Yamaha NMax

Ekonom Nilai Kondisi BTN 'Tanpa Pilot' Picu Ketidakpercayaan Publik

  Rabu, 11 September 2019   Nur Khansa Ranawati
Logo BTN. (istimewa)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM--Selang beberapa jam dari pengangkatan dirinya sebagai Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN), Suprajarto--yang sebelumnya menjabat sebagai Diretur Utama Bank Rakyar Indonesia (BRI)--memilih untuk mengundurkan diri. Hal tersebut dilakukan pada Kamis (29/8/2019) malam, selepas pengumuman hasil Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) BTN dilangsungkan.

Dirut sebelumnya, Maryono dicopot setelah menjabat posisi tersebut selama 7 tahun. Saat ini, posisi Pelaksana tugas (Plt) Dirut BTN diisi oleh Oni Febriarto Rahardjo selaku Direktur Commercial Banking. Sehingga, secara definitif, posisi teratas perusahaan tersebut masih kosong.

Ekonom muda Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Bandung Koordinator Jawa Barat, Aditia Febriansyah menilai, hal tersebut sempat memicu kekurangpercayaan publik. Saham yang turun selama 2 pekan selepas RUPSLB menjadi indikatornya.

AYO BACA : NPL BTN Cetak Rekor, Ekonom: Manajemen Kurang Hati-hati

"Kalau kita lihat sejak diumumkan RUPSLB sampai terjadinya pergantian Pak Maryono dan Pak Supra itu saham tergerus. Selama 2 pekan saja itu terjadi, tentu sudah menggambarkan adanya ketidakpercayaan dari publik," ungkapnya.

Dia mengatakan, hal ini tidak serta-merta terjadi. Sebelumnya, bila merujuk pada laporan keuangan BTN pada Juni 2019, nampak terjadi peningkatkan kredit macet yang signifikan pada bank yang berfokus pada bidang properti ini.

Total kredit bermasalah (non performing loan) mencapai Rp8,3 triliun dengan kredit macet alias kolektibilitas 5 sebesar Rp5,94 triliun. Sementara itu, dari sisi rasio, NPL gross pada akhir Juni 2019 berada pada posisi 3,32% naik signifikan dibandingkan setahun sebelumnya yang tercatat 2,78%. Posisi ini merupakan rekor kredit bermasalah dan kredit macet terbesar yang pernah BTN alami sejak berdiri.

AYO BACA : Kredit Bermasalah Cetak Rekor, Ini Kondisi BTN Setelah Ditinggal Maryono

"Perlambatan sudah mulai terasa, mulai dari naiknya NPL hingga turunnya profit di era Pak Maryono. Besar perkiraan ini merupakan salah satu akibat dari perlambatan perekonomian Indonesia dan turunnya bisnis properti," ungkapnya.

Kondisi tersebut ditambah 'drama' pergantian direktur utama dinilai sebagai sebuah konflik yang memicu turunnya kepercayaan publik. Oleh karenanya, hal tersebut memerlukan penanganan yang cepat dan tepat dari para jajaran direksi yang ada.

"Kejadian minggu lalu sudah jadi triger yang membuat BTN ini harus melewati turbulence tanpa pilot. Kondisi ini harus diakui dengan cepat, jangan sampai BTN terbang dalam turbulence berbulan-bulan," ungkapnya.

"Mungkin sebaiknya pihak BTN dapat memberi statement yang menyatakan situasi BTN saat ini seperti apa, sehingga masyarakat dapat diberi kejelasan, terutama karena BTN merupakan tulang punggung kredit perumahan," lanjutnya.

Dirinya juga menyarankan penunjukan direktur baru dapat segera direncanakan, namun sebisa mungkin menunggu hingga kabinet baru pemerintahan Jokowi periode kedua ini terbentuk.

"Jangan sampai terburu-buru lagi, kalau nantinya malah enggak cocok (dengan Menteri BUMN baru) nanti repot," ungkapnya.

AYO BACA : Curhatan Mantan Bos BRI Suprajarto yang Menolak Jadi Dirut BTN

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar