Yamaha Lexi

Belerang Tangkuban Parahu Turun ke Cekungan Bandung

  Rabu, 11 September 2019   Tri Junari
Erupsi Tangkuban Parahu. (ayobandung)

NGAMPRAH, AYOBANDUNG.COM -- Sebagian warga Kota Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat mencium bau belerang cukup pekat yang diduga berasal dari erupsi kawah ratu Gunung Tangkuban Parahu, Rabu (11/9/2019) sore.

Informasi yang dihimpun Ayobandung.com bau khas belerang tercium warga di Kelurahan Cipageran Kecamatan Cimahi Utara Kota Cimahi, berjarak kurang lebih 21 kilometer sebelah barat daya kawah ratu.

Bau belerang juga turun dari Kawah Ratu Tangkuban Parahu di ketinggian 2084 meter diatas permukaan laut ke sekitar Kota Bandung bagian utara seperti Dago Pakar dan Jalan Setiabudi

Begitu juga di Kecamatan Ngamprah, Batujajar, dan Padalarang Kabupaten Bandung Barat, aroma kurang sedap belerang tercium sangat pekat mulai pukul 16.00 WIB. Sementara jarak Padalarang-Tangkuban Parahu sekitar 26 kilometer jauhnya.

Adi Haryanto (45) warga Batujajar Regency mencium bau belerang sejak sore. Hingga pukul 19.00 WIB bau belerang masih tercium pekat di hidung.

"Mungkin dari Tangkuban Parahu ya, soalnya angin juga agak kencang hari ini,"ucap Adi, Rabu (11/9/2019) malam.

Sri Suryani (37) warga kelurahan Cipageran Kota Cimahi juga mengatakan hal sama, bau belerang muncul sekira pukul 16.00 WIB dan hingga kini masih belum hilang.

"Saya nyangkanya bau selokan, tapi ternyata warga di daerah Ngamprah juga nyium belerang juga,"kata dia.

Sementara itu, Kabid Mitigasi Gunung Api PVMBG, Hendra Gunawan menerangkan kondisi terakhir erupsi Tangkuban Parahu pada pukul 06.00-12.00 WIB terjadi tremor Menerus (Microtremor) terekam dengan amplitudo 15-45 mm (dominan 25 mm).

"Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas sedang-tebal dan tinggi lk 20-120 meter dari dasar kawah,"kata dia saat dihubungi via pesan singkat, Rabu (11/9/2019) malam.

Selain itu, pada jam tersebut angin bertiup sedang ke arah selatan. Suhu udara 18-21 °C dan kelembaban udara 0-0 %, dan tekanan udara 0-0 mmHg. 

"Angin cenderung ke arah selatan, seperti Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat, aktivitas vulkani cukup tinggi,"jelasnya.

Meski enggan menyebut bau itu terbawa angin dari Tangkuban Parahu, Kepala Stasiun Geofisika BMKG Bandung, Tony Agus Wijaya mengatakan, pada masa peralihan dari musim kemarau ke musim hujan, terdapat potensi peningkatan kecepatan angin karena perbedaan tekanan udara dan dampak adanya awan Cumulonimbus (awan hitam berlapis).

"Hal ini yang menyebabkan angin kencang dalam skala lokal dan waktu singkat, kurang dari 10 menit," tandasnya.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar