Kabupaten Ciamis. 

Makanan yang satu ini biasa disajikan untuk makanan ringan atau makanan penutup. Galendo sendiri terbuat dari ampas kelapa yang dimasak.

Whats-App-Image-2019-10-02-at-10-42-24-1

Di tangan mahasiswa yang kreatif, galendo diubah menjadi makanan yang disukai generasi milineal. Salah satunya dilakukan oleh dua mahasiswi Univeristas Muhammadiyah Bandung, Sofi dan Ina, yang membuat formulasi galendo dengan tambahan cokelat hitam.

Ide tersebut muncul saat keduanya mendapat mata kuliah wirausaha pangan di kelasnya.  

“Awalnya tuh pas ada matakuliah wirausaha pangan. Kita tuh disuruh nyari-nyari ide terus dipilihlah. Kemudian yang terpilih beberapa produk di antaranya ceker, bandrek dan produk kami galecho,” paparnya pada ayobandung Selasa (1/10/2019) siang.

Galendo yang sudah dimodifikasi bersama cokelat diberi nama sebagai galecho. 

Komposisi yang terdapat dalam produk ini murni hanya galendo dan cokelat hitam saja tanpa ada bahan tambahan lainnya.

Karena tanpa bahan pengawet, galecho hanya bisa tahan selama satu bulan saja dalam kondisi suhu yang dingin. 

AYO BACA : Berawal dari Stalking Berbuah Penghasilan

Satu buah galecho berukuran 30gr dijual dengan harga Rp7000. Satu barnya terdiri dari empat potong galecho.

Sampai saat ini pemasaran galecho baru di sekitar area kampus saja dan pengadaannya pun hanya sesuai permintaan pembeli saja. 

Permintaan dapat meningkat ketika banyak acara yang diselenggarakan oleh pihak kampus. Selain dijadikan doorprize, galecho ini juga dijadikan souvenir bila ada tamu kampus yang berkunjung.

“Soalnya sudah ada amanah dari Pak Rektor, sudah minta gitu kalau misalnya ada yang berkunjung oleh-olehnya itu galecho,” jelasnya.

Modal awal dalam bisnis ini sekitar Rp500.000 sudah termasuk bahan dan alat yang dipakai saat produksi. 

Sofi juga menuturkan bahwa galecho sudah masuk ke layanan Go Food namun ia akui bahwa cara tersebut belum maksimal. Waktu menjadi kendala utama yang dihadapi kedua mahasiswa tersebut.

“Iya udah coba masukin juga ke Go Food tapi yaitu belum maksimal. Kan kalau diaplikasi itu kita harus selalu siap sedia nih sedangkan kita masih sering berbenturan antara waktu kuliah dan produksi” jelasnya.

Jika permintaan sudah di atas 60 buah, maka galenco ini tidak bisa dilakukan sendiri. Sehingga seringkali Sofi dan Ina membagi tugas dalam hal produksi dan pengemasan.

Sebagai upaya pengenalan kepada masyarakat produk galecho ini juga pernah dipamerkan dalam acara IBL atau Indonesia Bisnis Link yang dihadiri oleh Menteri UMKM di Jakarta. galecho ini juga cukup mendapat respon yang baik karena bentuk dan namanya yang unik. (Dias Ashari/magang)

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar