Yamaha Lexi

Menanti Unicorn Gim di Indonesia

  Sabtu, 14 September 2019   Rizma Riyandi
Co-Founder Agate Entartaiment Aditya Dwipermana memberikan pengarahan pada peserta inkubasi gim di Bandung Digital Valley, Senin (9/92019). (Rizma Riyandi)

GEGERKALONG, AYOBANDUNG.COM--Seiring dengan perkembangan dan akses internet di tanah air, bisnis digital Indonesia makin menggeliat pesat. Bahkan e-comerce dan bisnis jasa berbasis online semakin beragam.

Startup unicorn seperti Gojek dan Bukalapak sudah melekat dalam keseharian masyarakat. Namun di tengah gegap gempita perkembangan dunia bisnis digital, Indonesia seolah kehilangan fokus terhadap satu bidang yang sangat potensial, yakni gim.

Hingga saat ini, gim yang beredar di Indonesia didominasi oleh buatan luar, terutama China, Inggris, dan Amerika. Data statistik menunjukkan, 99% gim yang dimainkan oleh masyarakat Indonesia merupakan ciptaan asing.

"Dari pangsa pasar gim Indonesia, gim yang merupakan buatan asli Indonesia hanya 0,4%," ujar Direktur PT Melon Indonesia, Dedi Suherman di Bandung Digital Valley (BDV), Senin (9/9/2019).

Ia menyayangkan kondisi tersebut. Padahal potensi bisnis gim Indonesia cukup besar. Saat ini saja, hampir seluruh milenial pasti memainkan gim.

Pada 2019, milenial diproyeksikan berjumlah 23,77% dari total populasi Indonesia yang mencapai 268 juta jiwa. Artinya, hampir seperlima penduduk di Indonesia memiliki kebiasaan bermain gim. Baik yang berbasis PC, maupun mobile.

"Maka itu bidang gim ini sangat potensial untuk digarap lebih serius. Apalagi anak bangsa yang terlibat di bidang ini masih sangat sedikit," tutur Dedi.

Menurutnya persaingan bisnis digital di bidang lain sudah mencapai titik jenuh. Misalnya di bidang penyedia jasa agen wisata dan akomodasi sudah ada traveloka, tiket.com dan sebagainya.

Begitu juga e-comerce dan layanan angkutan online. Bahkan, bidang-bidang tersebut sudah memiliki unicornnya masi-masing.

"Beda dengan gim. Persaingan bisnis ini masih terbuka luas. Indonesia belum punya unicorn gim. Toh developer game saja masih sedikit," papar Dedi.

Maka itu dia berharap jumlah pengembang gim di Indonesia dapat bertambah. Harapan Dedi ini bukanlah pepesan kosong. Pasalnya PT Melon Indonesia, Telkom, dan Agate Entertaiment telah bekerja sama menggelar Indigo Game Startup Incubation.

Program inkubasi gim pertama di Indonesia ini sengaja digelar untuk mendidik dan melatih para pengembang gim agar mereka mampu terjun ke dunia bisnis digital.

Co Founder Agate Entertaiment, Aditya Dwiperdana menyambut baik program ini. Menurutnya inkubasi gim sangat dibutuhkan bagi para pengembang gim. Pasalnya banyak pengembang gim yang belum tahu bagaimana caranya terjun ke dunia bisnis digital.

Dia menuturkan, market gim di Indonesia terus berkembang. Sementara industrinya belum maju. "Sebenarnya ada banyak developer game, tapi belum bisa berkompetisi dengan developer lain," kata Aditya.

Adapun kendala industri gim di Indonesia adalah modal. Pasalnya investor di bidang gim masih kecil. Di sisi lain, kualitas produk gim buatan Indonesia juga masih harus dikembangkan.

"Jadi kalau pun gimnya sudah bagus, masalahnya ya monetisasinya," ujar Aditya.

Maka itu pihaknya bersama Telkom sengaja membentuk ekosistem bisnis gim yang lengkap dalam program inkubasi. Di mana Agate Entertaiment berperan sebagai pementor, Telkom menyokong fasilitas dan pendanaan, sementara PT Melon menjadi publisher bagi gim-gim yang dihasilkan dari program inkubasi.

Aditya dan Dadi sama-sama berharap, program inkubasi gim dapat menelurkan pengembang gim yang andal. Baik dari segi kualitas produk maupun kemampuan bisnis. Dengan demikian, diharapkan ke depannya unicorn startup di bidang gim dari Indonesia dapat bermunculan.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar