Yamaha

Maknyos, Mandi Keringat Makan Sambel Hejo Sari Rasa

  Selasa, 01 Oktober 2019   Dede Nurhasanudin
Sambel Hejo Sari Rasa. (ayopurwakarta.com/Dede)

PURWAKARTA, AYOBANDUNG.COM--Kuliner adalah salah satu paling diburu wisatawan disamping objek wisata dalam suatu daerah.

Khususnya di Kabupaten Purwakarta banyak terdapat kuliner khas, semisal sate maranggi, tape (peuyeum) Bendul, simping dan lainnya.

Selain itu, terdapat juga panganan khas sunda dengan brand Sambel Hejo, di Jawa Barat siapa yang tidak kenal dengan makanan yang satu ini.

Bahkan tempat-tempat makan yang mengandalkan menu ayam kampung goreng dan sambal serba hijau itu selalu penuh sesak oleh pengunjung di berbagai daerah.

Tapi, tahukah Anda asalmuasal Sambel Hejo ternyata dari Purwakarta, tepatnya dari salah satu kedai sederhana di Jalan Raya Nagrak, Desa Nagrak, Kecamatan Darangdan.

AYO BACA : Cara Mengatasi Anak yang Tak Suka Makanan Rumah

Keberadaan kedai ini selintas tidak akan terlihat karena bukan merupakan bangunan mencolok, apalagi posisinya berada di jalur cepat. Hanya papan nama yang terpasang di bagian depan bangunan bertuliskan Sambel Hejo Sari Rasa.

Di masa kejayaannya, Sambel Hejo Sari Rasa menjadi tempat favorit untuk makan siang. Meskipun lokasinya cukup jauh, tidak menghalangi penikmat ayam goreng untuk menyambanginya.

Jika keluar tol Jatiluhur, dari lampu merah langsung mengambil arah kanan, jaraknya sekitar 20 kilometer menuju ke Kecamatan Darangdan.

Di kedai sederhana ini Yanti (47) menjadi generasi ketiga yang tetap mempertahankan menu utama ayam kampung goreng dan sambal serba hijau.

Dua panganan itu seakan sulit dipisahkan, harus disantap berbarengan agar menciptakan sensasi resep karuhun (leluhur) di lidah. Yang menarik, daging ayam tidak digoreng garing, melainkan setengah matang menggunakan tungku dengan kayu bakar.

AYO BACA : Kuliner Bandung: 5 Tempat Makan Eskrim Enak di Bandung

“Goreng ayamnya terkesan basah berwarna kuning. Kami menggunakan kunyit sebagai pewarna pada ayam itu. Meskipun digoreng setengah matang, ayamnya tetap empuk karena sebelum digoreng ayam kampung tersebut diungkeb terlebih dulu,” ungkap Yanti, akhir pekan kemarin.

Dia pun bercerita, bumbu dan cara memasak ayam seperti itu merupakan resep yang dipertahankan secara turun-temurun. Yanti tidak berani memodifikasi atau menambah varian bumbu pada ayam gorengnya. Cita rasa ayam saat ini dipastikan sama dengan ayam goreng yang disantap pada masa 1960-an di warung ini.

Ketika itu, H Warta memperkenalkan ayam goreng setengah matang sebagai menu yang benar-benar baru kepada publik di zaman Orde Lama. Begitu pula sambal hijau yang disajikan, merupakan panganan jadul.

Dari dulu sampai saat ini tetap menggunakan komposisi sama, yaitu tomat hijau, cabai rawit hijau, bawang merah, dan kencur sehingga yang tampak sambal berwarna hijau.

Begitu dicolek dengan lalapan segar, akan terasa perpaduan asam, pedas, dan hangat kencur, sehingga cukup menggugah nafsu makan. Di samping dua jenis panganan, penyajiannya juga sangat sederhana, yakni nasi sebakul plus ayam goreng setengah matang, perkedel kentang, lalapan segar, dan sambal hijau disajikan untuk makan lesehan.

Ihwal harga, mungkin bagi sebagian orang terbilang mahal, yakni satu porsi ayam kampung goreng dibanderol Rp80.000, sedangkan nasi Rp7.000 per orang, dan perkedel kentang Rp3.000 per potong. Sambal hijau dan lalapan segarnya bebas biaya alias gratis. Namun, harga tersebut cukup sebanding dengan cita rasa yang ditawarkan.

Selain itu, Yanti mengatakan, yang mengembangkan kedai Sambel Hejo ini adalah sepupunya, antara lain di Jalan Natuna Kota Bandung dan Rest Area Km 88. "Tapi, dari beberapa tempat itu kedai di Jalan Natuna termasuk banyak penggemarnya. Bahkan pengunjung selalu banyak, terutama saat jam makan siang," ujar dia.

AYO BACA : Baso Tongseng Khas Batembat Ramaikan Khasanah Kuliner Cirebon

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar