Yamaha Aerox

Setahun Oded-Yana: Komitmen Bangun Bandung Bebas Sampah

  Jumat, 20 September 2019   Nur Khansa Ranawati
Wali Kota Bandung, Oded M. Danial berdialog dengan warga usai salat subuh berjamaah di Masjid Nurul Fikri, RW 14 Riung Bandung, Kelurahan Cisaranten, Kecamatan Gedebage, Bandung pada Sabtu (2/2/2019). (Dok. Humas Pemkot Bandung)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Pada Jumat (20/9/2019) ini, masa kepemimpinan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bandung, Oded M. Danial dan Yana Mulyana periode 2018-2023 genap menginjak satu tahun. Selama masa tersebut, salah satu hal yang paling banyak menjadi fokus pekerjaan adalah masalah penanganan sampah di Kota Bandung.

Hal tersebut tercermin dari salah satu kampanye yang dicanangkan Kota Bandung mengenai pengurangan sampah, yakni Kang Pisman alias Kurangi, Pisahkan dan Manfaatkan. Sosialisasi kampanye ini cukup mudah ditemui warga di berbagai ruang publik hingga kawasan perbelanjaan, mulai dari banner hingga kebijakan membayar kantong plastik bila berbelanja.

Selain itu, di tingkat kelurahan dan kecamatan, gerakan ini juga marak dijumpai dalam berbagai bentuk yang digagas masing-masing komunitas. Selain untuk mengurangi sampah agar TPA di Kota Bandung tak kelebihan beban, Kang Pisman juga dibuat untuk merubah kebiasaan warga dalam memandang dan mengolah sampah.

Ragam Bentuk Kang Pisman

Hingga saat ini, berdasarkan data yang tertera pada kangpisman.com, telah muncul sebanyak sekitar 1.800 bank sampah di seluruh kecamatan di Kota Bandung. Bank sampah ini merupakan salah satu cara untuk memancing warga memilah sampah di rumahnya dan menyetor hasilnya di tingkat kelurahan untuk ditukar uang atau hal lainnya.

Nantinya, sampah yang terkumpul dapat dijual ke pengepul atau bahkan dimanfaatkan menjadi produk berdaya jual.

Selain bank sampah, ada pula 8 kelurahan di Kota Bandung yang saat ini dijadikan model Kawasan Bebas Sampah (KBS) meliputi Kelurahan Sukamiskin, Sukaluyu, Gempolsari, Cihaurgeulis, Mengger, Neglasari, Babakansari, dan Kebon Pisang.

Di berbagai kelurahan dan kecamatan, bentuk pengejawantahan konsep Kang Pisman bisa berbeda, tergantung dari kondisi lingkungan dan jenis-jenis sampah yang dihasilkan. Oleh karenanya, hal ini 'memaksa' para warga dan perangkat daerah di setiap kawasan untuk memutar otak mencari solusi yang paling pas bagi daerah mereka.

Seperti yang dilaksanakan di Pasar Ciwastra, misalnya. Setiap harinya, sebanyak kurang lebih 560 kilogram dari 800-an kilogram sampah organik yang dihasilkan, dapat didaur ulang menjadi produk bernilai ekonomi.

Beberapa produknya meliputi pupuk cair, silase pakan ternak, magot hidup, pupuk padat hasil pengomposan, hingga pupuk padat sisa pengembangbiakkan magot.

Oleh karenanya, Petugas Pengelolaan Sampah Pasar Ciwastra, Tatang Sobarna menuturkan, pengelolaan sampah di Pasar Ciwastra ini menjadi proyek percontohan untuk mengelola sampah di pasar tradisional. Sejumlah peneliti dari berbagai universitas dan instansi lokal hingga internasional pun pernah menyambangi tempat ini untuk mempelajari sistem yang dijalankan.

Lain tempat lain pula pengelolaannya. Bila di kawasan pasar, mayoritas sampah yang dihasilkan adalah sampah organik, maka di Kecamatan Sukasari, sampah non-organik yang banyak dihasilkan warganya dapat disetor, ditimbang, hingga ditukar menjadi rupiah melalui Bank Sampah Ceria.

AYO BACA : Setahun Memimpin Bandung, Oded: Terima Kasih Warga!

Bank sampah yang terletak tak jauh dari Kantor Kecamatan Sukasari ini mampu menjual sampah hingga mencapai Rp7 juta pada Jumat (26/7/2019). Nilai tersebut setara dengan 6,05 ton sampah. Sementara itu, jadwal penimbangan sampah di Bank Sampah Ceria sebanyak dua pekan sekali.

Aktivitas pengelolaan sampah berbasis komunitas tempat tinggal ini pun sempat membuat kagum intelektual dan aktivis lingkungan asal Amerika Serikat, Paul Connet. Penulis buku The Zero Waste Solution tersebut sempat menyambangi Kampung Kang Pisman di RW 07 Kelurahan Cihaurgeulis, Kecamatan Cibeunying Kaler, Jumat (12/7/2019).

Dia mengatakan, program Kang Pisman memiliki modal gerakan sosial yang dibutuhkan suatu daerah untuk merubah kebiasaan warganya ketimbang sekadar bergantung pada teknologi.

“Di Amerika Serikat kita harus mengubah filosofi dalam mengonsumsi sesuatu, tapi kalian semua sudah memiliki tempat itu dan kalian semua sudah lebih maju dari Amerika Serikat. Kesalahan kami terlalu menekuni perkembangan teknologi, padahal yang diperlukan adalah perkembangan sosial,” ungkapnya kala itu.

Tak hanya menghasilkan output produk olahan sampah, di Kecamatan Cinambo, program ini menjadi pemantik warganya--terutama kalangan ibu PKK--untuk mempraktikan literasi dengan menulis buku 'curhat' dan soal penerapan Kang Pisman di tempat masing-masing.

Hingga saat ini, terdapat dua buku yang sudah dihasilkan kelompok PKK Cinambo berjudul "Cinambo Nyaah ka Bandung".

"Buku ini isinya curhat ibu PKK dalam mengurus sampah di rumah masing-masing. Ada yang berhubungan dengan TPS, ada soal pemilahan sampah, dan lain-lain," ungkap Camat Cinambo, Dadang Iradi di Balai Kota Bandung, Selasa (27/8/2019).

Salah satu tujuan penulisan buku tersebut juga adalah untuk menjadi inspirasi bagi warga lainnya yang berniat menerapkan program Kang Pisman mulai dari rumah tangga masing-masing.

Sabet Penghargaan Hingga Rambah Layar Lebar

Lewat program Kang Pisman, Oded diganjar penghargaan Anugerah Kepala Daerah Inovatif (KDI) 2019 oleh Koran Sindo untuk kategori sosial dan budaya.  Koran Sindo menilai Kang Pisman merupakan budaya baru masyarakat kota yang dilahirkan Pemkot Bandung di bidang pengelolaan sampah.

Kang Pisman di bawah kepemimpinan Oded dinilai membuktikan dan menghasilkan beberapa terobosan baru yang inovatif bagi perkembangan dan kemajuan daerah. Gerakan ini semakin masif tumbuh di masyarakat sehingga salah satu hasilnya, mampu mengurangi produksi sampah.

Gerakan ini juga dinilai inspiratif untuk pengelolaan sampah sehingga beberapa negara pun tertarik untuk menduplikasi gerakan ini.

AYO BACA : Mang Oded dan 'Kang Pisman' Bakal Main di Film "Senyum Sabyan"

Penghargaan tersebut diserahkan oleh Staf Ahli Menteri Bidang Keterpaduan Pembangunan Kementerian PUPR Achmad Gani Ghazali Akman dan diterima oleh Sekretaris Daerah Kota Bandung Ema Sumarna yang mewakili Oded.

Penyerahan penghargaan dilakukan dalam acara Malam Penganugerahan Kepala Daerah Inovatif (KDI) 2019, di Kantor Gubernur Sumatera Barat, Jalan Jenderal Sudirman Kota Padang, Kamis (22/8/2019) malam.

Selain itu, bentuk apresiasi lainnya juga hadir dalam bentuk film. Sutradara TJ R. Natadijaya bakal mengangkat program Kang Pisman ke dalam sebuah film ayar lebar berjudul "Senyum Sabyan".

Film yang mengambil latar di kawasan Bandung tengah dan timur ini bakal digarap Manajemen Bioskop Rakyat (Biora) mulai 18 hingga 25 September 2019.

Film yang dibintangi Ria Ricis ini juga dipastikan bakal kental mengangkat isu lingkungan. Sekitar 40% porsi cerita dikhususkan untuk mengedukasi masyarakat tentang program Kang Pisman.

"Insyaallah kita mengangkat ceritanya itu bermuatan film-film edukasi yang kontennya mengarah ke lingkungan, pendidikan, sama budaya. Alhamdulillah, karena support semua kalangan Insyaallah kita tayang di XXI. karena standardisasi produksinya untuk film layar lebar," ungkap Natadijaya dalam konferensi pers di Warung Misbar, Kota Bandung. Sabtu (14/9/2019).

Larang Sampah Masuk Kota

Selain lewat Kang Pisman, upaya Oded-Yana dalam mengurangi sampah di Kota Bandung juga salah satunya dilakukan lewat aturan yang rencananya akan dicanangkan Oded megenai aturan larangan masuknya sampah dari daerah lain ke Kota Bandung. Bahkan jika memungkinkan, aturan tersebut berbentuk Peraturan Daerah.

"Jika perlu, saya akan terapkan Perda tentang larangan sampah luar daerah. Tentunya ini perlu kerja sama semua pihak. Nanti kita akan rumuskan dengan dewan, agar peraturannya semakin kuat," jelas Oded dalam acara Indonesia Clean Technolgy (ITC Meeting) 2019 di Harris Hotel & Conventions Jalan Cimbuleuit, Kamis (12/9/2019).

Dia mengatakan, hal ini menjadi penting dilakukan mengingat Kota Bandung setiap harinya telah memproduksi hingga hampir 1.500 ton. Sehingga, limpahan sampah dari daerah lain dapat dipastikan bakal menambah beban Kota Bandung dalam mengelolanya.

Partisipasi Kota Bandung dalam membangun pusat daur uang sampah di eks TPA Cicabe juga dapat dikatakan merupakan salah satu upaya yang telah dijalankan Pemkot Bandung dalam mengurangi sampah.

PDU Cicabe merupakan salah satu dari tiga pengelolaan sampah yang diresmikan menteri di pusat daur ulang Kabupaten Bandung, Kelurahan Jelekong, Kecamatan Baleendah, dan Kabupaten Bandung.

Peresmian ditandai dengan penekanan tombol dan penandatanganan prasasti bersama Wali Kota Bandung Oded M Danial, Menteri LHK Siti Nurbaya, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, dan Bupati Kabupaten Bandung Dadang M. Nasser, Senin (15/4/2019).

 "Walaupun Kota Bandung tidak langsung dialiri Sungai Citarum tapi 14 anak sungai yang ada di Kota Bandung bermuara ke Citarum. Tentunya program ini bisa mengurangi sampah yang bermuara ke Sungai Citarum. Ini sejalan dengan program Kang Pisman dengan bank sampah yang ada menjadi gerakan masif budaya masyarakat," kata Oded kala itu. 

AYO BACA : Sambut Hari Jadi ke-209, Kota Bandung Gelar Salat Subuh Akbar

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar