Yamaha Lexi

Jokowi Minta Pendapat Buya Syafii Soal Pemilihan Menteri

  Kamis, 19 September 2019   M. Naufal Hafizh
Ahmad Syafii Maarif. (Istimewa)

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM—Presiden Joko Widodo meminta pendapat dari Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif soal pemilihan menteri di kabinet.

"(Pertemuan) soal menteri, pilih kabinet yang bagus, yang betul-betul, dari partai juga boleh, tapi orang yang profesional, punya integritas, itu saja," kata Buya Syafii di lingkungan istana kepresidenan Jakarta, Kamis (19/9/2019).

Buya Syafii menemui Presiden Jokowi di Istana Merdeka Jakarta pada siang hari ini.

AYO BACA : Menteri Susi: Ada Indikasi Pembangunan Kapal Ikan Ilegal oleh Asing

"Idealnya Presiden tahu, jadi ada persoalan integritas, kompetensi, profesionalisme. Boleh dari partai, tidak apa-apa, tapi yang setia kepada Presiden, jangan yang bikin kacau," tambah Buya Syafii.

Sebelumnya, Presiden Jokowi sempat mengatakan bahwa komposisi profesional dan wakil partai adalah 55 persen dari profesional dibanding dengan dari partai 45 persen.

Namun, Buya Syafii mengaku tidak membicarakan soal revisi Undang-undang Komisi Pemberantasan Korupsi (UU KPK) dengan Presiden.

AYO BACA : Imam Nahrawi Tersangka, Jokowi: Semuanya Hati-hati Gunakan Anggaran

"Tidak disampaikan soal revisi UU KPK. Saya rasa kemarin kelemahannya prosedurnya kurang. KPK tidak diajak berunding oleh Kemenkumham dan DPR. Saya rasa soal revisi, soal dewan pengawas itu bisa didiskusikan. Itu kan kemarin langsung digitukan, jadi terbakar," ungkapnya.

Anggota Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) tersebut mengingatkan bahwa meski KPK tidak suci tapi wajib dibela.

"KPK itu wajib dibela, diperkuat, tapi bukan suci. Itu harus diingat," tegas Buya Syafii.

Rapat Paripurna DPR resmi mengesahkan Revisi Undang-undang Nomor 30 tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi atau revisi UU KPK pada Selasa, 17 September 2019.

Sejumlah perubahan kedudukan KPK dalam revisi UU tersebut adalah: (1) Kedudukan KPK sebagai lembaga dalam rumpun eksekutif, (2) Seluruh pegawai KPK adalah ASN, (3) Penyadapan dan penggeledahan harus seizin dewan pengawas, (4) Kehadiran dewan pengawas di bawah presiden, (5) KPK berwenang untuk melakukan penghentian penyidikan dan penuntutan.

AYO BACA : Imam Nahrawi Kirim Surat Pegunduran Diri, Jokowi Cari Pengganti

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar