Yamaha NMax

Kamu Tidak Sendiri

  Rabu, 11 September 2019   Rizma Riyandi
Ilustrasi

“Ih gendutan, makannya banyak banget sih kaya beruang”
“Kamu bisanya apa sih? Semua yang kamu lakuin ngga pernah bener. Mana bisa kamu berhasil”
“Mending kamu mati aja, nggak ada yang peduli sama kamu”

Kadang, apa yang kita anggap bercanda belum tentu dianggap bercanda bagi yang mendengar. Sampai-sampai kita nggak tau kalau kata-kata yang keluar dari mulut kita adalah pisau untuk mereka.

Apa kamu tau kalau dia banyak makan karena menutupi kesedihannya?
Apa kamu tau apa saja usaha yang dia lakukan sampai dia salah dan gagal?
Apa kamu tau kalau kata-katamu sangat didengar olehnya, hingga membuat dirinya mencoba untuk mengabulkan kata-katamu?

Setidaknya, jagalah ucapanmu sebelum lidahmu menyakiti seseorang.

World Suicide Prevention Day

Di Indonesia setidaknya ada satu orang dalam satu jam yang bunuh diri. Dilansir dari Beritagar.id, menurut catatan World Health Organization (WHO) yang merujuk data 1 mei 2018, angka ini menempatkan Indonesia pada posisi 103 dari 183 negara dan sembilan di ASEAN. Merujuk analisis berita dari beragam kanal, tim jurnalis Beritagar.id mendapati 302 kasus bunuh diri sejak Januari hingga September 2019 yang terpublish. Kasus bunuh diri paling tinggi pada bulan Januari dan Februri yakni 55 kasus. Dari ke-302 kasus tersebut, tahukah kamu bahwa masih banyak kasus percobaan bunuh diri hingga bunuh diri di Indonesia bahkan di dunia.

International Association for Suicide Prevention (IASP) bekerjasama dengan World Health Organization (WHO) dan World Federation for Mental Health (WFMH) menginisiasikan 10 september menjadi hari yang diperingati sebagai World Suicide Prevention Day (WSPD) sejak tahun 2003 disetiap tahunnya. Peringatan tahunan itu dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan kesehatan mental terutama percobaan bunuh diri. Dilansir dari situs WHO, tahun ini WSPD mengangkat tema Working Together to Prevent Suicide atau bekerja sama untuk mengantisipasi kejadian bunuh diri.

Lantas, apa yang sebenarnya menjadi pemicu bunuh diri? Laporan WHO menjelaskan pemicu bunuh diri salah satunya adalah depresi. Pemicu lainnya adalah masalah ekonomi, percintaan, trauma, penyakit yang diderita, dan lain sebagainya. Semua orang bisa mengalaminya, tidak melihat status ekonomi dan sosial. Namun semua orang juga bisa bergerak untuk mencegah. Saya, kamu, kita semua dapat membantu mereka mencegah bunuh diri, seperti:

1. Jangan anggap sepelekan obrolan terkait keinginan bunuh diri
2. Jauhkan mereka dari benda berbahaya
3. Jadilah pendengar yang baik
4. Dampingi, beritahukan keluarga atau kerabat yang peduli
5. Sarankan untuk mengunjungi terapis
6. Cari pertolongan
7. Jika sudah berada ditangan tenaga ahli, bukan berari kamu melepasnya. Tetaplah menjalani kontak untuk mengetahui perkembangan.

Dan Untuk Kamu Yang Sedang Merasa Sendiri
Halo, bagaimana harimu hari ini? Sudah makan kan? Kalau belum, yuk makan dulu.
Kamu kenapa? Lagi ngerasa kesepian? Lagi patah hati? Merasa bersalah? Malu? Takut? Kangen seseorang? Lagi ngga punya uang? Sakit hati? Kecewa? Marah? Sedih? Butuh pundak? Butuh pelukan?

Aku tau, aku nggak akan pernah ngerti apa yang kamu rasakan atau apa yang kamu alami karena aku ngga ada diposisi kamu. Tapi kamu harus tau kalau kamu ngga sendirian.
Dia bohong saat dia bilang kamu nggak berguna. Dia bohong waktu dia bilang semua yang kamu lakuin itu nggak bener. Dia juga bohong saat dia bilang nggak ada yang peduli sama kamu.

Aku tahu ini berat. Kamu ingin menangis? Menangislah, jangan ditahan. Kamu tidak perlu menahannya sendirian, ada aku disini. Kamu tau kan, aku nggak akan pernah capek buat dengerin kamu? Aku akan selalu dengerin keluh kesah kamu. Aku juga nggak akan tinggalin kamu. Aku mau kamu tau kalau aku peduli.

Coba deh tarik napas dalam-dalam lalu hembuskan perlahan. Tenangin dirimu sebentar. Inget nggak kapan terakhir kali kamu tertawa? Ceritain dong sama aku, kenapa waktu itu kamu tertawa? Pasti seneng banget ya? Aku kangen banget loh sama senyummu! Begitupun dengan semua orang yang ada dilingkunganmu, aku yakin mereka rindu dengan keceriaanmu. Kamu punya buku diary? Album foto? Atau foto-foto di handphone mu? Coba deh buka, peristiwa apa sih yang paling membuatmu bahagia dan paling berkesan? Aku pengen banget denger cerita kamu dan melihat senyummu lagi.

Aku berharap dan aku yakin suatu saat nanti semuanya akan kembali baik. Jadi, menangislah. Akan ada waktunya untuk kamu kembali tersenyum dan tertawa lagi. Dan aku harap suatu hari nanti kamu bisa bilang “aku baik baik saja” dengan kejujuranmu. Karena yakinlah, kamu akan baik-baik saja. Stay here with us!

Devana Pavitra Kinta
Mahasiswi Jurnalistik, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar