Yamaha

Komitmen Pesantren Menjaga Perdamaian

  Kamis, 12 September 2019   Redaksi AyoBandung.Com   Netizen
Ilustrasi: Pesantren Tebu Ireng Jombang.(Wikipedia)

Sejak Islam ada di nusantara sudah memberikan andil besar untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan fondasi nilai-nilai Illahi.

Betapa tidak, pesantren telah mencetak beribu-ribu alumni untuk memberikan virus-virus perdamaian ke seluruh alam dengan tetap teguh mengajarkan nilai luhur agama.

Sejarah telah menggoreskan tinta emas jika pesantren telah memberikan kontribusi untuk lahirnya negara Indonesia dan mempertahankan setiap jengkal tanah pertiwi untuk menjaga marwah bangsa.

Kilas balik dari perjuangan santri adalah sebagaimana KH Ahmad Dahlan mendidik anak bangsa dengan sekolah berbasis agama.

Begitupula KH Hasyim Asyari dan KH Wahab Hasbulloh menggalang para ulama nusantara untuk mendirikan Majelis Islam ‘Ala Indonesia  (MIAI) pada 18-21 September 1937 hingga diganti menjadi Masyumi pada masa penjajahan Jepang, termasuk kiprah Wahid Hasyim dalam panitia sembilan sebagai salahsatu fauther berdirinya negara kesatuan Republik Indonesia.

Begitupun ketika Belanda datang kembali pascaproklamasi kemerdekaan pada tanggal 22 Oktober 1945 KH Hasyim Asyari dengan tegas mengeluarkan Fatwa Jihad Fi Sabilillah.

Di mana isi dari Fatwa Jihad adalah sebagai berikut: “Berperang menolak dan melawan pendjadjah itoe fardloe ‘ain (jang haroes dikerjakan oleh tiap-tiap orang Islam, laki-laki, perempoean, anak-anak, bersendjata atau tidak) bagi jang berada dalam djarak lingkaran 94 km dari tempat masoek dan kedoedoekan moesoeh. Bagi orang-orang jang berada di loear djarak lingkungan tadi, kewajiban itoe djadi fardloe kifajah jang tjoekoep kalaoe dikerdjakan sebagian sadja.”

Fatwa Jihad rais akbar PBNU telah menggerakan santri untuk ikut berperang melawan penjajah.

Setidaknya di tahun politik yang penuh intrik ini peran pesantren bersama seluruh elemen kiai santri diharapkan selalu mengambil peran positif memberikan agitasi islam santun di lingkungan sekitar.

Penulis sebenarnya tidak setuju apabila pesantren dijadikan mimbar politik karena bagi orang-orang pesantren makna luas mengaji sesungguhnya memberi pijar penerang untuk sesama bukan untuk dipolitisir.

Namun apa pun peran yang dijalani oleh para alumni yang pernah mesantren (santri) kelak setelah membaur dengan masyarakat luas untuk memberi pencerahan.

Semua profesi itu harus didesakralisasikan sehingga tidak ada lagi sikap menuhankan jabatan apalagi menganggap itu segala-galanya.

Nalar dialektis santri menjadi penting agar air kehidupan terus mengalir. Tidak diam, tidak menjadi status quo yang biasanya menjadi sumber berbagai penyakit, menjadi sarang nyamuk dan penyamun, menjadi tempat nyaman bagi para koruptor untuk memperkaya diri.

Selalu terbersit dalam lorong kegelapan menjemput keragaman bernegara yang berkhidmat pada kebhinekaan berbangsa.

Harapan bagi kaum santri harus tetap dinyalakan, seperti dikatakan Erich Fromm ketika sikap pasif ditinggalkan, `menunggu untuk menjadi sesuatu’, sehingga tersemilah keyakinan (faith/ iman).

Keyakinan–meminjam tafsir Erich Fromm–bukan bentuk lemah dari kepercayaan. Ia justru kepastian terhadap yang belum terjamin, pengetahuan tentang kemungkinan riil yang didasarkan atas kemampuan menembus permukaan dan melihat intinya.

Pesan Damai Pesantren

Diaspora pesantren mengalami berkembang pesat, menyusur seluruh dimensi dan bidang yang luas. Hal ini tidak terlepas dari pertumbuhan pesantren di seluruh Indonesia.

Alasan konkret dari menjamurnya pesantren adalah untuk mentransmisikan Islam tradisional, karena salah satu great traditional yang dikembangkan di Indonesia adalah tradisi pengajaran agama Islam yang toleran dan tasamuh. Tugas terberat santri pula adalaah menjaga agar Indonesia tetap damai di tahun politik ini.

Zaman now, pengembaraan santri yang saba kota untuk mengadu peruntungan nasib, mereka banyak studi di universitas-universitas Islam, seperti di institut agama Islam negeri (IAIN) atau universitas Islam negeri (UIN) bahkan ada juga dari mereka yang belajar ke luar negeri, seperti ke Mesir, Irak, Yordania, dan Madinah.

Setelah lulus mereka bergerak dalam pemberdayaan masyarakat, jurnalis, bahkan ada yang tetap menggeluti bidang akademis sebagai staf pengajar dan ada juga dari mereka yang bergerak dalam bidang politik sebagai wakil rakyat di parlemen.

Santri di era globalisasi, menurut Anthony Giddens dalam British Economist menulis bahwa “The Third Way: The Renewal of Sosial Democracy“ adalah suatu kenyataan saat hubungan sosial mendunia tidak ada lagi hambatan dan jarak antara berbagai realitas, satu peristiwa yang terjadi secara lokal dengan kejadian lain yang berlangsung di belahan dunia lainnya.

Perkembangan zaman mengharuskan Pesantren untuk melakukan rekonstruksi dakwah yang ideal. Kiai dan santri harus tahu dan mengenal substansi dari peradaban global.

Secara terminologi peradaban atau civilization sering diartikan sebagai masyarakat yang memiliki budaya yang mapan dan organisasi sosial yang dinamis.

Dalam arti lain, peradaban yang dimaksud adalah kemajuan budaya dari suatu masyarakat pada daerah tertentu dengan ciri organisasi sosial politik yang mapan, pengetahuan, kemajuan di bidang seni, iptek, dan pertumbuhan produkproduk material yang kompleks.

Pesantren sebagai institusi keagamaan dalam setiap ruang gerak yang diperankan harus berprinsip memulyakan sesama dan berusaha sekauat tenaga menguatkan tatanan berbangsa dengan berpartisipasi aktif mengisi kemerdekaan dengan kegiatan yang posistif, setidaknya menjaga kedamaian lingkungan sekitar dengan mengajarkan kitab suci dan nadzoman penyejuk untuk umat.

Bukankah damai itu indah dan bersatu itu ibadah? Agar peran mulia pesantren bisa berfungsi optimal, dapat mencapai dimensi kualitatifnya yang tinggi, maka santri harus melibatkan dimensi kesediaan diri untuk menegakkan kebaktian/ibadah (‘abdullah) dalam menebar virus damai keseluruh semesta untuk menyuarakan nilai ruhul jihad Rasulullah yakni rahmatan lil alamin.

Keterpaduan dialektis antara fungsi santri (aktif memakmurkan bumi) dan ‘abdullah (pasif menerima aturan Allah) inilah sejatinya yang akan mengantarkan seorang santri memiliki kesadaran syariat ekologis. Kesadaran semata sebagai panggilan luhur teologi.

Mudah-mudahan seluruh masyarakat Indonesia dapat mengambil hikmah dalam setiap kejadian agar bisa diejawantahkan dalam kehidupan nyata dalam berbagai peristiwa berbangsa yang mengalun panjang hingga detik ini. Semoga Indonesia tetap damai dan jaya.

Wahyu Iryana

Trainer Pesantren For Peace

Dewan Asatidz Ponpes Universal Cibiru Kota Bandung

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar