Yamaha Aerox

Menghadiri Acara Tahlilan di Kediaman Almarhum BJ Habibie

  Jumat, 20 September 2019   Redaksi AyoBandung.Com
BJ Habibie.

Sekumpulan anak berkerumun di depan kediaman almarhum BJ Habibie di Jalan  Patra Kuningan, Kuningan XIII, Kuningan Timur, Jakarta-Selatan. Banyak di antaranya mengenakan baju muslim. 

Om. Boleh ikut masuk, kata salah serorang.

Kamu kumpul saja di sini..! Hanya jawaban itu yang saya kemukakan karena tak punya wewenang.

Menjelang tahlilan berakhir, anak-anak memperoleh tas putih bertuliskan..Mengenang Wafatnya Prof. DR. Ing. H Bacharuddin Jusuf Habibie, 11 September 2019 yang bergambar almarhum tersenyum sambil menangkupkan kedua telapak tangan. Isi tas itu sebotol air putih, kue-kue, roti dan satu kotak makanan yang lezat. 

Malam ini, Kamis, 19 September 2019,  jumlah jamaah akhwan maupun akhwat kira-kira 500 orang. Mereka menempati ruangan-ruangan di dua rumah yang bersebelahan. Di buku tamu tertulis nama ....dari Bandung, Tanjung Priok, Kemanggisan dan sebagainya.

Jumlah yang hadir tidak menentu. Kemarin malam lebih dari lima ribu karena bertepatan dengan malam ke tujuh. Bukan saja dari Bandung. Ada jamaah yang datang dari Merak, Banten, kata Muhaimin yang sudah 35 tahun bekerja di keluarga almarhum. 

Waah!, kata saya.

Membaca surat Yasin dan tahlilan dilaksanakan setelah shalat Maghrib. Kecepatannya tidak seperti Argo Parahyangan atau angkot di sekitar Ledeng, tetapi sesuai tartil. Persis berakhir beberapa menit menjelang shalat Isya.

Komitmen
Bapak sangat memegang komitmen. Bapak berjanji akan berada di bawah satu atap selama ibu dirawat di rumah sakit.  Dan benar bapak terus menunggui, ujar Dr. Ilham Akbar Habibie, putra sulung almarhum.

Bapak tak pernah mengunjungi Taman Mawar yang lokasinya tak jauh dari kamar atau pergi ke cafetaria untuk membeli makanan dan minuman. Bapak terus menemani di kamar selama tiga bulan hingga ibu wafat, lanjutnya.

Bila Ilham bercerita tentang komitmen almarhum kepada keluarga. Fuad Rasyidi, sekretaris pribadi yang selama 35 tahun, bercerita tentang komitmen kepada negara dan bangsa.  

Dia juga membuka ‘kartu’ betapa Presiden Soeharto mempercayai BJ Habibie yang dikenalnya sejak usia hampir 14 tahun di Pare-Pare. Sulawesi Selatan.

Sejak diangkat menjadi pejabat di Pertamina sampai menjadi presiden, bapak menerima 30 Surat Keputusan pengangkatan, kata Rasyidi yang sebelumnya mengungkapkan ketidaksiapannya secara emosional untuk mengenang almarhum.

Dia mengungkapkan, ketika pak Habibie berkata saya hanya tahu teknologi penerbangan,  Presiden Soeharto menjawab laksanakan saja semua tugas.  

Jadilah, almarhum menangani banyak hal termasuk yang jauh dari teknologi penerbangan seperti pertanian. 

Demikian sibuk hingga waktu untuk keluarga tidak memadai atau kurang sekali, ujar Rasyidi sambil sesekali menangis.

Dalam melaksanakan tugas  Presiden itu, saya mendampingi bapak ke 50 negara. Kami diterima dengan karpet merah atau diperlakukan sebagai tamu negara, lanjutnya dalam kesaksian sesudah shalat Isya.

Jemaah yang melihat Fuad Rasyidi secara langsung atau melalui televisi, tercenung saat dijelaskan di pesawatpun kami berenam bekerja.  Membuat laporan, mengirim fax dan sebagainya. Tak sempat tidur atau istirahat.

Satu bulan dua kali saya mendampingi pak Habibie menemui Presiden Soeharto di Bina Graha maupun di jalan Cendana. Satu kali pertemuan memakan waktu empat atau lima jam. 

Komitmen almarhum untuk kemajuan bangsa dan negara dilakukan dengan sepenuh hati, kata Rasyidi sambil meminta maaf karena masih berduka teringat bosnya.

Ustadz H. Wafiudin yang menyampaikan ceramah tentang qalbu juga bercerita mengenai komitmen pak Habibie terhadap generasi muda khususnya pelajar di Sekolah STM Penerbangan di Kebayoran Baru, Jakarta-Selatan.    

Pak Habibie menempatkan orang-orang Indonesia bergelar doktor, lulusan perguruan tinggi tehnik di Ceko, Inggris, Amerika Serikat dan lainnya untuk mengajar anak-anak belasan tahun. Bayangkan, ujar Ustadz yang saat itu menjadi siswa.

Ditambahkan, bukan cuma pengajar, almarhum juga mendatangkan mesin pesawat untuk praktek. Setelah lulus diharapkan para siswa bekerja di PT Dirgantara Indonesia (Persero).

Qalbu Yang Bersih
Malam itu terungkap sisi lain almarhum. Berupa  komitmen terhadap istri,  bangsa dan negara serta generasi muda dari sumber-sumber yang bisa dipercaya.

Insya Allah, qalbu almarhum BJ Habibie dan almarhumah ibu Ainun Besari bersih karena banyak berbuat kebaikan. Semoga memperoleh imbalan surga, doa Ustadz yang diaminkan para jamaah dengan khusuk.

Jamaah pulang dengan lebih banyak berdiam diri. Seandainya almarhum Prof. Dr.Ing BJ Habibie mendapat dukungan penuh dari para elite, Indonesia tentu sudah menghasilkan beragam produk bernilai tambah, mulai dari perkebunan, pertambangan, industri militer, kelautan, transportasi dan kedirgantaraan. 

Bukankah almarhum sudah mempersiapkan puluhan ribu SDM? Sebagian besar di antaranya memperoleh pendidikan di seberang lautan? 

Farid Khalidi
   

   

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar