Yamaha Mio S

RFB Ajak Pahami Investasi Perdagangan Berjangka

  Kamis, 12 September 2019   Ananda Muhammad Firdaus
PT Rifan Financindo Berjangka (RFB) cabang Bandung memberikan edukasi Perdagangan Berjangka Komoditi (PBK) dan Produk Derivatif Indeks di Bandung, Kamis (12/9/2019). (Ananda M Firdaus/Ayobandung.com)

SUMUR BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- PT Rifan Financindo Berjangka (RFB) cabang Bandung memberikan edukasi Perdagangan Berjangka Komoditi (PBK) dan Produk Derivatif Indeks di Bandung, Kamis (12/9/2019).

Kegiatan yang diperuntukan kepada rekan-rekan media ini merupakan rangkaian program edukasi RFB untuk lebih mendekatkan produk investasi berjangka kepada masyarakat agar mengenal peluang dan risikonya.

Dalam paparan awal, Direktur Utama PT Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) Sthepanus Paulus Lumintang menjelaskan tentang sejarah industri berjangka komoditi yang dimulai dari perdagangan beras di Dojima, Jepang, pada tahun 1710. Lalu berkembang ke Amerika Serikat dan bertumbuh bursa-bursa berjangka lainnya di berbagai negara.

Adapun kehadiran BBJ di Indonesia pada 1999 memiliki misi dan fungsi sebagai pelindung nilai terhadap komoditi di Indonesia dari perubahan kurs.

"Indonesia kaya dengan sumber alam di sektor perkebunan, migas dan pertambangan. BBJ ingin menjadi sarana bagi setiap pelaku komoditi di Indilonesia dengan menjalankan fungsi sebagai sarana price discovery, sarana hedging, dan sarana investasi," terang Paulus.

Pemateri berikutnya, Direktur Utama PT Kliring Berjangka Indonesia (KBI) Fajar Wibhiyadi mengungkapkan, fungsi KBI dalam melakukan proses kliring pada setiap transaksi perusahaan pialang berjangka yang menjadi anggotanya.
 
"Peran KBI di industri perdagangan berjangka komoditi ada tiga, pertama pengelolaan risiko, penjamin transaksi, dan perhitungan IRCA," terangnya.

Pada pembahasan produk derivatif Indeks Pimpinan Cabang RFB Bandung Anthony Martanu menjelaskan bahwa kontrak produk derivatif di industri berjangka komoditi terbagi dua yaitu multilateral, seperti kontrak berjangka olein, kopi, kakao, timah, dan bilateral yang terbagi tiga juga antara lain, kontrak berjangka locogold, forex dan index.

Berbicara indeks, untuk saat ini ada indeks Hanseng dan Indeks Nikkei. Pergerakan produk derivatif ini termasuk high risk, high return. Semua posisi harus diperhitungkan dengan cermat dengan memperhitungkan analisis fundamental dan teknikal.

"Meski indeks memiliki peluang keuntungan yang cukup baik, namun harus diakui saat ini kontrak berjangma emas merupakan primadona seiring kenaikkan tren harga emas yang positif dalam beberapa waktu terakhir," ujarnya.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar