Yamaha

TNI Bergerak, Rakyat Tergerak Wujudkan Revolusi Mental Citarum Harum

  Minggu, 29 September 2019   Arditya Pramono
TNI bersama masyarakat membersihkan Sungai Citarum (Ayobandung.com)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Tangan Eno Sukarno tekun menggenggam sebilah galah panjang di suatu sudut pinggir jembatan di suatu pagi pertengahan Maret 2018 lalu. Galah sepanjang dua setengah meter itu ia arahkan ke sana ke mari memburu sampah yang sedari subuh mulai berdatangan. Sesekali Eno berpindah tempat, atau berganti peran dengan kawan-kawannya jika ia mulai merasa bosan.

Bersama beberapa tetangga yang rata-rata sudah di atas kepala lima, pria berusia tujuh puluh dua ini terlibat dalam kerja bakti pembersihan Sungai Cikapundung. Anak Sungai Citarum itu membelah dua perkampungan yakni Babakan Leuwibandung di Kecamatan Bojongsoang dan Cipurut di Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung.

Hingga menjelang siang, kumpulan pria paruh baya ini masih saja berlalu lalang di atas jembatan sepanjang lima meter yang berdiri di atas sungai. Warga menyebutnya sebagai Jembatan Rel karena bangunan itu didirikan oleh PT. KAI.

Tiada henti mereka melolongkan tatapan melawan arus aliran sungai. Sejauh mata memandang, sampah-sampah terus berdatangan. Menurut Eno, sampah itu adalah kiriman yang berasal dari berbagai wilayah di Kota Bandung, seperti Sukabirus, Dayeuhkolot, dan kawasan sekitar Pasar Kordon, Buahbatu.

"Biasanya itu sampah kiriman dari sana (Sukabirus dan Pasar Kordon). Di sini kemarin pas banjir gede sampahnya lebih banyak lagi. Dari awal banjir sampai sekarang sampahnya terus berdatangan, enggak berhenti," kata Eno.

Dia dan kawan-kawannya sudah bisa memprediksi bahwa sampah hari itu akan tiba. Hujan deras yang terjadi hampir semalaman di hari sebelumnya menjadi pemantik. Beberapa hari sebelumnya, sampah kiriman datang dalam jumlah yang lebih masif. Kala itu, hujan yang lebih deras datang. Bukan cuma sampah, hujan juga membuat jutaan kubik air yang menggenang kawasan segitiga banjir Dayeuhkolot-Bojongsoang-Baleendah.

Whats-App-Image-2019-09-29-at-16-32-09

Kondisi Sungai Cikapundung, anak Sungai Citarum, pada Maret 2018.

Dan hujan deras di hari sebelum Eno bekerja bakti, semakin menambah volume banjir yang belum surut di beberapa titik. Beruntung kampung Eno tidak berada di daerah genangan, sehingga ia masih bisa berdiam di kampung dan menjaring sampah-sampah jahanam yang terus berdatangan.

Eno sesekali mengaso sambil menyesap batangan kretek di ujung bibirnya. Nampak nikmat. Namun, jauh di dalam benaknya, ia sudah merasa lelah. Entah berapa kali ia beristirahat tapi belum bisa pulang sebab sampah yang berada di bawah jembatan belum juga beranjak.

Di kala rasa lelah itu makin menjadi, bala bantuan mulai berdatangan. Sebuah alat berat pengangkut sampah diturunkan. Mesin itu, yang dibawa susah payah melewati jalan sempit perkampungan, dikendalikan oleh seorang tentara. Beberapa lainnya ikut turun gunung membantu warga.

Sekilas, apa yang terjadi suatu pagi pada awal 2018 di Babakan Leuwibandung itu memang persis nampak seperti narasi heroisme murahan yang acap muncul dalam film-film layar lebar. Namun yang sebenarnya terjadi secara kronologis memang tak begitu berjarak dari apa yang telah digambarkan.

Gelora Citarum Harum

Para serdadu itu datang bukan tanpa alasan. Mereka diminta keluar dari barak atas mandat langsung Presiden Joko Widodo. Mereka memang ditugasi secara khusus menjadi pion terdepan dalam pembersihan sungai yang kerap dilabeli sebagai yang paling tercemar di dunia ini. Titah langsung presiden kepada para prajurit korps TNI dituangkan dalam Peraturan Presiden Nomor 15 Tahun 2018 tentang Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan DAS Citarum.

Dalam Perpres tersebut, TNI diberi banyak tugas dan kewenangan, salah satunya melakukan berbagai rencana serta eksekusi operasi penanggulangan pencemaran dan kerusakan DAS Citarum bersama elemen lain. Dalam Pasal 12 Perpres, diinstruksikan pula agar Panglima TNI memberikan dukungan personel dalam pengendalian DAS Citarum termasuk memobilisasi peralatan operasi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Lewat seperangkat mandat itulah, TNI berpartisipasi aktif dalam beragam upaya pencegahan dan penanggulangan berbagai potensi kerusakan atas sungai terpanjang di Jawa Barat ini. Tak cuma sebagai pion terdepan, signifikansi TNI dalam Gerakan Citarum Harum ini secara genealogis bisa dilacak lebih jauh lagi. Sebermula dari kegerahan sang pencetus Doni Monardo yang kala itu menjadi panglima Kodam III/Siliwangi, Citarum Harum akhirnya menjadi gerakan skala nasional yang diadopsi presiden dan melibatkan puluhan kementerian/lembaga dan elemen lainnya yang merentang dari tingkat pusat hingga daerah.

Seluruh kementerian/lembaga yang terlibat ini diberi nama Tim DAS Citarum dan berada di bawah komando Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan sebagai Ketua Pengarah. Dari level pusat hingga daerah, semua dilibatkan. Tak ada limitasi-limitasi sektoral, semuanya saling bersinergi dan berkoordinasi, tak terkecuali elemen masyarakat. Keterpaduan ini menjadi kata kunci lain yang secara generik membedakan Citarum harum dengan proyek-proyek sebelumnya.

Program revitalisasi Citarum memang bukan sesuatu yang sama sekali baru. Telah beberapa kali pemerintah menggonta-ganti jurus untuk memuluskan cita-cita mengembalikan kondisi Citarum seperti sedia kala. Pada periode 2000-2003, pernah ada program Citarum Bergetar. Kata “bergetar” ialah singkatan bersih, geulis dan lestari. Setelahnya, terbit Integrated Citarum Water Resources Management Investement Program (ICWRMIP) atau Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu di Wilayah Sungai Citarum dengan jangka waktu program 2008-2023. Namun belum tuntas program itu, muncul lagi “Citarum Bestari” pada 2018. Seluruh program tersebut tak meninggalkan jejak yang membekas dan menguap di tengah jalan.

Selain keterpaduan dan faktor ‘keterlibatan’ Jokowi, keterlibatan TNI dalam kerja-kerja pemeliharaan ekosistem di lapangan menjadi determinan lain yang tak kalah menentukan prospek keberhasilan program strategis nasional ini. Diakui atau tidak, sejak awal, gerak-gerik para tentara yang turun dari barak ini amat menyita perhatian. Dalam praktiknya, mereka menjadi komandan sekaligus patron bagi masyarakat yang ingin menjadi partisipan dalam gerakan Citarum Harum.

Sangat jamak ditemui personel TNI dan masyarakat saling bahu membahu membersihkan Citarum dari berbagai jenis material sampah padat. Untuk menekan kadar pencemaran akibat limbah cair, Satgas Citarum Harum juga kerap melakukan inspeksi mendadak guna mengecek saluran-saluran IPAL yang ada di pabrik-pabrik sepanjang DAS Citarum.

Pengendalian ekosistem di sektor hilir juga dilakukan dengan berbagai taktik dinamis guna mengembalikan kondisi sungai sehingga bisa menjadi lebih bersih. Beberapa taktik yang dilakukan di antaranya ialah bersinergi melakukan pemasangan jaring pengaman sampah, pemberian bakteri penjernih air dan lain-lain.

Di sektor hulu, penataan ekosistem dilakukan dengan cara alih komoditi dan relokasi. Beberapa tanaman yang dirasa tak cocok ditanam di kawasan sekitar Danau Cisanti, desa Tarumajaya, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung, seperti kol, kentang dan lainnya diganti dengan tanaman yang memiliki nilai ekonomis dan ekologis seperti nangka, jeruk, alpukat dan kopi. Relokasi bangunan pemukiman warga yang menjadi penyebab lain gundulnya kawasan Hulu Citarum juga dilakukan.

Dari berbagai upaya yang dilakukan tersebut, peran paling sentral dari TNI dalam mendorong keberhasilan program Citarum Harum ialah dengan melibatkan diri secara langsung ke medan laga. Kedisiplinan TNI menjadi patron dan prototipe bagi pembentukan mentalitas warga. Jiwa kepemimpinan yang dibentuk dan menjadi salah satu output pelatihan prajurit bisa diperlihatkan dalam memandu dan menggerakkan masyarakat di lapangan.

Citra TNI yang tegas dan disiplin ini tak cuma bisa dijadikan alat untuk memandu masyarakat, sebab pada saat yang sama hal tersebut bisa menjadi senjata terbilang ampuh untuk memberikan dampak psikologis yang cukup terasa bagi pencemar sungai pelanggar aturan.

Tentara sebagai Sokoguru Revolusi Mental

Whats-App-Image-2019-09-29-at-16-32-11
Taman Edukasi di Bantaran Sungai Citarum Sektor 6.

Bisa membuat masyarakat bertindak proaktif dalam menjaga kelestarian Citarum bukanlah perkara gampang. Selama ini masyarakat cenderung lebih berwatak reaktif. Mereka baru akan terpanggil bergerak melakukan sesuatu untuk Citarum kala situasinya serba mendesak, terutama ketika itu langsung berdampak kepada mereka. Misalnya, mengangkut tumpukkan sampah kiriman yang jika dibiarkan akan membuat badan sungai membusuk dan mengeluarkan bau tak sedap.

Watak yang demikian itu, diamini betul Asep (50), salah seorang warga Desa Citeureup, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung yang menghuni sepetak rumah di bantaran sungai. Secara spontan, kata dia, warga memang kerap melakukan kerja bakti mengangkut sampah jika sudah kadung menumpuk. "Biasanya, kalau lagi hujan gede," katanya belum lama ini. Warga DAS Citarum yang ada bagian hilir, akan kebagian banjir sampah saat hujan deras melanda Kota Bandung atau kawasan hulu Citarum.

Senada dengan Asep, Kepala Desa Tarumajaya, Kecamatan Kertasari, kabupaten Bandung, Rudhi Maulani menuturkan saat pertama kali mendengar Citarum Harum dilaksanakan oleh TNI ada pro dan kontra yang mewarnai. Rudhy menjelaskan hal itu lumrah sebagai bagian dari dinamika masyarakat di desanya. Apalagi program Citarum Harum ini mengajak warganya untuk beralih mata pencaharian dari semula petani sayur-mayur dan buah-buahan kini menjadi petani kopi. Saat ini ia mengaku program Citarum Harum di desanya sudah tampak meskipun belum seutuhnya berhasil. Contohnya area lahan yang gundul dengan kerjasama TNI dan warga kini lahan tersebut telah hijau, Waduk Cisanti yang dulu kotor telah bersih.

Keterlibatan mula-mula TNI dalam proyek ambisius ini pada mulanya tak cuma dipandang secara optimis belaka. Tatapan skeptis atau bahkan sinis ikut melolong tajam mengiringi perjalanannya. Bukan apa-apa, trauma kegagalan program revitalisasi yang kerap digonta-ganti sebelumnya selalu mengintai dan membayangi. Hal tersebut dirasakan betul para prajurit yang bergerak ke sana ke mari mengetuk pintu rumah guna meyakinkan masyarakat.

Perlu upaya berlipat ganda untuk meraih simpati masyarakat yang kadung dibuat kecewa berkali-kali ini. Ketidakpercayaan masyarakat di wilayah sektor 6 terhadap Citarum Harum memuncak pada bulan Maret 2018 lalu. Saat itu, masyarakat berdemo hingga membuat tanggul buatan TNI jebol sebagai bentuk protes terhadap aktivitas program Citarum.

“Ini soal trust, ya. Sebelum ada Citarum Harum di mana TNI diberikan tugas oleh negara untuk langsung terjun menangani masalah Citarum, sudah ada program-program lainnya. Tapi mungkin belum maksimal dan masyarakat belum bisa merasakan hasilnya. Nah, pas kami baru mulai Citarum Harum di sektor 6, pasti wajar dong masyarakat skeptis, apa bener nih, Citarum Harum bisa bersihin Citarum?” kata Komandan Sektor 6 Citarum Harum pada waktu itu, Kolonel Inf Yudi Zanibar di pertengahan September lalu.

Yudi paham betul konteks itu. Untuk memutar balik mentalitasnya, masyarakat butuh teladan yang tak cuma pandai dalam berbual-bual. Karenanya, dia menginstruksikan seluruh anak buahnya untuk bekerja total, dari mulai tataran rencana konseptual hingga eksekusi aktual. Kopral Dua Petrus Jahada sebagai pelaksana tugas lapangan merasakan betul berbagai dinamika persinggungan yang terjadi di lapangan. Petrus bertugas di Subsektor 6 Desa Citereup. Baginya, satu-satunya cara yang bisa dilakukan untuk memantik gerakan nyata masyarakat ialah dengan memberi contoh langsung.

“TNI hadir untuk memberikan contoh dan mengajak masyarakat agar peduli dan langsung praktik nyata melakukan pembersihan Citarum. Memang tidak mudah, pola TNI yang keras dan disiplin harus disesuaikan pendekatannya kepada warga sipil. Untuk itu sistemnya harus kita bangun. Kuncinya adalah sistem. Jadi kita mendampingi. Suatu saat kalau Citarum Harum sudah 100 persen berhasil, kami TNI sudah tak perlu khawatir lagi karena yang akan melanjutkan kewajiban menjaga kebersihan Citarum sudah berada di tangan masyarakat,” kata Petrus.

Bersama prajurit TNI lainya, Petrus terlibat dengan warga agar memetakan masalah secara objektif, merancang langkah-langkah sekaligus realisasi kerja pembenahan. Semuanya dilakukan TNI, kerja-kerja dalam rupa pengangkutan sampah sungai, pembuatan tempat sampah, penataan bantaran, penghijauan hingga pembuatan taman baca. Di subsektor lain, penertiban pabrik pembuang limbah industri (B3) ke sungai juga dilakukan.

Soal penanganan limbah ini, Yudi mengatakan masyarakat juga dilatih menjadi agen untuk pemantauan. Di setiap RW sudah ada agen yang ditunjuk secara sukarela untuk mengawasi dan melaporkan secara langsung jika masih ditemukan pembuangan limbah. Selain itu koordinasi antara pihak Kepolisian dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) sebagai penegak hukum, sudah berjalan dengan baik. Kekompakan ini, ujar Yudi, ikut membangkitkan kesadaran kritis warga dalam memperhatikan kelestarian lingkungan.

“Nah. lambat laun kepercayaan sudah mulai tumbuh, warga sudah mulai merasakan hasil riil-nya. Secara otomatis masyarakat mulai mau membantu dan berpartisipasi langsung,” ujar Yudi.

Tak jauh berbeda, pengalaman Yudi juga turut dirasakan Kolonel Inf Inget Barus yang menjadi Komandan Sektor 1 di kawasan Citarum hulu. Komandan Sektor (Dansektor) 1 Citarum Harum Kolonel Infanteri Inget Barus mengatakan mengubah pola kebiasaan masyarakat yang telah tertanam sejak lama adalah sesuatu yang sama sekali tak mudah. “Ya, enggak mudah ya. Tapi kita pelan-pelan kasih pengertian," katanya.

Barus mengaku, kesabaran adalah kunci keberhasilan TNI dalam membujuk warga untuk mengganti pola bercocok tanam. Di sektor hulu, pekerjaan fokus yang dilakukan TNI adalah membujuk warga untuk bersedia direlokasi serta mendorong mereka melakukan alih komoditi pangan. Keduanya dilakukan secara bertahap. Dalam hal relokasi, warga telah menyetujui. Untuk kepentingan alih komoditi, warga yang terbiasa menanam sayur, diarahkan untuk menanam tanaman keras seperti kopi dan kayu-kayuan.

"Lama-lama mereka paham. Saya bilang ke mereka kalau program Citarum Harum yang dimotori TNI ini hasil akhirnya ya untuk rakyat. Kalau Citarum bersih dan ekosistemnya baik, yang merasakan manfaatnya seluruh rakyat Jawa Barat,” katanya.

Dari hasil persuasi kepada masyarakat yang berhasil dilakukan Barus, ada banyak indikator yang dapat dilihat di Sektor 1 Citarum. Salah satunya keberhasilan menjadikan Situ Cisanti sebagai ikon Citarum Harum dengan kondisi danau yang tadinya memiliki kualitas air buruk kini menjadi bersih dan banyak didiami ikan air tawar. Selain itu, masyarakat sekitar sudah mulai menanam kopi dan pohon buah yang baik demi pemulihan ekosistem Citarum dan dari segi ekonomi menguntungkan.

Whats-App-Image-2019-09-29-at-16-32-10-1

Kondisi asri Situ Cisanti, hulu Sungai Citarum.

Perlahan tapi pasti, perubahan di sepanjang DAS Citarum mulai menampakkan hasilnya. Meskipun masih jauh dari kata asri, Citarum tidak seburuk yang sebelumnya. Masih ada proses panjang agar hasil yang lebih nyata bisa dirasakan dan ditangkap penginderaan. Serupa perubahan empirik, revolusi mental juga masih harus diupayakan agar kebiasaan masyarakat bersikap adil terhadap lingkungan menjadi hal yang membudaya. Bukan tak mungkin, mimpi menjadikan air Citarum layak konsumsi di masa depan menjadi kenyataan seiring kokohnya kesadaran warga untuk berpikir jernih sebelum melakukan tindakan yang berdampak pada lingkungan. "Prosesnya masih panjang. Yang penting yakin dan terus berusaha".

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar