Yamaha

Berawal dari Stalking Berbuah Penghasilan

  Jumat, 04 Oktober 2019   Andres Fatubun
Sofianti Aulia Fatonah dan cilok kreasinya. Dengan modal Rp38.000 ia bisa menghasilkan Rp300.000 dalam sebulan. (Dias Ashari/magang)

CIBIRU, AYOBANDUNG.COM -- Ide sebuah bisnis bisa muncul kapan dan dimana saja. Tak terkecuali dengan media sosial seperti instagram. Hal tersebut dialami oleh Sofianti Aulia Fatonah sebagai mahasiswa di kampus Universitas Muhammadiyah Bandung.

Whats-App-Image-2019-10-02-at-10-27-54-1
Mahasiswa yang pernah mengenyam kuliah D1 jurusan tata boga ini memang memiliki hobi memasak. Tah heran begitu ide muncul langsung saja dieksekusinya.

“Awalnya pas stalking di instagram biasa lihat-lihat kuliner. Nah kebetulan disana banyak yang jual cilok terus kepikiran deh buat bikin cilok juga tapi yang beda tentunya” ujar Sofi saat ditemui ayobandung Selasa (1/10/2019) siang.

Cilok Crispy Piee memang terdengar sangat sederhana sekali. Sebuah nama produk cilok yang diberi tambahan nama pemiliknya. Hal tersebut memang sengaja dibuat agar lebih familiar di telinga masyarakat.

“Iya sebetulnya diambil dari nama panggilan saja “ piee”, ya sudah dipakai saja soalnya biar simple tapi mudah diingat oleh pembeli” tambahnya.

Bisnis yang sudah dimulai sejak tahun 2018 ini diawali dengan modal Rp38.000 yang terdiri dari tepung tapioka, tepung panir, garam serta bumbu lainnya

“Modal awal sekitar Rp38.000 tapi kalau ditambah saus dan kemasan habis sekitar Rp150.000. Namun untuk keduanya memang nggak langsung habis, cukuplah untuk tiga hari” ungkapnya.

Mulanya Sofi membuat berbagai macam varian rasa dalam ciloknya mulai dari rasa original, sambal ijo, keju, abon dan ayam. Namun karena kesibukan kuliahnya kini Sofi hanya memfokuskan kepada satu rasa original saja.

Tapi bagi konsumen yang meminta varian rasa yang bebeda tetap akan disediakan dengan catatan pesanan baru bisa selesai setelah dua hari.

Satu bungkus berisi kurang lebih 20 buah cilok yang masih mentah dengan tambahan saus dan mayones. Harganya sangat memasyarakat sekali cukup bayar Rp5000 saja bisa langsung menikmati sekumpulan bola krispi yang renyah di mulut.

Cara pembuatannya hampir sama dengan cilok pada umumnya. Tepung tapioka ditambah dengan air. Setelah rata langsung dibentuk ukuran menyerupai kelereng dan sajian akhir yang berbeda adalah ketika ditambahkan tepung panir. Inilah rahasia krispi dari cilok tersebut.

Dalam satu bulan Sofi bisa mendapat laba bersih sekitar Rp300.000 jika pemesanan sedang ramai. Namun jika sepi ia hanya mendapat sekitar Rp150.000. Meskipun untungnya masih kecil namun dari uang itu bisa digunakannya untuk biaya transportasi ke kampus.

“Iya Alhamdulillah meski untungnya engga banyak tapi bisalah buat bantu-bantu ortu. Jadi engga dikit-dikit minta. Alhamdulilllah bisa buat ongkos pp, beli pulsa dan kebutuhan sehari-hari lainnya” jelasnya.

Untuk pemasarannya sendiri Sofi membuat dua metode yaitu online dan offline. Jika sedang tidak ada kegiatan dirinya bisa maksimal mempromosikan produknya lewat facebook hampir tiap hari. Namun ketika sibuk dirinya hanya bisa melakukan promosi setidaknya dua minggu sekali. Untuk menambah omzet produk cilok ini juga dijual di Grab Food.

Sedangkan untuk sistem offline sendiri Sofi biasanya menawarkan barangnya kepada teman-teman di kampus atau dititipkan di warung tantenya.

Sampai saat ini Sofi masih memproduksi semuanya sendiri. Saat ingin merekrut karyawan dirinya mengaku masih belum siap. Permasalahan finansial menjadi faktor utamanya. Namun untuk kedepannya setelah memiliki keberanian yang cukup dirinya juga punya harapan agar bisa memberdayakan minimal warga sekitar rumahnya.(Dias Ashari/magang)

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar