Yamaha Lexi

Gara-gara Menghancurkan Ladang Minyak, Drone Mendadak Bernilai Strategis

  Selasa, 17 September 2019   M. Naufal Hafizh   Netizen
Drone. (Pixabay)

Serangan sepuluh drone pemberontak Houthi yang menghancurkan ladang minyak Khurais dan fasilitas pemrosesan minyak mentah Abqaiq, 330 km timur laut Riyadh, Arab Saudi pada Sabtu 14 September 2019, niscaya mengubah pola serangan udara di masa depan.

Serangan tersebut sangat efektif sebab mampu menghentikan produksi ladang minyak Khurais sebanyak satu juta barel minyak mentah per hari, serta menghancurkan fasilitas pemrosesan tujuh juta barrel minyak mentah di Abqaiq.

Drone yang artinya dengung sebenarnya merupakan kendaraan terbang nirawak (UAV). Kegunaannya beragam, mulai dari sekadar bisa terbang, memotret, merekam serta mengirimkan langsung ke pengendali, menembakkan peluru kendali dan sebagainya. Jadi, drone bisa dipakai untuk tujuan kemanusiaan maupun militer buat membunuh manusia.

Drone yang sederhana dapat dirakit seorang penggemar tetapi yang rumit dibuat di pabrik. Misalnya Elbit Hermes 900. Taranis buatan BAE System. MQ-9 Reaper bikin General Atomic. RQ-4 Northrop Grumman. Avenger dari General Atomic.

Drone sudah ada sejak Perang Dunia I, tetapi foto-foto versi ‘modern’ baru muncul dipublikasi tentara Amerika Serikat tahun 1970-an. Terlihat drone berada di landasan dihentakkan oleh semacam ketapel, seperti sistem yang dipakai di kapal induk. Operator berseragam tentara mengendalikan penerbangannya dan mendarat bukan di landasan tetapi ditabrakan ke jaring, seperti jaring gawang sepak bola.

Drone Houthi, meskipun dibantah disebut mirip dengan buatan Iran, mampu terbang sejauh 930 mil atau 1.500 km tanpa terdeteksi. Bandingkan dengan jarak Jakarta–Surabaya lewat udara yang jauhnya, 430 mil atau 672 km.

Berkat Teknologi

AYO BACA : Gara-gara Main Drone, Warga Negara Prancis Ditangkap Polisi Myanmar

Kemajuan teknologi telah melahirkan drone yang makin canggih. Global Hawk mampu terbang setinggi 55 ribu km dan terbang tanpa henti selama 30 jam. Biaya operasional US$15.000 per jam. Buatan Northrop Grumman Corp ini berharga US$130 juta per unit.

Harga per unit Global Hawk lebih mahal dibandingkan dengan sebuah F-35A yang mencapai US$94 juta dan US$122 juta untuk satu F-35 B. Seri F-35 merupakan pesawat-pesawat tercanggih saat ini. Ada di antaranya dapat mendarat dan terbang secara tegak lurus atau terbang dari landasan pendek (V/STOL).

Versi awal V/STOL dirancang bangun BJ Habibie ketika masih bekerja di MBB, Hamburg yakni Dornier-DO 31 yang kemudian dikembangkan NASA. Setelah itu muncul seri Harrier yang dipakai AL/Marinir AS dan Inggris. Harrier pernah dihadirkan dalam film seri televisi The Saint dengan pemeran utama Roger Moore.

Meskipun harga drone per unit mahal, tetapi satu pesawat jet tempur secara keseluruhan lebih mahal. Ia memerlukan pilot yang sangat terlatih dan perlengkapannya pun tidak murah. Belum lagi personil pendukung, hangar dan berbagai aspek lainnya.

Lebih penting lagi, pilot yang tewas dalam pertempuran biasa menjadi isyu kemanusiaan dan politik domestik. Sementara drone dikendalikan seorang personel di darat dan sangat terlindung.

Dalam menjalankan misi, drone tak memerlukan dukungan seperti misi pesawat tempur atau pembom yang memerlukan dukungan F-15. Cukup terbang sendiri atau berkelompok menuju target.

Peran dalam Perang

AYO BACA : Dalam Hitungan Bulan, ‘Drone’ Baru Amazon Akan Mulai Kirim Paket

Kekuatan militer udara bukan merupakan penentu akhir kemenangan, tetapi membuka peluang bagi kemenangan dalam perang. Jerman menghantam Inggris dengan peluru kendali V-1 setelah pesawat tempur/pembom Jerman dapat dideteksi radar Inggris. Jepang menghancurkan Pearl Harbour dalam sebuah serangan udara kamikaze yang melemahkan Armada Pasifik Amerika Serikat. Semuanya itu menunjukkan pentingnya peran kekuatan udara dalam menghancurkan lawan meskipun akhirnya Jerman dan Jepang kalah.

Serangan Houthi kali ini menyebabkan harga minyak di pasar internasional naik dari US$61 menjadi US$71 per barel. Ia melemahkan kekuatan perekonomian Arab Saudi yang sejak 2015 menghancurkan basis-basis Houthi di Yaman. Serangan Houthi juga mempercepat kemungkinan resesi ekonomi dunia.

Drone seyogyanya menjadi senjata organik angkatan udara, tetapi bisa saja dioperasikan angkatan darat, laut atau bahkan badan intelijen. Lembaga manapun yang menggunakan tujuannya adalah mengefektifkan jalannya operasi. Pasukan darat memerlukan bantuan drone untuk melihat medan yang akan dilalui atau diserbu. Data yang diperoleh bakal menjadi bahan pertimbangan pengambilan keputusan para komandan.

Faktor Lanjutan

Keberhasilan pemberontak Houthi niscaya memberi inspirasi bagi pengembangan drone lebih lanjut. Mengingat banyak faktor berbahaya dalam pengembangan dan pengoperasian pesawat tempur yang bisa digantikan drone. Begitupun dengan biaya riset dan pengembangan yang dari waktu ke waktu semakin mahal.

Bila Global Hawk berharga US$130 juta per unit dan drone yang ditembak jatuh Garda Iran berharga US$ 220 juta per unit, maka kemungkinan besar pabrikan di berbagai negara akan membuat drone dengan harga yang lebih murah, tapi sukar dideteksi alias siluman dan berdaya gempur tinggi. Misalnya, dilengkapi dengan kanon laser atau rudal dengan daya ledak tinggi.

Rintisan serupa di atas telah dilakukan AS. Dibuatlah drone bernama Predator yang dilengkapi rudal Hellfire. Ia digunakan dalam perang Afghanistan tahun 2000-an.

Kalau sudah begitu, eksistensi pesawat terbang akan terancam setidaknya permintaan terhadapnya bakal berkurang.

Bahayanya bila drone berada di tangan mereka yang tidak berniat baik.

Farid Khalidi

AYO BACA : Drone Makin Marak Digunakan Masyarakat, Pemerintah Rancang Regulasi

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar