Yamaha Lexi

Komik di Bandung

  Kamis, 12 September 2019   Rizma Riyandi
Sepuluh jilid komik Ramayana karya R.A. Kosasih, terbitan Toko Melodie antara 1954-1955. Sumber: patinantique.blogspot.com.

Dari dua tempat tinggal di Cikancung, Kabupaten Bandung, dan Cibiru, Kota Bandung, saya mengoleksi ribuan buku. Dari ribuan buku yang saya kumpulkan selama bertahun-tahun itu, hanya sedikit saja koleksi komik yang saya miliki. Hal tersebut tentu berkaitan dengan minat saya selama ini. Karena, selama ini, buku-buku yang saya kumpulkan berkisar di sekitar kesusastraan, kebudayaan dan sejarah, terutama sastra, budaya, dan sejarah Sunda.

Namun, perkenalan yang kemudian disusul oleh pertemuan-pertemuan dengan para kolektor komik lawas di Bandung, sedikit banyak, memberikan kesadaran kepada saya bahwa Kota Bandung pernah menjadi pusat perkomikan di Indonesia. Pertemuan-pertemuan dengan para kolektor benda-benda lawasan itu biasanya diadakan di rumah Kang Dede, di Jalan Cimanuk, Kota Bandung.

Meskipun jadwalnya tidak menentu, tetapi pertemuan tersebut biasanya diadakan setiap hari Sabtu. Acara yang diberi tajuk “Kongkow Saptuan” ini sudah berlangsung lama. Mendiang Haryadi Suadi, kolektor buku lawas dan dosen ITB, dulu sering hadir pada acara ini. Selain Haryadi, para kolektor dan peminat komik lainnya yang sering hadir, antara lain, Sam Askari Soemadipradja, Agus Sachari, Pribadi Widodo, Soetrisno Moertiyoso, Agung Koswara, Muhammad Isa Pramana, Iwan Gunawan, dan lain-lain.

Sebagai “pendatang baru”, saya biasanya mengikuti dan mengamati dengan rasa kagum yang kian menggunung dan rasa penasaran yang kian berkembang terhadap produk cerita bergambar tempo dulu itu. Betapa banyak, betapa menarik, dan betapa unik komik-komik yang dihasilkan dari Kota Bandung dari masa yang telah lalu itu.

Untuk memulai mengoleksi komik Bandung kini menjadi problem tersendiri. Masalahnya tentu saja terletak pada kelangkaannya dan bila pun ada yang menjualnya tentu saja harganya terhitung mahal. Misalnya, untuk satu jilid saja komik Bandung terbitan tahun 1950-an atau 1960-an, harganya bisa mencapai ratusan ribu rupiah. Hal ini, saya amati, misalnya dari postingan-postingan melalui media sosial seorang kawan penjual buku lawasan di Bandung. Oleh karena itu, seorang senior kolektor buku lawasan sempat berujar, “gila harga komik jadul kini harganya selangit”.

Kalau begini soalnya, saya biasanya mendapatkan banyak pertolongan dari para kolektor tersebut, dengan jalan meminjam. Terutama atas kebaikan hati Kang Dede dan Kang Sam yang sering berbagi pengetahuan serta tidak jarang meminjamkan koleksi buku lawasnya, pengetahuan saya ihwal sejarah dan perkembangan komik di Bandung kian bertambah. Hal ini bertalian munculnya keinginan besar saya untuk mencoba membuat pemetaan mengenai penerbitan komik di Kota Kembang.

Sebagai Ibu Kota Komik

Berbekal beberapa pustaka yang terkait dengan komik Indonesia, antara lain Komik Indonesia (1998) karya Marcel Bonneff, Dari Gatotkaca hingga Batman: Potensi-potensi Naratif Komik (2005) karya Hikmat Darmawan, Asian Comics (2015) oleh John A. Lent, Lintasan Cergam Medan: Catatan Seorang Kolektor (2016) karya Herry Ismono, dan Buah Cinta Terlarang & Cinta Morina: Catatan dari Dunia Komik (2017) oleh Anton Kurnia, berikut ini adalah catatan saya mengenai perkembangan komik di Bandung. Ditambah keterangan para kolektor, terutama Kang Sam Askari, serta penelusuran sumber pustaka lainnya.

Dari berbagai sumber tersebut diketahui bahwa mula-mula komik tertua yang diterbitkan di Bandung berkisar di sekitar tahun 1950-an. Sejak saat itu, Bandung dianggap pernah menjadi pusat trend komik di Indinesia, sehingga disebut-sebut sebagai “ibu kota komik”.

Ditinjau dari sisi penerbitannya, pada mulanya, Penerbit Lubuk Pustaka menerbitkan komik seri dongeng anak-anak berjudul Manik Kangkeran dengan ilustrasi oleh A. Ruchijat dan Iwan RS pada April 1953. Kemudian penerbit ini mengeluarkan komik anak-anak Kuntum Jaya, perjuangan bangsa, Ibu Pertiwi dari Masa ke Masa karya R. Moh Ali (penyusun) dan Mardiyanto (pelukis).

AYO BACA : Komik 'Si Juki' Diusahakan Terbit di Thailand

Kemudian, sejak Januari 1954, Penerbit Melodie mulai menerbitkan majalah komik, Melodie Komik, yang terbit setiap tanggal 1 dan 15, sebanyak 32 halaman. Edisi pertamanya menyajikan kisah Nina Gadis Rimba karya Johnlo dan Sri Asih karya RA Kosasih. Pada edisi keduanya, disajikan kisah Putri Bintang (Johnlo), Roban Pemuda Rimba (Johnlo), dan Kusumayati (RA Kosasih). Ada pula informasi  ilmu pengetahuan dan cerita pendek untuk anak-anak SR. Edisi-edisi menyajikan kisah Si Kasih, Ganesa Bangun, Kapten Kilat, Garuda Putih, Roxar. Sementara pada edisi ke-12 terbit komik Siti Gahara (RA Kosasih).

komik-2

Pada 1954 pula, Melodie menerbitkan seri Klasik Indonesia. Tiga edisi awalnya menyajikan kisah Mundinglaya Dikusumah, Lutung Kasarung, dan Sangkuriang oleh RA Kosasih. Cerita wayang mulai diterbitkan pada edisi keempat, yaitu  Arjuna Wiwaha oleh RA Kosasih. Kemudian cerita Damar Wulan dan kemudian Ramayana (RA Kosasih). Kemudian Melodie menerbitkan Aneka Komik yang terbit sebulan tiga kali dan memuat 2-3 cerita. Majalah ini antara lain menyajikan kisah Jakawana karya S. Ardisoma, Sri Asih, Putri Bintang, dan Siti Gahara. Ada juga seri Kisah Bergambar, Kisah Berhikayat Aneka Illustration, dan Cahaya Komik.

Majalah anak Cahaya Komik mulai terbit tahun 1955. Edisi pertamanya memuat certa Si Atong karya LH. Ie. Kemudian cerita Bohim dan Bahar, dan Pak Katung karya Ardisoma. Majalah ini juga memuat rubrik “Ruangan Sastra”, “Mari Ketawa”, “Teka Teki”, “Belajar Menggambar”, “Lagu”, dan “Griya”.

RA Kosasih, Ardisoma, dan Johnlo merupakan komikus andalan Melodie. Johnlo antara lain membuat komik wayang Raden Palasara, Ardisoma dengan karya Ulamsari dan Wayang Purwa, dan Kosasih dengan seri Ramayana, Mahabharata (40 jilid), Pandawa Seda dan Udrayana. Selain mereka ada AR atau Aloen Ruchijat yang membuat Ciung Wanara, Bambang Aladara (bersama Rosady), Dedy Iskandar, Duddy Supardi, Darja Sutisna, Soedomo, Uung Durachman, dan lain-lain.

Langkah Melodie diikuti Cosmos, pada 1954. Mula-mula Cosmos menerbitkan komik Piring Terbang karya Oerip. Untuk seri wayang dan hikayat ada seri Sasaka. Komikus-komikusnya antara lain Abdulsalam dengan karyanya Prabu Mundingwangi (1955), Bagaimana Kota Banyuwangi Mendapatkan Namanya, Asal Terjadinya Desa Karuman (edisi 10), dan Hikayat Dewi Kembang Melati (edisi 5). Kemudian Oerip menggunakan cerita Moech A. Affandie membuat komik Banjar Manila, Jabang Tutuka, Brajamusti (5 jilid), Gatotkaca Sewu, Arjuna Sasrabahu (20 jilid). Sementara cerita Moech A. Affandie juga jadi komik Pakem Ringgit Purwa dan Gedung Sadasa oleh Afif Abdullah serta Bandung Bandawasa oleh Sudarmo.

Melalui keterangan tertulisnya (11/9), Kang Sam, antara lain, menyebutkan bahwa, “Komik wayang di Bandung pada periode itu mungkin mencapai puncaknya pada karya Kosasih dengan Mahabharata 40 jilid, Ramayana 10 jilid, Panjisemirang 20 jilid; Ardisoma dengan Wayang Purwa 22 jilid. Di pihak Cosmos, Arjuna Sasrabahu 25 jilid karya Moech Affandi dengan pelukisnya Oerip. Sebelumnya ada Banjaran Gatotkaca (Jabang Tutuka, Brajamusti dan Gatutkaca Sewu) sekitar 20 jilid.”

Selain itu, Kang Sam menyatakan bahwa Cosmos pernah membuat kisah atau cerita rakyat dengan pelukis nasional/maestro Abdulsalam. Hal ini tentu saja merupakan semacam catatan penting bagi perkembangan komik di Bandung.

Selain kedua penerbit ini, di Bandung tumbuh pula beberapa penerbit komik lainnya, seperti Sipatahunan, Penerbit Sepakat dan Umar Mansoor. Penerbit Umar Mansoor yang beralamat sempat menerbitkan Majalah Gembira yang memuat komik, bahkan menyelenggarakan lomba komik. Selanjutnya, menerbitkan pula seri Komik Gembira, di antaranya cerita Propesor Sulito (No. 1) karya Yus, Biji Kacang Ajaib (No.3, Kusmihady) dan Rimba Hantu (BST), Peti Maut (BST), Tamil dari Bintang Mars (Yus), dan Perbata di Negara Rimbayana (AR).

Pada tahun 1963, Marantha digagas oleh pemilik toko buku dan penggemar komik Marcus Haddy di kawasan Kopo dan setelah Marcus meninggal, sejak 1991, Marantha dilanjutkan oleh istrinya, Erlina Tan. Marcus mencetak lagi komik-komik yang pernah diterbitkan oleh Melodie dengan meminta kepada R.A. Kosasih dan komikus lainnya untuk menggambar ulang karya-karya untuk Melodie, dengan maksud untuk dijual di tokonya.

AYO BACA : Komik Gundala Versi Adaptasi Film Hanya Dicetak 300 Eksemplar

Saat pindah ke Jalan Ciateul, Bandung, pada 1971, Marantha menjadi salah satu sentra komik Indonesia pada dasawarsa 1970-1980-an. Setiap tahunnya, Marantha mencetak lagi 24 karya klasik, yang disebarkan ke toko-toko buku yang ada di Indonesia. Komikus-komikus yang karya diterbitkan Marantha, selain R.A. Kosasih, yaitu Kus Bram, U.Syah, Tatang S., Har, San Wilantara, Rio Purbaya, Shanty Sheeba, serta Rim dan Dewi.
Sekarang Marantha yang berganti nama menjadi Penerbit Erlina ini masih menjual buku-buku komik dengan mencetak ulang karya-karya R.A. Kosasih, komik superhero Labah-labah Merah karya Kus Bram, cerita silat karya U. Syah, komik cerita rakyat, komik humor Petruk-Gareng karya Tatang S., komik saduran kisah HC. Andersen, dan komik-komik sisa percetakan masa lalunya.

Tentang Marantha, Kang Sam mencatat, “Pada 1970-an sudah dimuat tentang Maranatha. Waktu itu ngetrend ‘cerita anak’ karya HC Andersen. Semua memakai nama HC Andersen, bahkan mungkin cerita si Kabayan juga jadi karya HC Andersen. Berbarengan dengan itu muncullah kisah superhero lokal yang diterbitkan Maranatha. Memang Kosasih dan pelukis lama lainnya membuat komik baru yang mutunya jauh lebih jelek dari masa keemasannya, juga kertas dan tintanya, yang melumuri tangan. Sayang mungkin umur juga berpengaruh. Yang dilakukan Maranatha lainnya adalah mengganti ejaan lama ke ejaan baru, yang asal-asalan. Hanya mengganti ‘tj’ jadi ‘c’, ‘dj’ jadi ‘j’ dan ‘j’ jadi ‘y’ saja … sehingga tidak nyaman dibaca, dan tidak laku di kalangan peminat komik atau remaja.”

Ada informasi menarik lainnya dari Kang Sam, ihwal ada masanya tren membuat komik Bandung yang berubah dan berkiblat ke roman-roman terbitan Jakarta. “Trend beralih ke komik roman dari Jakarta, yang kadang-kadang mengarah ke ‘sex’ menurut kacamata penguasa waktu itu, sehingga semua (repeat) komik digolongkan jelek dan harus dibredel serta untuk membuat komik harus dengan izin Penguasa Pelaksana Dwikora Daerah (Pepelrada) kemudian baru polisi,” demikian keterangan Kang Sam.

Mulai Menggeliat Lagi

Setelah memasuki fase kurang produktif, perkembangan komik di Bandung mulai menggeliat lagi pada pertengahan tahun 1990-an, yaitu saat digelar Pasar Seni ITB tahun 1995. Hal ini seiring dengan masuknya pengaruh subkultur indie ke Indonesia. Pada perhelatan tersebut, dari Bandung muncul majalah Qomik Nasional (QN), yang digagas oleh mahasiwa ITB. Dari QN muncul komik Caroq yang dikerjakan Ahmad Thoriq (Thoriq) dan Kapten Bandung oleh Anto Motulz.

Selain QN, pada tahun 1990-an, dengan orientasi komik Jepang, Amerika, Eropa, termasuk dengan konsep novel grafis, para pegiat komik di Bandung mendirikan studio-studio komik, di antaranya Studio Ajaib, Studio Majik, Molotov-indie komik, Bajing Loncat (Balon), dan Komik Hijau.

Perkembangan tersebut yang antara lain memicu penyelenggaraan Pekan Komik Nasional (PKN) oleh Fakultas Sastra Universitas Indonesia (1997), pembentukan Masyarakat Komik Indonesia (15 Maret 1997) dan Kajian Komik Amerika (KKA) di Jakarta, serta Pekan Komik Nasional (PKN) di Stasiun Gambir (1997),di Sastra Universitas Indonesia, Depok (April 1999), serta Agustus 1999 di ITB, Bandung.

Di bidang industri penerbitan buku, sejak 1997 pula, penerbit Mizan di Bandung melalui divisi Dar! (Divisi Anak dan Remaja!) Mizan mulai menerbitkan komik. Hingga awal tahun 2000-an, divisi Mizan ini telah menerbitkan lebih dari 25 penulis, 20 studio, dan 20 ilustrator.

Memasuki tahun 2000-an, komunitas komik di Bandung juga tumbuh mekar, baik komunitas komik kampus maupun nonkampus, seperti Comic Management School (CMS), Funco Unikom, Kosmik ITHB, STSI, Keraton Komik ITB, Komunitas Komik Itenas dan Pakomar Maranatha, Komunitas Cergam Bandung Menyala (KCB) yang berubah menjadi Komikara sejak 2010.

Kegiatan yang berkaitan dengan komik pun menjadi hidup. Contohnya, Keluarga Mahasiswa Seni Rupa (KMSR) ITB yang menyambut Pasar Seni 2006, mengadakan acara “Komik Badag” pada 19-21 Agustus 2006. Kemudian sejak 2009 terselenggara Pasar Komik Bandung yang digagas oleh komunitas komik Komikara. Untuk Pasar Komik Bandung ketiga (2014), Komikara bekerjasama dengan komunitas lainnya. Untuk kali kelimanya (2016), Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang menginisiasi terbentuknya Forum Komik Bandung yang kemudian mendorong diselenggarakannya Pasar komik Bandung ke-5.

Barangkali catatan saya ini, belum mencakup keseluruhan fenomena penerbitan komik di Bandung. Bisa jadi ada yang luput saya masukkan, mungkin saja ada yang terlewat tidak saya catat. Misalnya unsur biografis komikusnya atau pertalian antara komikus dengan penulis narasinya, seperti peran yang dilakukan oleh Moech A. Affandie. Betapa pun, tulisan ini barangkali bisa menjadi semacam perkenalan selintas-kilas terhadap sejarah dan perkembangan komik di Bandung.

Oleh: Atep Kurnia

AYO BACA : 'Warkop DKI Reborn' Kini Tak Libatkan Komika

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar