Yamaha Lexi

HUT ke-209, Kota Bandung Belum Ramah Difabel

  Rabu, 25 September 2019   Nur Khansa Ranawati
Penyandang disabilitas dan aktivis Bandung Independent Living Center (BILiC), Aden Achmad. (Nur Khansa Ranawati/Ayobandung.com)

SUMUR BANDUNG, AYOBANDUNG.COM--Hari ini, Rabu, (25/9/2019), Kota Bandung genap berusia 209 tahun. Dalam usia kedua abad tersebut, tentu banyak hal yang telah berubah dari wajah kota. Beberapa tahun belakangan, Kota Bandung juga tengah gemar 'bersolek' dengan kemunculan berbagai taman tematik hingga sejumlah tempat dan fasilitas rekreasi baru.

Hal tersebut semakin mengukuhkan salah satu predikat Kota Bandung sebagai kota tujuan wisata. Berbagai pelancong dari dalam hingga luar negeri jamak dijumpai menjelajah berbagai sudut kota terutama di akhir pekan. Namun sayangnya, masih terdapat sejumlah kelompok warga Kota Bandung sendiri yang tidak bisa turut serta menikmati 'hingar-bingar' kemolekan tempat tinggalnya.

Salah satunya sebagaimana yang dialami para warga penyandang disabilitas. Jangankan menjelajah tempat wisata, untuk keluar rumah dan berkegiatan sehari-hari pun, masih banyak hambatan yang dijumpai.

Penyandang disabilitas dan aktivis Bandung Independent Living Center (BILiC), Aden Achmad mengatakan, saat ini Kota Bandung belum dapat dikatakan sebagai kota yang ramah bagi penyandang disabilitas atau difabel. Pasalnya, masih banyak infrastruktur kota termasuk kendaraan umum yang sulit digunakan para difabel.

"Kesulitan itu terutama terasa sejak saat akan keluar rumah. Sebagai pengguna kursi roda saya merasa banyak hambatan infrastruktur untuk beraktivitas," ungkapnya ketika ditemui Ayobandung.com di Gedung Indonesia Menggugat, Rabu (25/9/2019).

AYO BACA : Nuansa Sunda Terasa Kental pada Upacara HUT ke-209 Kota Bandung

Meski demikian, dirinya yang juga kerap mengadvokasi hak-hak disabilitas di Kota Bandung sejak 1997-an mulai merasakan ada perubahan kebijakan kota sejak tahun 2006 ke atas, terutama setelah lahirnya perda tentang pemenuhan hak difabel. Namun, hingga saat ini, Aden menilai, implementasinya masih belum dapat dikatakan sesuai dengan harapan dan kebutuhan.

"Saat ini sudah mulai ada perubahan, para pengambil kebijakan sudah mulai ada kesadaran ke arah sana, tapi masih banyak yang salah implementasinya karena kurang memperhatikan kaidah azas aksesibilitasnya," ungkapnya.

Alhasil, kegiatan sehari-hari warga difabel belum dapat berjalan leluasa sebagaimana yang biasa dijalani warga non-difabel. Perlunya pendampingan saat menaiki kendaraan umum dan berkeliling kota, sulitnya menemukan tempat ibadah yang ramah kursi roda, dan sebagainya.

"Tempat rekreasi juga belum ada yang aksesibel bagi difabel. Seperti nonton bioskop, mau tidak mau harus duduk paling depan. Tempat-tempat wisata seperti taman kota pun masih sulit," ungkapnya.

Ketika muncul upaya pemerintah kota untuk melakukan pelebaran trotoar, dia mengatakan, tak jarang haknya terampas oleh warga yang kurang bertanggung jawab seperti kendaraan yang melintas atau bahkan parkir di atas trotoar.

AYO BACA : HUT Kota Bandung Diisi Tradisi Ziarah ke Bupati Terdahulu

"Itu tidak menghargai perjuangan kami. Kami juga perlu keamanan dan kenyamanan," ungkapnya.

Dirinya mengatakan, impian para difabel adalah dapat hidup inklusif dan berbaur dengan seluruh warga kota dengan mengakses fasilitas yang sama. Hal tersebut pernah dirinya alami di Australia.

"Di sana fasilitas kota sudah banyak yang aksesibel bagi kami, sehingga saya bisa pergi kemana-mana sendiri. Rasanya saya saat itu lupa kalau saya penyandang disabilitas," ungkapnya.

Belum lagi, Aden menilai masih sangat banyak warga difabel Kota Bandung yang hidup bergantung dari keluarga atau berada di bawah garis kemiskinan. Hal tersebut salah satunya disebabkan terbatasnya akses terhadap lapangan pekerjaan.

"Padahal biaya hidup difabel itu mahal standarnya dibanding warga pada umumnya. Ketika mau keluar rumah, minimal kan harus pakai taksi," ungkapnya. Belum lagi perlengkapan penunjang lainnya seperti kursi roda yang harganya pun tak bisa dibilang murah.

Untuk itu, dia mengatakan, pihaknya akan senantiasa melakukan advokasi untuk menyuarakan hak-hak kesetaraan hidup warga difabel di Kota Bandung dan Indonesia pada umumnya. Aksesibilitas infrastruktur dinilai menjadi hal terpenting untk dibenahi karena dari sanalah para difabel dapat memulai hidup mandiri.

"Kuncinya ada di infrastruktur. Kalau infrastruktur baik, warga difabel bisa leluasa bepergian, belajar ke sekolah, mencari ilmu, bekerja, dan sebagainya. Dari sanalah warga difabel dapat memulai kesetaraan dalam segala aspek," pungkasnya.

AYO BACA : Ini Harapan Warga di Hari Jadi Kota Bandung ke-209

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar