Yamaha

Sebelum Olahraga, Dokter Anjurkan Hal-hal Ini

  Sabtu, 21 September 2019   Republika.co.id
Olahraga. (Pixabay)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM—Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga, Zaini K Saragih, meminta masyarakat melakukan beberapa hal sebelum hingga setelah berolahraga.

Aktivitas tersebut dibagi menjadi sebelum berolahraga (pre exercise), saat berolahraga (exercising), dan setelah aktivitas fisik (post exercise).

Sebelum berolahraga, lakukan pre exercise yaitu mengukur denyut jantung.

"Denyut jantungnya harus di bawah 100 per menit (beats per minute/bpm). Kalau denyutnya di atas 100 bpm maka Anda bisa duduk dulu dan tunggu hingga tiga sampai lima menit. Kemudian ukur lagi denyut jantungnya," katanya, dikutip dari Republika, Sabtu (21/9/2019).

AYO BACA : Lari atau Jalan, Lebih Sehat Mana?

Jika denyutnya masih di atas 100 bpm, ia meminta jangan memaksakan berolahraga. Cek kesehatan jantung ke poliklinik atau rumah sakit.

Denyut jantung yang di atas 100 bpm dan memaksakan berolahraga bisa mengakibatkan jantung mengalami kondisi capai dan kehilangan denyut jantung.

Untuk memudahkan mengukur denyut jantung, ia menyebut masyarakat bisa menggunakan aplikasi berbasis android Heart Rate.

Aplikasi ini memudahkan karena bisa segera mengetahui denyut jantung dengan menggunakan cahaya kamera ponsel. Ia menegaskan, hal ini penting dilakukan karena selama ini orang jarang mengecek denyut jantungnya ketika akan olahraga. Akibatnya, tak jarang orang yang sudah memiliki gangguan di jantung meninggal saat berolahraga.

AYO BACA : Ini Waktu Terbaik untuk Olahraga

"Mereka hanya melakukan pemanasan tanpa mengecek denyut jantung. Padahal, bisa jadi denyut jantung tinggi karena ia sudah sakit, atau kemungkinan kedua kurang istirahat, dan terakhir banyak minum kopi atau minuman berenergi," ujarnya.

Tak hanya itu, ia juga meminta masyarakat mengukur BMI. Rumusnya berat badan dibagi tinggi badan dibagi lagi dengan tinggi badan. Ia mencontohkan seseorang uang memiliki tinggi badan 170 sentimeter (cm) dan berat 80 kilogram maka 80/1,7/1,7= BMI.

Kalau angka BMI lebih dari 30, maka ia tidak boleh berolahraga yang bergerak lompat-lompat seperti lari. Sebab, ia menjelaskan seseorang yang mendarat setelah lompat harus menahan beban hingga empat kali berat badannya. Jika BMI lebih dari 30 dan dipaksa berolahraga lompat maka ini bisa merusak sendi lututnya dan menjadi rematik.

Kemudian, saat berolahraga ia meminta masyarakat menyediakan air putih sebab cairan harus masuk tubuh setiap 20 menit. "Minum air putih harus dilakukan 20 menit sekali, mau haus atau tidak. Lebih baik air dingin," ujarnya.

Kemudian, dia melanjutkan, setelah berolahraga atau post exercise bisa melakukan pijat hingga mandi air hangat.

AYO BACA : 3 Trik Melawan Rasa Malas Berolahraga

Berita ini merupakan hasil kerja sama antara Ayo Media Network dan Republika.

Isi tulisan di luar tanggung jawab Ayo Media Network.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar