Yamaha Lexi

Kampanye Kesehatan Mental, YSMI Gelar Talkshow 'Happiness Project'

  Sabtu, 21 September 2019   Tri Junari
Psikiater sekaligus Founder YSMI & Switch Up Rama Giovani (kanan) menjadi pembicara dalam Talkshow Kesehatan Mental Happiness Project Vol. 1 di Cafe Halaman, Jalan Tamansari, Kota Bandung, Sabtu (21/9/2019). (Irfan Al-Faritsi/Ayobandung.com)

TAMANSARI, AYOBANDUNG.COM—Yayasan Sehat Mental Indonesia (YSMI) bekerja sama dengan Switch Up menggelar kegiatan Talkshow bertajuk “Happiness Project” volume 1 di Cafe Halaman, Jalan Tamansari No. 92 Kota Bandung, Sabtu (21/9/2019) pagi.

Acara tersebut digelar sebagai bagian dari rangkaian memperingati hari Kesehatan Mental sedunia yang jatuh setiap 10 Oktober.

Kegiatan tersebut bertujuan sebagai media kampanye edukasi pada masyarakat bahwa permasalahan kesehatan mental merupakan tanggung jawab bersama.

Hadir dalam kegiatan itu founder YSMI dan Switch Up Mental Health Care & Human Development dr. Rama Giovani, Sp.KJ, Praktisi Psikologi Saeful Zaman S.Psi, M.M, dan Praktisi psikologi Switch Up, Bayu Wardana.

AYO BACA : Saudara Perempuan Pengaruhi Kesehatan Mental?

Puluhan peserta terdiri atas akademisi dan masyarakat, praktisi kesehatan, komunitas, dan masyarakat luas antusias mengikuti talkshow selama dua jam itu.

"Acara ini bertujuan untuk mempromosikan kesadaran dan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai kesehatan mental, data yang ada pravalensinya 1 dari 5 orang di Indonesia memiliki gangguan kesehatan mental seperti stress dan depresi," ungkap dr. Rama ditemui Ayobandung.com usai acara berlangsung.

Menurutnya, YSMI terus melakukan kampanye pentingnya deteksi dini gangguan kesehatan mental dimulai dari diri sendiri dan lingkungan terkecil. Stigma yang terbentuk saat ini kesehatan mental masih identik dengan setelah kategori berat baru pengobatan atau rehabilitasi.

"Kesehatan jiwa ini masih identik dengan pengobatan dan rehabilitasi, padahal sebetulnya jumlah penderita kesehatan mental itu cukup memprihatinkan. Untuk itu kita dorong mencegah daripada mengobati,"kata dia.

AYO BACA : Gawai Sebabkan Masalah Mental, Ini Kata Peneliti

Menurutnya, wawasan masyarakat soal deteksi dini kesehatan mental sangat rendah, banyak kasus ditemukan masyarakat menganggap hal ini sebagai kelemahan. 

"Ada stigma bahwa stress misalnya adalah kelemahan padahal ini penyakit yang bisa disembuhkan dengan penanganan medis, konsultasi pada psikiater bukan berasumsi sendiri," paparnya.

Rama yang juga dokter praktik di Medika Antapani, Klinik Sehat Mental serta RSUD Cianjur ini menilai ada beberapa cara agar gangguan kesehatan mental tidak menjangkit kita.

Rumusnya ialah biasakan diri selalu menikmati apapun yang dijalani dalam kegiatan sehari-hari, menganggap semua yang dikerjakan itu luar bias sehingga produktifitas dalam mencari tujuan tidak terganggu masalah mental.

Ditempat sama, Praktisi psikologi Switch Up Bayu Wardana menerangkan, edukasi gangguan kesehatan mental ecapkali terlupakan padahal kesehatan jiwa ini sama pentingnya dengan kesehatan fisik.

Ia bersama YSMI terus melakukan kampanye agar menyadarkan masyarakat bahwa penanganan gangguan kesehatan mental itu tanggung jawab bersama. 

"Happines Project ini hanya bagian kecil upaya kami menggugah kesadaran dan pemahaman masyarakat akan pentingnya kesehatan jiwa, deteksi dini kemudian lakukan upaya serius menanganinya," tandasnya.

AYO BACA : Demi Kesehatan Mental, Facebook Akan Hapus Jumlah Like di Unggahan

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar