Yamaha NMax

Lanjutkan Mimpi Habibie, N-219 Terus Digenjot

  Kamis, 12 September 2019   Nur Khansa Ranawati
Corporate Secretary PTDI, Irlan Budiman ketika ditemui di area hanggar pesawat PTDI, Kamis (12/9/2019). (Nur Khansa Ranawati/Ayobandung.com)

CICENDO, AYOBANDUNG.COM--Pada saat Indonesia dilanda krisis moneter pada 1997, produksi prototipe pesawat N-250 karya Habibie bersama IPTN (sekarang PT. Dirgantara Indonesia) yang semula direncanakan dibuat sebanyak empat buah hanya dapat terselesaikan dua buah. Keduanya dinamai pesawat Gatotkoco dan Krincing Wesi oleh Presiden RI kedua, Soeharto.

Meski tidak berlanjut karena pendanaan dari International Monetary Fund (IMF) yang kala itu terhenti, namun setidaknya kedua pesawat N-250 yang saat ini terparkir di hanggar pesawat PTDI sempat mengharumkan nama Indonesia di kancah dunia. Gatot Koco bahkan pernah terbang di langit Eropa dan hadir di Paris Air Show, Prancis.

Tak lama setelah itu, proyek N-250 harus terhenti. Namun, hal tersebut bukan berarti akhir dari mimpi Habibie. Oleh karena pesawat buah karya pria kelahiran Pare-pare tersebut akan sangat menguras dana bila diperbaiki, maka PTDI memutuskan untuk mengembangkan dari awal versi lainnya N-250.

Karena kalau diperbaiki akan butuh biaya pengembangan yang sangat besar, karena ini pesawat lama maka harus dikalibrasi kembali, sistemya diperbaiki, itu biayanya besar. Lebih baik kita buat pesawat baru, meneruskan cita-citanya Pak Habibie dengan membuat N-219, ungkap Corporate Secretary PTDI, Irlan Budiman ketika ditemui di area hanggar pesawat PTDI, Kamis (12/9/2019).

AYO BACA : Mengintip Pesawat N-250, Karya Habibie yang Terhenti

Berbeda dengan N-250, Irlan mengatakan, N-219 merupakan pesawat yang lebih kecil dan diperuntukkan bagi konektivitas antar pulau di daerah 3T  ; tertinggal, terdepan dan terluar.

Pesawat ini didesain sesuai dengan hasil riset kami pada 2007 di Papua, bahwa di sana ada bandara tapi kondisinya tak beraspal dan sebagainya. Maka kami kembangkan pesawat ini. Di wilayah Indonesia yang paling cocok, ungkapnya.

Pesawat ini memiliki kapasitas sebanyak 19 penumpang dan didesain mampu melakukan take-off serta landing di medan tak beraspal, bahkan rumput sekalipun. Secara keseluruhan, pesawat ini memang bukan pesawat pengembangan dari tipe N-250, namun spiritnya masih sama, yakni pesawat yang murni dikerjakan anak bangsa.

Kami meneruskan semangat Pak Habibie, dimana Indonesia itu harus mampu membuat pesawat terbang. N-219 ini jadi suatu wadah pembelajaran bagi engineer muda, karena sekarang ada gap yang cukup besar antara PTDI dulu dan sekarang. Spiritnya adalah meneruskan cita-cita Pak Habibie, ungkapnya.

AYO BACA : Dibutuhkan Pasar, Sertifikasi Pesawat N-219 Harus Segera Rampung

N-219 Dipasarkan 2020

Irlan mengatakan, saat ini N-219 sedang berada dalam tahap sertifikasi, dimana pesawat tersebut salah satunya harus memenuhi prasyarat minimal jam terbang di samping berbaai prasyarat lainnya. Rencananya, sertifikasi dapat rampung pada akhir tahun ini.

Ini sedang proses sertifikasi, salah satunya untuk memenuhi 300 jam terbang. Saat ini sedang proses menuju 300 jam terbang itu, jelasnya.

Pihaknya menargetkan pesawat tersebut dapat diproduksi dan dipasarkan pada 2020 bila proses sertifikasi terselesaikan tahun ini.

Iya targetnya di 2020 ini kita sudah mulai produksi, artinya kalau sertifikasinya berhasil dapatkan di tahun ini, maka yah kita sudah bisa lakukan secara komersil di tahun depan, jelasnya.

Sementara itu, Manajer Komunikasi Perusahaan dan Promosi PTDI, Adi Prastowo menyebutkan meski belum rampung, saat ini sudah ada beberapa pihak yang telah menandatangani MoU jual beli N-219. Pihak pemerintah daerah di beberapa wilayah tertentu di Indonesia, dia mengatakan, menjadi target dipasarkannya pesawat ini.

PTDI mulai tawarkan ke pemda-pemda seluruh Indoneisa yang terpencil, seperti Papua, Aceh dan Kalimantan. Mudah-mudahan berujung baik, sejauh ini sih responsnya bagus, ungkapnya.

AYO BACA : Bandung Diguyur Hujan, N- 219 Tetap Ditampilkan

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar